KlikMojok – Konsep “Satu Hati” menjadi fondasi utama budaya kerja bagi seluruh karyawan Rumah Sakit Umum (RSU) Muhammadiyah Lumajang. Penguatan budaya ini dilakukan melalui sebuah acara penting, Baitul Arqam.
Pada Sabtu, 12 September 2026, suasana di Rumah Makan Alka, Lumajang, terlihat penuh antusiasme saat para karyawan RSU Muhammadiyah Lumajang berkumpul untuk mengikuti kegiatan Baitul Arqam. Mereka duduk berderet, menunjukkan kesiapan untuk menyerap materi yang akan disampaikan.
Agenda ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah momen krusial untuk menata kembali esensi niat bekerja. Para peserta diajak merefleksikan kembali tujuan utama pekerjaan mereka dan kepada siapa sesungguhnya pengabdian itu ditujukan.
Di hadapan seluruh peserta, dr. Halimi Maksum, MMRS, selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, mengajak seluruh keluarga besar rumah sakit untuk memahami pekerjaan dari perspektif yang lebih mendalam.
Menurut dr. Halimi, RSU Muhammadiyah Lumajang bukan hanya sekadar tempat untuk mencari penghasilan. Lebih dari itu, ia memandang rumah sakit sebagai medan dakwah dan ladang ibadah yang harus dijaga dan dihidupi bersama oleh setiap insan di dalamnya.
Selain dr. Halimi Maksum, kegiatan Baitul Arqam ini turut menghadirkan Drs. Zainal Abidin, Sekretaris PDM Lumajang, dan Ustaz Safii Dahlan, Ketua Majelis Tarjih PDM Lumajang. Keduanya memberikan penguatan ideologi Persyarikatan Muhammadiyah serta menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan kepada seluruh karyawan RSU Muhammadiyah Lumajang.
Dalam sesi materi yang bertajuk “Etos Kerja sebagai Ibadah: Membangun Budaya Kerja Satu Hati untuk Profesionalisme dan Nilai Spiritual dalam Layanan Kesehatan,” dr. Halimi mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan kembali sejarah panjang pendirian RSU Muhammadiyah Lumajang.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan rumah sakit ini bukanlah hasil instan. Gagasan untuk mendirikannya telah dirintis sejak tahun 2010, menunjukkan proses yang panjang dan penuh tantangan.
Berbagai keterbatasan dan kendala harus dilalui selama satu dekade penuh. Namun, perjuangan tersebut membuahkan hasil, hingga akhirnya pada tahun 2020, RSU Muhammadiyah Lumajang secara resmi mulai beroperasi dan melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Rumah sakit ini berdiri bukan karena kerja satu atau dua orang, tetapi karena perjuangan banyak pihak yang rela berkorban. Karena itu jangan sampai kita hanya menjadi orang yang bekerja, tetapi kehilangan semangat perjuangan,” ujar dr. Halimi, menekankan pentingnya mempertahankan etos juang.
Selama enam tahun perjalanannya, rumah sakit ini menghadapi berbagai tantangan signifikan. Tantangan tersebut meliputi persoalan keuangan, keterbatasan jumlah tenaga dokter spesialis, serta tuntutan efisiensi pelayanan yang tinggi di era BPJS. Semua ini, menurutnya, adalah ujian yang mesti dihadapi secara kolektif.
Namun demikian, dr. Halimi berpendapat bahwa tantangan terbesar justru berasal dari internal, yakni dari dalam diri setiap individu manusia.
Dalam nada reflektif, dr. Halimi mengungkapkan bahwa manajemen rumah sakit belum lama ini mendapati fakta adanya beberapa staf yang berupaya melamar pekerjaan ke institusi rumah sakit lain.
Ia menegaskan bahwa temuan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pihak mana pun, melainkan sebagai bahan muhasabah atau introspeksi bersama bagi seluruh elemen di RSU Muhammadiyah Lumajang.
“Apakah rumah sakit ini hanya dipandang sebagai tempat mencari penghasilan, atau benar-benar menjadi tempat kita berjuang dan beribadah untuk Persyarikatan?” tanyanya di hadapan para peserta, memicu refleksi mendalam.
Dari pertanyaan reflektif tersebut, lahirlah sebuah konsep budaya kerja yang kemudian diperkenalkan dan dikukuhkan kepada seluruh insan RSU Muhammadiyah Lumajang, yaitu “Satu Hati”.
Menurut penjelasan dr. Halimi, budaya kerja “Satu Hati” ini bukanlah sekadar slogan yang terpampang di dinding rumah sakit. Lebih dari itu, ia adalah serangkaian perilaku dan nilai yang harus diinternalisasi dan diwujudkan dalam setiap interaksi serta pelayanan kepada pasien.
Akronim “Satu Hati” memiliki makna mendalam. Huruf SA melambangkan Salam, yang berarti kewajiban untuk menyambut setiap pasien dengan senyum, keramahan, dan ketenangan, dimulai sejak momen pertama kedatangan mereka di rumah sakit.
Selanjutnya, huruf Tu bermakna Tulus, yaitu semangat melayani pasien dengan hati yang ikhlas, melampaui sekadar pelaksanaan prosedur operasional standar.
Huruf Ha merepresentasikan Harmoni, yang mengacu pada kemampuan seluruh unit kerja untuk saling terhubung, saling menghargai, dan saling melengkapi. Kolaborasi ini esensial demi tercapainya keselamatan dan kenyamanan pasien.
Terakhir, huruf Ti dimaknai sebagai Empati, yaitu kemampuan untuk menghadirkan kepedulian yang mendalam. Empati ini harus dibangun di atas dasar kompetensi profesional yang kuat serta berlandaskan nilai-nilai Islami dalam setiap tindakan pelayanan.
Untuk memastikan konsep “Satu Hati” tidak hanya berhenti pada tataran teori, dr. Halimi memberikan gambaran konkret tentang bagaimana budaya ini diimplementasikan. Ia mencontohkan penerapannya saat seorang pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dalam skenario IGD, pasien bukanlah tanggung jawab eksklusif dokter atau perawat semata. Sebaliknya, seluruh elemen, mulai dari satpam, petugas administrasi, staf laboratorium, radiologi, farmasi, transporter, tim ruang operasi, laundry, hingga staf dapur, memiliki peran yang sama pentingnya dalam memastikan pelayanan terbaik kepada pasien.
“Setiap pasien yang datang adalah pasien milik seluruh unit di rumah sakit. Semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai tugasnya masing-masing,” tegas dr. Halimi, menekankan pentingnya kepemilikan bersama terhadap setiap pasien.
Bagi dr. Halimi, keempat nilai yang terkandung dalam “Satu Hati” ini sejatinya merupakan manifestasi dan penerjemahan langsung dari ajaran-ajaran Islam ke dalam konteks dunia kerja.
Salam, misalnya, adalah sunnah Rasulullah Saw yang senantiasa membawa kedamaian dan keberkahan.
Tulus mencerminkan bentuk keikhlasan dalam bekerja semata-mata karena Allah Swt.
Sementara itu, Harmoni adalah perwujudan dari nilai ukhuwah (persaudaraan) dan ta’awun (saling menolong) dalam berinteraksi antar sesama.
Dan Empati merupakan praktik ihsan, yaitu memberikan pelayanan yang terbaik dengan penuh kepedulian serta profesionalisme yang tinggi.
Oleh karena itu, dr. Halimi menyatakan bahwa ketika seorang karyawan menjalankan nilai-nilai “Satu Hati” ini dengan sungguh-sungguh, ia tidak hanya sedang memenuhi standar operasional rumah sakit, melainkan juga sedang menunaikan ibadah kepada Allah Swt.
Menutup penyampaian materinya, Ketua PDM Lumajang tersebut mengajak seluruh keluarga besar RSU Muhammadiyah Lumajang untuk memperbarui dan memperkuat komitmen bersama.
Komitmen tersebut meliputi pandangan bahwa bekerja tidak hanya semata-mata untuk mencari penghasilan, tetapi juga sebagai jalan dakwah. Ini berarti menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya profesional, tetapi juga kaya akan nilai spiritual.
“Rumah sakit ini,” katanya, “telah dibangun dari doa, pengorbanan, dan kesabaran selama bertahun-tahun.” Kini, estafet perjuangan untuk menghidupkan dan mengembangkan rumah sakit ini berada di tangan para karyawan, yang setiap hari melayani masyarakat.
Dalam ruang Baitul Arqam tersebut, para peserta tidak sekadar mempelajari teknologi kesehatan terbaru atau meningkatkan keterampilan medis semata.
Lebih dari itu, mereka diajak untuk mengingat kembali esensi dan alasan fundamental di balik pendirian rumah sakit oleh Muhammadiyah. Tujuannya adalah menghadirkan layanan kesehatan yang unggul dan berkemajuan, sekaligus menjadikannya bagian integral dari dakwah amar makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Pada akhirnya, kesembuhan pasien tidak hanya bergantung pada obat-obatan dan tindakan medis. Kesembuhan juga tumbuh dan berkembang dari senyum yang tulus, kerja sama yang harmonis di antara tim, serta empati yang diberikan dengan sepenuh hati oleh setiap petugas.
Dengan demikian, dari nilai-nilai luhur inilah budaya “Satu Hati” diharapkan dapat menjadi napas baru dalam setiap pelayanan RSU Muhammadiyah Lumajang. Setiap langkah yang dilakukan oleh seluruh insan rumah sakit diharapkan tidak hanya bernilai profesional, tetapi juga menjadi amal ibadah yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada ridha Allah Swt.












