KlikMojok – Pada Selasa (15/9/2026), Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur memperpanjang kerja sama dengan American College Testing (ACT). Perjanjian kerja sama ini berfokus pada pengembangan kelas internasional di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Perpanjangan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut menegaskan sebuah visi yang lebih besar: siswa Muhammadiyah tidak hanya ditargetkan mahir berbahasa Inggris, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk berkompetisi dan memenangkan persaingan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ini merupakan bagian integral dari upaya menyiapkan peserta didik agar siap menghadapi tantangan kehidupan global yang semakin kompleks.
Dr. Eko Hardiansyah, yang menjabat sebagai Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim, menjelaskan bahwa pengembangan kelas internasional di sekolah Muhammadiyah bukan sekadar mengejar gengsi semata. Menurutnya, program tersebut justru harus menjadi bagian dari ikhtiar sekolah dalam membekali peserta didik untuk menghadapi realitas kehidupan yang tidak baik-baik saja dan semakin kompleks.
“Kelas internasional ini sebenarnya bukan sekadar untuk gaya-gayaan. Ini untuk meningkatkan kompetensi siswa Muhammadiyah, agar mereka siap menghadapi tantangan kehidupan yang sedang tidak baik-baik saja,” ujar Dr. Eko Hardiansyah.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat penting bagi lembaga pendidikan bahwa tugas sekolah tidak cukup hanya membuat anak pintar dalam mengerjakan soal. Lebih dari itu, sekolah harus membekali mereka dengan kemampuan fundamental yang krusial, yaitu kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, berkomunikasi, dan memenangkan persaingan di berbagai bidang.
Ani Sulianti, PIC ACT, menyambut baik kelanjutan perpanjangan kerja sama antara ACT dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim ini. Ia menyampaikan harapannya agar kolaborasi yang telah terjalin sejak tahun 2013 tersebut dapat terus memberikan manfaat yang signifikan bagi seluruh lembaga yang terlibat.
“Semoga kerja sama ini membawa kebaikan untuk semua lembaga. Terima kasih untuk komitmen yang sudah terjalin sejak tahun 2013,” kata Ani Sulianti.
Bagi Muhammadiyah, kerja sama semacam ini memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar perpanjangan dokumen formalitas. Ada harapan besar agar program yang telah berjalan dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata dalam peningkatan kualitas, baik bagi sekolah, guru, maupun siswa.
Prof. Khozin, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim, turut membagikan mimpinya terkait prestasi siswa. Ia bercerita tentang pengalamannya ketika menerima undangan untuk menghadiri pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional. Dari momentum tersebut, muncul sebuah cita-cita: suatu saat nanti, deretan nama siswa berprestasi dalam OSN tingkat nasional juga dapat dipenuhi oleh siswa-siswa Muhammadiyah.
Namun, Prof. Khozin menegaskan bahwa prestasi gemilang semacam itu tidak bisa dibangun secara instan. Bibit terbaik harus dipersiapkan sejak dari hulu, yaitu sejak usia dini. “Dicari siswa terbaik di tingkat SD dan berikan beasiswa penuh. Kalau perlu, gratiskan asramanya,” tegas Prof. Khozin.
Ia menambahkan bahwa beasiswa saja tidaklah cukup untuk mencapai tujuan tersebut. Pembinaan juga harus disiapkan dengan kualitas terbaik agar orang tua merasa tenang dan yakin ketika mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah Muhammadiyah. “Jangan takut memberikan beasiswa, karena nanti ada keberkahan,” pesannya.
Prof. Khozin mengibaratkan keberkahan itu seperti “pasukan senyap” yang bekerja tanpa banyak terlihat secara kasat mata. Ia menggambarkan bahwa bantuan ini mirip pertolongan malaikat yang datang ketika sebuah lembaga sungguh-sungguh berbuat baik dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Keberkahan itu seperti pasukan senyap. Inilah bantuan-bantuan malaikat yang akan menjadikan sekolah kita semakin berkembang,” tuturnya.
Menurut Prof. Khozin, tagline Muhammadiyah sebagai gerakan berkemajuan tidak boleh berhenti hanya sebagai slogan. Berkemajuan, lanjutnya, juga berarti memiliki keberanian untuk membantu, melakukan perbaikan, dan terus melakukan inovasi secara berkelanjutan.
“Sekolah Muhammadiyah memiliki tagline berkemajuan. Maknanya suka menolong. Maka teruslah melakukan perbaikan-perbaikan dan inovasi di sekolah hingga keberkahan itu tembus ke langit dan menghadirkan pasukan senyap itu untuk menolong sekolah kita,” ujarnya.
Oleh karena itu, sekolah Muhammadiyah diminta untuk tidak cepat merasa puas dengan capaian yang ada. Setiap program yang dijalankan harus dievaluasi secara berkala, dikembangkan lebih lanjut, dan diarahkan untuk selalu menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah. Hal ini termasuk dalam upaya pengembangan kelas internasional yang saat ini dijalankan melalui program M-ICO.
Prof. Khozin kembali memberikan penekanan khusus pada kemampuan bahasa Inggris siswa Muhammadiyah. Baginya, target sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya berhenti pada penguasaan atau kemampuan menggunakan bahasa asing saja.
“Bahasa Inggris itu jangan sekadar ada, tetapi targetnya menang. Siswa kita harus fight,” tegasnya, mengulang pesan penting tersebut untuk memperkuat visi.
Untuk menuju ke sana, peningkatan kualitas guru menjadi bagian yang tidak bisa ditawar. ACT diharapkan dapat terus menyediakan layanan pelatihan yang berkelanjutan, sehingga kompetensi guru selalu diperbarui dan relevan dengan perkembangan zaman. Guru tidak boleh berhenti belajar; kemampuan pedagogis mereka harus terus berkembang seiring dengan perubahan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Selain itu, Prof. Khozin juga mengingatkan agar para PIC M-ICO (person in charge program kelas internasional) tidak dibebani terlalu banyak tugas lain. Mereka perlu diberi ruang dan fokus penuh untuk mengembangkan program internasional di sekolah, sehingga hasilnya dapat lebih maksimal dan sesuai dengan target yang ditetapkan.
Pada intinya, perpanjangan kerja sama antara ACT dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim ini melampaui sekadar kelanjutan sebuah program. Ada cita-cita besar yang ingin dicapai: menyiapkan generasi muda Muhammadiyah agar kelak tidak hanya menjadi penonton dalam sengitnya persaingan global, tetapi menjadi pelaku yang aktif dan pemenang.
Sebab, mungkin hari ini mereka masih duduk di bangku sekolah. Tetapi dari sanalah benih-benih mimpi besar itu sedang disemai—melalui guru yang tak henti belajar, sekolah yang berani berinovasi, dan lembaga yang tidak pernah takut untuk menanam kebaikan. Sebagaimana pesan Prof. Khozin, jangan pernah takut menanam kebaikan. Bisa jadi, ketika manusia tidak melihat hasilnya hari ini, “pasukan senyap” keberkahan sedang bekerja dari arah yang tidak pernah kita sangka untuk mewujudkan kemajuan.












