KlikMojok – Di tengah lautan sampah yang terus menggunung, sebuah harapan baru bersemi di Jawa Timur. Kabupaten Sidoarjo, sebuah daerah yang tak asing dengan dinamika perkotaan dan tantangan lingkungan, kini terpilih sebagai salah satu dari lima daerah percontohan Proyek InCircular. Program ini bukan sekadar upaya biasa; ia adalah jembatan menuju penguatan pengelolaan sampah yang lebih holistik, sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular pada aliran material sampah kemasan dan residu di tingkat daerah.
Langkah progresif ini secara resmi diluncurkan dalam sebuah acara bertajuk “Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia” di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya pada Selasa, 16 September 2026. Selain Sidoarjo, empat daerah lain yang turut mengemban misi percontohan ini adalah Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Probolinggo. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari dukungan terhadap Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045, sebuah visi jangka panjang untuk keberlanjutan bangsa. Peluncuran ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Kementerian PPN/Bappenas, Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ GmbH), dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan dukungan pendanaan penuh dari Pemerintah Jerman melalui Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dalam sambutannya, menyoroti pentingnya momen ini. Terpilihnya Jawa Timur sebagai salah satu provinsi percontohan, menurutnya, adalah manifestasi kepercayaan sekaligus peluang emas untuk mengukuhkan transformasi menuju pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, menghasilkan limbah yang minimal, dan berkelanjutan. “Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Republik Federal Jerman, serta GIZ Indonesia atas kerja sama dan dukungannya dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur,” ujar Emil, dengan nada optimis.
Emil tak menampik bahwa pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan krusial di Bumi Majapahit. Ia memaparkan data yang mencengangkan: timbulan sampah di Jawa Timur mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, namun ironisnya, baru sekitar 25 persen yang berhasil terkelola secara optimal. Tantangan ini, lanjut Emil, bukan semata soal ketersediaan infrastruktur fisik, melainkan juga meliputi kapasitas kelembagaan yang belum merata, konsistensi pemilahan sampah dari sumbernya yang masih rendah, dukungan pembiayaan yang terbatas, serta keterlibatan aktif dari masyarakat dan dunia usaha yang perlu terus digalakkan. “Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” ungkapnya, menekankan filosofi inti dari pendekatan ini.
Peluncuran kabupaten/kota percontohan Proyek InCircular ini turut dihadiri oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, beserta jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sidoarjo dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo. Subandi menyambut baik terpilihnya Sidoarjo, melihat program ini sebagai sinergi yang sejalan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Baginya, pemetaan terhadap tempat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk TPS 3R, merupakan langkah fundamental untuk menentukan strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di masa mendatang.
Lebih lanjut, Subandi juga menggarisbawahi urgensi pengelolaan sampah plastik yang harus dilakukan secara berjenjang, mulai dari inisiatif terkecil seperti bank sampah hingga tempat pengelolaan sampah di tingkat desa maupun kawasan. “Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar,” tegas Subandi, menyoroti perlunya komitmen kolektif. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tak bisa menjadi tugas satu pihak saja; ia membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kerja sama dengan GIZ dan Pemerintah Jerman melalui Proyek InCircular diharapkan tidak hanya memperkuat sistem yang telah berjalan, tetapi juga memicu inovasi-inovasi baru dalam upaya pengurangan sampah.
Di sisi lain, Wagub Emil juga menekankan pentingnya setiap kabupaten/kota percontohan untuk memaparkan kerangka berpikir mereka. Hal ini bertujuan agar implementasi InCircular dapat menghasilkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan karakteristik unik masing-masing daerah. Praktik-praktik terbaik yang telah dilakukan serta kerangka pengembangan yang nantinya dibawa kepada Kementerian PPN/Bappenas dan GIZ Indonesia–ASEAN diharapkan dapat menjadi pembelajaran berharga dan direplikasi oleh kabupaten/kota lain di Jawa Timur, menciptakan efek domino positif. Bagi Sidoarjo, keterlibatan dalam Proyek InCircular ini menjadi momentum krusial untuk menguatkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk upaya pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang material yang masih memiliki nilai ekonomis. Ini adalah sebuah perjalanan edukasi dan transformasi, dari sekadar membuang menjadi memberdayakan, dari timbunan menjadi titik balik menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.












