KlikMojok – Di tengah teriknya langit pesisir Sukolilo pada Sabtu, 5 September 2026, aroma khas laut menyeruak dari dapur-dapur warga. Di kampung ini, laut tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama bagi para nelayan melalui ikan segar, tetapi juga memicu kreativitas luar biasa di meja dapur para perempuan dan pemuda setempat. Mereka berinovasi mengolah hasil laut melimpah, khususnya udang dan rebon, menjadi produk bernilai jual tinggi.
Para pengusaha di pesisir Sukolilo kini tidak lagi menjual udang dan rebon sebagai bahan mentah dengan harga murah. Dengan sentuhan kreativitas, komoditas laut tersebut disulap menjadi produk olahan bernilai tinggi yang siap bersaing di pasar yang lebih luas. Upaya ini merupakan perjuangan berkelanjutan untuk menaikkan kelas produk olahan laut mereka, terutama melalui pendampingan sertifikasi halal.
Pada hari yang sama, sebuah langkah penting diambil dengan kehadiran Meirna Dewita Sari, seorang Pendamping Proses Produk Halal (P3H) dari Halal Center Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Kehadiran Meirna menjadi jangkar kepastian bagi para pelaku usaha pangan lokal di Sukolilo. Ia bertugas mendampingi warga untuk memastikan produk-produk kebanggaan pesisir ini dapat meraih jaminan suci melalui sertifikasi halal.
Pendampingan difokuskan pada dua dapur yang menunjukkan geliat inovasi. Dapur pertama adalah milik Sahila Rizki, pengusaha di balik jenama “Bola Udang Avicenna Berkah”. Sahila mengolah daging udang segar yang manis, membumbuinya dengan resep turun-temurun, lalu membentuknya menjadi bola-bola. Produk ini, baik yang masih segar maupun yang sudah digoreng keemasan, mencerminkan rasa syukur masyarakat pesisir atas limpahan hasil laut mereka.
Tidak jauh dari sana, semangat muda terpancar dari dapur Moh. Irsyad, seorang pemuda putra nelayan. Irsyad memilih untuk memberikan nilai tambah pada hasil tangkapan ayahnya dengan mengolah udang rebon menjadi sambal yang menggugah selera. Udang kecil-kecil yang sering luput dari perhatian itu diubahnya menjadi sambal rebon dengan cita rasa pedas-gurih yang kaya. Melalui produk ini, Irsyad membuktikan bahwa generasi muda pesisir mampu meningkatkan nilai ekonomi dari hasil keringat orang tua mereka yang melaut.
Di kedua lokasi produksi inilah, Meirna Dewita Sari memulai proses verifikasinya. Baginya, menjaga kehalalan produk bukan sekadar menempelkan logo pada kemasan. Dengan cermat, ia memeriksa lima pilar utama proses produk halal, meliputi kebersihan bahan baku, cara pengolahan yang higienis, higienitas produk jadi, kelayakan lokasi dan peralatan produksi, serta ketertiban dokumen pendukung.
Setiap aspek dikaji dengan teliti sebelum data-data tersebut diinput ke dalam sistem Sihalal. Bagi Sahila Rizki, ketelitian ini adalah bentuk komitmen moral yang kuat. Menjaga kehalalan dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilihan udang segar dari perahu hingga minyak goreng yang digunakan, merupakan janji setia kepada para konsumen.
“Yang kami lakukan, memastikan bahan, proses, dan seluruh aspek pendukung produksi benar-benar selaras dengan ketentuan halal,” ungkap Meirna di sela-sela kegiatannya. Ia juga menambahkan, “Hasil dari pendampingan ini nantinya akan menjadi jembatan bagi mereka di sistem Sihalal.”
Bagi Meirna, tugas seorang P3H lebih dari sekadar urusan birokrasi administratif. Ini adalah proses edukasi berkelanjutan yang bertujuan menanamkan kesadaran bahwa kehalalan adalah masalah konsistensi hati dan mutu yang harus dijaga setiap hari oleh warga.
Ketika matahari mulai condong ke barat, rasa tenang menyelimuti Sukolilo. Sertifikasi halal yang sedang diperjuangkan ini diharapkan menjadi paspor baru bagi “Bola Udang Avicenna Berkah” dan “Sambal Rebon Irsyad” untuk berlayar lebih jauh. Dengan demikian, produk-produk ini tidak hanya akan dinikmati oleh tetangga sekitar kampung, tetapi juga siap bersaing di rak-rak supermarket atau meja makan di kota-kota besar dengan kualitas yang terjamin.
Melalui pendampingan dari Halal Center Umsura, masyarakat pesisir Sukolilo membuktikan bahwa mereka tidak hanya piawai membaca ombak di laut bebas. Di darat, mereka juga cerdas membaca peluang, mengolah karunia alam menjadi produk yang tidak hanya lezat dan bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga suci, halal, dan membawa berkah bagi siapa pun yang menikmatinya. Dari tepian Surabaya, bola udang dan sambal rebon kini siap merantau, membawa aroma laut yang jujur dan bersahaja ke seluruh penjuru dunia.












