KlikMojok – Khotimatuzahro, S.Pd., pernah merasakan kekhawatiran mendalam atas kebiasaan putranya, Muhammad Iqbal Habibie. Iqbal, yang kala itu masih remaja, kerap menghabiskan waktu siang dan malam untuk bermain Mobile Legends, seringkali di kafe dan bahkan mengabaikan jam tidurnya. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga di luar, membuat orang tuanya cemas akan masa depannya.
Yang lebih mengkhawatirkan bagi orang tua Iqbal adalah dampak kebiasaan bermain gim tersebut terhadap pendidikannya. Iqbal pernah diketahui berangkat dari rumah dengan seragam sekolah, namun tujuannya bukan kelas, melainkan kafe untuk bermain gim. “Sekolah sering bolos. Berangkat dari rumah pakai seragam, tetapi ternyata tidak sampai sekolah. Perginya ke kafe,” cerita Khotim, sapaan akrab ibunya, pada Rabu (16/9/26).
Kegiatan belajar hampir tidak tersentuh oleh Iqbal. Malam hari dihabiskan untuk bermain gim, begitu pula siang hari. Pihak sekolah sampai memanggilnya beberapa kali melalui guru Bimbingan dan Konseling (BK). Bahkan, Iqbal pernah mendapat peringatan keras bahwa ia tidak akan diizinkan mengikuti ujian jika terus-menerus bolos.
Nasihat dari orang tua pun tidak selalu diterima dengan baik oleh Iqbal. Menurut penuturan Khotim, saat ditegur, Iqbal bisa menunjukkan kemarahan dan memilih pergi dari rumah. Pernah suatu ketika, ia tidak pulang selama tiga hari dan memblokir nomor telepon anggota keluarganya. “Kalau ditegur, marah dan pergi. Pernah sampai tidak pulang tiga hari. Waktu itu sulit sekali dinasihati,” ujarnya.
Namun, kini keseharian Iqbal telah berubah secara drastis. Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember (Unej) angkatan 2026, ia kini disibukkan dengan tumpukan buku, materi kuliah, sesi tutorial, diskusi kelompok, serta jadwal belajar yang padat dan menuntut.
Perubahan signifikan ini tentu tidak terjadi dalam waktu semalam. Sebelum mengenakan jas almamater mahasiswa kedokteran, Iqbal pernah tenggelam sangat dalam di dunia gim. Iqbal bukan sekadar pemain Mobile Legends biasa yang mengisi waktu luang; kemampuannya bermain membawanya berkompetisi di berbagai turnamen.
Ia tercatat pernah menjuarai turnamen Mobile Legends yang diselenggarakan oleh UM, KAI, dan Polres Lamongan. Selain aktif bertanding, Iqbal juga menawarkan jasa menaikkan peringkat akun pemain lain, yang dikenal sebagai joki. Aktivitas ini menghasilkan pendapatan yang cukup besar untuk seorang pelajar. Dari hadiah turnamen dan jasa joki, Iqbal diperkirakan mengumpulkan uang sekitar Rp50 juta.
Bagi seorang remaja, jumlah uang tersebut tentu sangat menarik. Bermain gim yang semula hanya untuk kesenangan, ternyata dapat menghasilkan keuntungan finansial. Namun, di rumah, orang tuanya melihat sisi lain dari persoalan ini. Prestasi di turnamen tidak menghilangkan kekhawatiran mereka. Sekolah mulai terganggu, jam tidur menjadi tidak teratur, dan hubungan dengan keluarga beberapa kali memanas.
Iqbal sendiri mengakui bahwa Mobile Legends pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya sehari-hari. Ia menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan menjadi joki akun orang lain. Seiring bertambahnya usia, ia mulai memikirkan langkah selanjutnya setelah menyelesaikan sekolah. Pada masa inilah, pilihan mengenai masa depan mulai muncul di benaknya.
Salah satu sosok yang banyak memberikan dorongan kepada Iqbal untuk berubah adalah kakaknya, Ananda Aliza Nurul Islami, yang juga merupakan alumni Fakultas Kedokteran Unej. Ketika Iqbal mulai mempertimbangkan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, kakaknya terus memberikan dukungan penuh. Ananda meyakinkan Iqbal bahwa ia memiliki kemampuan untuk menjalani pendidikan kedokteran, meskipun prosesnya akan sangat menantang dan tidak mudah.
“Ketika saya merasa ragu atau menghadapi kesulitan, dukungan dari kakak menjadi salah satu hal yang mengingatkan saya untuk tetap berusaha dan tidak mudah menyerah,” kata Iqbal. Dukungan dari keluarga ini secara perlahan membuat putra dari pasangan Drs. Ali Safi’in, S.Pd., M.M., dan Khotimatuzahro, S.Pd., tersebut semakin berani dalam menentukan pilihan hidupnya.
Iqbal mulai menyadari bahwa waktunya tidak bisa terus-menerus dihabiskan untuk bermain gim. “Saya harus mulai menentukan prioritas. Waktu yang saya miliki harus digunakan untuk mempersiapkan masa depan,” tuturnya. Keputusan untuk beralih ke jurusan kedokteran juga berarti ia harus berdamai dengan kebiasaan lamanya. Iqbal tidak serta-merta berhenti menyukai gim, namun porsinya harus diubah secara signifikan. Baginya, bermain gim tidak lagi bisa dilakukan tanpa batas seperti dahulu.
Jalan menuju Fakultas Kedokteran ternyata tidak langsung ditempuh Iqbal setelah lulus SMA. Muhammad Iqbal Habibie, yang lahir pada 5 November 2007, mengawali pendidikannya di MI Muhammadiyah 4 Blimbing, Paciran, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Babat dan SMA Negeri 1 Tuban. Setelah lulus SMA pada tahun 2025, ia sempat diterima di Universitas Negeri Malang (UM) pada program studi Teknik Informatika.
Program studi itu dijalaninya selama dua semester. Namun, keinginan untuk masuk ke fakultas kedokteran belum juga padam. Akhirnya, pada tahun 2026, Iqbal mengambil keputusan besar untuk mengubah arah pendidikannya dan mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Keputusan ini mengharuskannya untuk memulai kembali dari awal, dalam bidang studi yang sama sekali berbeda.
Dari dunia Teknik Informatika, ia kini memasuki dunia anatomi, fisiologi, tutorial, diskusi, dan berbagai materi kedokteran yang menuntut waktu belajar lebih panjang dan intensif. Hari-hari pertamanya di Fakultas Kedokteran membuat Iqbal menyadari bahwa kebiasaan lamanya tidak bisa lagi dibawa begitu saja ke lingkungan baru ini. Materi kuliah yang jauh lebih banyak tidak cukup hanya dipahami dengan mendengarkan penjelasan dosen. Ia harus proaktif membaca sendiri, mencari bahan referensi, berdiskusi, dan mempersiapkan materi sebelum perkuliahan dimulai.
“Memasuki Fakultas Kedokteran membuat saya harus beradaptasi dengan lingkungan, teman, serta sistem pembelajaran yang baru. Materinya lebih banyak dan membutuhkan pemahaman mendalam,” katanya. Bagi Iqbal, tantangan terbesarnya justru terletak pada pengelolaan waktu. Dahulu, ia bisa bermain Mobile Legends berjam-jam tanpa terlalu memikirkan kegiatan lain. Kini, ia harus secara cermat membagi waktu antara kuliah, tugas, belajar mandiri, istirahat, dan bersosialisasi.
Ia mulai belajar bahwa keinginan untuk bermain harus ditunda jika ada materi kuliah atau tugas yang belum selesai dipelajari. “Sekarang saya harus lebih bisa mengatur waktu. Tidak semuanya bisa dilakukan sesuka hati,” ujarnya. Perubahan ini juga terasa signifikan saat ia mengikuti sesi tutorial dan diskusi kelompok. Iqbal harus berani menyampaikan pendapatnya, namun pada saat yang sama, ia juga belajar untuk mendengarkan pandangan orang lain dengan baik.
Ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki cara belajar dan kemampuan yang beragam. Dari interaksi tersebut, ia mulai terbiasa bekerja dalam kelompok dan menerima masukan dari berbagai pihak. Menurut Iqbal, kemampuan semacam ini nantinya juga akan sangat dibutuhkan oleh seorang dokter. Seorang dokter tidak hanya berhadapan dengan ilmu medis, tetapi juga dengan pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan lainnya.
Iqbal tidak ingin menganggap masa-masa bermain gim sebagai bagian hidup yang harus dihapus atau dilupakan. Ada banyak pengalaman berharga yang ia peroleh dari sana, seperti berkompetisi, mengikuti turnamen, merasakan kemenangan, menerima kekalahan, dan bahkan menghasilkan uang dari kemampuannya. Hanya saja, kini ia melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang berbeda. “Sesuatu yang menyenangkan jangan sampai menghambat tujuan utama,” katanya.
Ia masih ingin memiliki waktu untuk menikmati hiburan, namun ia tidak ingin kembali pada masa ketika permainan mengambil hampir seluruh waktunya. Pengalaman masa lalu itu justru menjadi pengingat penting ketika ia mulai merasa malas atau ingin menunda pekerjaan. Iqbal sangat menyadari bagaimana rasanya ketika sekolah tidak lagi menjadi prioritas utama. Ia juga tahu betul bagaimana orang tuanya pernah dibuat khawatir karena kebiasaan lamanya.
Kini, tantangannya bukan lagi mengejar peringkat tertinggi di Mobile Legends, melainkan bagaimana ia dapat bertahan dan menjalani pendidikan kedokteran yang membutuhkan disiplin tinggi setiap hari. Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, Iqbal berharap sudah berada lebih dekat dengan cita-citanya sebagai dokter. Ia bertekad untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan baik dan terus mengembangkan kemampuannya di bidang medis.
“Bagi saya, menjadi dokter bukan hanya tentang memiliki kemampuan dalam bidang medis, tetapi juga memiliki kepedulian, empati, dan tanggung jawab terhadap pasien,” ujarnya. Ada pula keinginan kuat dalam dirinya untuk membalas kepercayaan yang telah diberikan oleh keluarganya. Iqbal secara khusus ingin membanggakan orang tua dan kakaknya, Ananda Aliza Nurul Islami, yang terus memberikan dorongan dan dukungan ketika ia memilih jalur kuliah kedokteran.
“Saya ingin membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada saya tidak sia-sia. Dukungan keluarga menjadi salah satu alasan saya untuk terus berusaha ketika menghadapi kesulitan,” katanya. Perjalanan Iqbal masih panjang. Ia baru saja memulai pendidikan di Fakultas Kedokteran dan masih harus melewati banyak tahapan sebelum benar-benar berpraktik sebagai dokter.
Khotim pun masih menyimpan ingatan tentang anaknya yang dahulu bisa menghabiskan siang dan malam di kafe untuk bermain gim, yang sulit dinasihati, bahkan pernah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Sekarang, anak yang sama itu sedang sibuk belajar mengatur jadwal kuliah, membaca materi kedokteran yang kompleks, dan membiasakan diri dengan sistem belajar mandiri yang ketat.
Bagi Iqbal, masa lalu itu tidak perlu dibuang. Cukup ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang pernah ia lalui, menjadi pelajaran berharga. “Saya ingin melihat diri saya nanti sudah berkembang jauh dari diri saya yang dulu,” ujarnya. Dengan tekad kuat, Iqbal melangkah maju menuju masa depan yang ia impikan.












