Menu

Mode Gelap
Di Balik Lahan Tebu Kediri: Audit Operasional PT SGN untuk Jaga Kualitas Gula Negeri Tradisi Gantungan Jajan SMAN Tegalombo: Ajang Umat Islam Pacitan Perkuat Akhlak Mulia Dari Sidoarjo ke Lumajang: LPCRPM Siapkan Pelatihan Marbot untuk 56 Masjid Muhammadiyah Motor Listrik Polytron: Tembus 70.000 Pengguna, Siap Gebrak GIIAS Surabaya 2026 Strategi Komprehensif SMA Muhi Antar 269 Lulusan ke PTN dan Kampus Global Merawat Cinta di Layar Kaca: Jejak Ning Margaret dan Pesan Kultural Fatayat NU di Jombang

Pendidikan

Jejak Intelektual Gus Hayid: Mengurai Visi NU Abad Kedua dalam Tiga Jilid Komprehensif

badge-check


					Jejak Intelektual Gus Hayid: Mengurai Visi NU Abad Kedua dalam Tiga Jilid Komprehensif Perbesar

KlikMojok – Di tengah riuh rendah perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, sebuah suara intelektual baru menggema. Bukan orasi di mimbar utama, melainkan dari tumpukan halaman-halaman yang merangkai gagasan besar: karya berseri tiga jilid bertajuk ‘NU Abad Kedua’ buah pena Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, atau akrab disapa Gus Hayid. Kehadiran buku ini segera menyedot perhatian kalangan akademisi, menawarkan peta jalan pemikiran yang komprehensif untuk menatap masa depan jamiyyah.

Pujian tulus datang dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, yang menilai karya tersebut bukan sekadar buku, melainkan sebuah mahakarya intelektual yang komprehensif dan berbobot tinggi. Dr. H. Yusuf Amrozi, salah seorang Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur sekaligus dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, menjadi salah satu suara yang lantang mengapresiasi kedalaman riset dan struktur narasi ilmiah yang solid dalam setiap jilidnya, bahkan hingga jajaran daftar pustakanya. “Ini produk intelektual yang luar biasa. Produk intelektual yang saya kira sangat serius,” ujar Yusuf Amrozi usai mengikuti agenda Bedah Buku NU Abad Kedua di Jombang.

Yusuf Amrozi menekankan bahwa rekam jejak pembahasan dalam buku tiga jilid ini tersusun dalam 12 bab komprehensif, yang dengan cermat membedah arah strategis jamiyyah Nahdlatul Ulama dalam menyongsong abad keduanya. Lebih dari sekadar deskripsi, karya ini menawarkan analisis mendalam tentang tantangan dan peluang yang menanti. “Tadi saya melihat narasi isinya, strukturnya, sampai daftar pustakanya. Saya kira juga layak untuk menjadi referensi akademik NU ke depan,” tuturnya, menggarisbawahi potensi besar buku ini sebagai fondasi kajian keilmuan NU di masa mendatang.

Menariknya, meskipun dibingkai dengan standar pengkajian akademis yang disiplin dan ketat, bahasa penyampaian yang digunakan Gus Hayid dinilai tetap luwes dan ramah. Ini memungkinkan publik nahdliyin secara luas, dari berbagai latar belakang, untuk memahami esensi gagasan yang disampaikan tanpa terhalang oleh jargon ilmiah yang rumit. “Buku ini menurut saya cukup akademik, standarnya standar dosen, standar akademisi. Walaupun para peminat atau publik secara umum juga dapat memahami isi buku ini, karena saya lihat kalimatnya juga bukan kalimat yang terlalu sulit,” jelas Yusuf, menyoroti keberhasilan Gus Hayid dalam menjembatani dunia akademik dengan khalayak umum.

Dalam eksplorasinya yang mendalam, Yusuf Amrozi secara khusus menggarisbawahi salah satu bab krusial dalam buku yang menguliti strategi penataan sumber daya manusia melalui perbaikan sektor pendidikan. Bab ketiga, yang berjudul ‘Pendidikan sebagai Proses Kemajuan’, membahas secara tuntas tantangan-tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, serta menguraikan peran vital para pemangku kepentingan internal NU dalam merumuskan solusi. “Misalnya di bab tiga, judulnya ‘Pendidikan sebagai Proses Kemajuan’, membahas tantangan pendidikan, peran stakeholder internal dan sebagainya. Sehingga nanti bagaimana membangun SDM ke depan,” katanya, menyoroti bagaimana visi Gus Hayid bisa menjadi panduan praktis bagi Nahdlatul Ulama dalam menyiapkan generasi penerus yang unggul dan berdaya saing.

Berkat dedikasi yang tak tergoyahkan dan keluasan wawasan yang dituangkan dalam karya monumental tersebut, Yusuf Amrozi tak ragu menyematkan julukan istimewa kepada pengarangnya sebagai pelopor kajian NU Studies. Sebuah pengakuan atas kontribusi yang melampaui batas-batas penulisan biasa. “Secara keseluruhan saya, Yusuf Amrozi, menjuluki Gus Hayid itu profesor baru, profesor NU yang baru. Karena beliau membuat buku yang sebagai NU Studies abad ke-2,” tutup Yusuf, menegaskan posisi Gus Hayid sebagai arsitek pemikiran yang akan membentuk diskursus Nahdlatul Ulama di abad kedua kelahirannya.

Karya ‘NU Abad Kedua’ bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan sebuah mercusuar pemikiran yang menerangi jalan bagi Nahdlatul Ulama dalam menghadapi kompleksitas zaman. Di tengah dinamika sosial dan tantangan global, kehadiran buku ini menjadi pengingat akan pentingnya fondasi intelektual yang kokoh, sebuah kompas yang menuntun jamiyyah menuju masa depan yang lebih cerah, berlandaskan nilai-nilai luhur dan semangat kemajuan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Balik Lahan Tebu Kediri: Audit Operasional PT SGN untuk Jaga Kualitas Gula Negeri

29 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Tradisi Gantungan Jajan SMAN Tegalombo: Ajang Umat Islam Pacitan Perkuat Akhlak Mulia

29 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Dari Sidoarjo ke Lumajang: LPCRPM Siapkan Pelatihan Marbot untuk 56 Masjid Muhammadiyah

29 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Strategi Komprehensif SMA Muhi Antar 269 Lulusan ke PTN dan Kampus Global

29 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Merawat Cinta di Layar Kaca: Jejak Ning Margaret dan Pesan Kultural Fatayat NU di Jombang

29 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Trending di Pendidikan