KlikMojok – Sebuah rumah milik guru yang sebelumnya hangus terbakar beberapa bulan lalu, kini telah rampung diperbaiki. Proyek renovasi ini menelan biaya sebesar Rp76 juta, yang berhasil terkumpul berkat semangat gotong royong dari Muhammadiyah, berbagai donatur, dan partisipasi aktif warga setempat.
Afni Nur Susiowati, seorang guru, tak kuasa menyembunyikan senyum haru ketika ia kembali melangkahkan kaki memasuki kediamannya yang kini telah berdiri kokoh. Momen penuh emosi tersebut terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Dusun Jombang RT 23 RW 6, Desa Yosowilangun, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang.
Kediaman guru yang beberapa bulan sebelumnya hanya menyisakan puing-puing akibat musibah kebakaran tersebut, kini telah kembali utuh dan siap dihuni. Keberhasilan pembangunan kembali ini adalah buah dari kolaborasi dan semangat gotong royong yang kuat dari Muhammadiyah serta berbagai pihak donatur yang peduli.
Acara serah terima rumah yang telah direnovasi tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Mereka antara lain adalah Zainal Abidin selaku Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Camat Yosowilangun Arief Mashudi, S.Pi., M.P., Drs. Djatto, M.M. yang menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Lazismu Lumajang, serta Muhammad Yusuf Hidayatulloh selaku Ketua MDMC Lumajang. Selain itu, Muakhlan, Ketua PCM Yosowilangun, juga hadir bersama jajaran pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah, dan perwakilan organisasi otonom lainnya.
Peristiwa kebakaran yang melanda rumah guru Afni, yang merupakan pengajar di SMP Muhammadiyah 3 Yosowilangun, terjadi pada Rabu, 9 September 2026 silam.
Musibah yang menimpa Afni tersebut segera menarik perhatian dan kepedulian dari berbagai elemen Muhammadiyah di wilayah Lumajang. Melalui koordinasi antara Lazismu dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), proses rekonstruksi rumah segera dilaksanakan. Upaya ini berbuah manis, di mana rumah tersebut kini kembali dalam kondisi layak huni.
Muakhlan, Ketua PCM Yosowilangun, dalam laporan yang disampaikannya, menerangkan bahwa pembangunan kembali rumah ini merupakan manifestasi kolaborasi berbagai pihak. Proses pembangunan tersebut, sejak tahap awal, terus dipantau dan dilaporkan secara berkala kepada PDM Lumajang dan Lazismu Lumajang.
Muakhlan lebih lanjut menginformasikan bahwa total dana yang terkumpul untuk renovasi mencapai Rp76.357.000, yang berasal dari beragam sumber.
Rincian sumber dana tersebut meliputi kontribusi sebesar Rp40.681.000 dari Lazismu Lumajang, Rp10.000.000 dari Baznas, serta bantuan material senilai Rp6.940.000 yang disumbangkan oleh seorang anggota DPRD dari Fraksi Golkar. Selain itu, dukungan finansial juga datang dari sejumlah amal usaha Muhammadiyah, para donatur perseorangan, dan masyarakat luas.
Muakhlan menegaskan, “Seluruh dana yang masuk telah digunakan untuk proses rekonstruksi rumah, sehingga antara pemasukan dan pengeluaran sudah seimbang. Yang belum kami hitung adalah nilai gotong royong warga, PCM, serta bantuan tenaga dari RT, RW, dan masyarakat. Nilai kebersamaan itulah yang sesungguhnya tidak bisa diukur dengan angka.”
Menurut Muakhlan, kesuksesan dalam pembangunan rumah ini bukan hanya ditentukan oleh besarnya jumlah bantuan dana yang terkumpul. Lebih dari itu, keberhasilan ini didorong oleh kuatnya semangat gotong royong yang terpancar dari seluruh keluarga besar Muhammadiyah, Aisyiyah, berbagai organisasi otonom, para donatur, dan juga masyarakat di lingkungan sekitar.
Suasana menjadi semakin mengharukan saat Afni Nur Susiowati mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mulai mengenang kembali serangkaian musibah beruntun yang telah menimpanya dalam beberapa waktu terakhir.
Dengan penuh rasa syukur, Afni menyampaikan, “Terima kasih kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lumajang, Lazismu, MDMC , para donatur, dan semua yang telah membantu kami. Saya tidak tahu harus berkata apa selain mengucapkan terima kasih. Semoga semua kebaikan yang diberikan menjadi berkah.”
Afni kemudian melanjutkan kisahnya, mengungkapkan bahwa cobaan yang menimpanya tidak hanya sebatas kebakaran rumah. Setahun sebelum kejadian itu, ia telah kehilangan sang suami tercinta. Belum genap masa dukanya terlewati, sang ayah juga meninggal dunia. Hanya berselang satu pekan setelah kepergian ayahnya, rumah yang menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi keluarganya ludes dilalap api, hampir tidak menyisakan apa pun.
“Dalam waktu yang hampir bersamaan saya kehilangan suami, kemudian ayah saya meninggal, lalu seminggu berikutnya rumah kami terbakar habis. Rasanya seperti harus memulai semuanya dari nol,” Afni menuturkan dengan pilu.
Di tengah rangkaian kesedihan yang mendalam tersebut, Afni mengaku sangat terharu menyaksikan begitu banyaknya orang yang datang menawarkan bantuan, bahkan tanpa diminta.
Ia menambahkan, “Saya menangis bukan hanya karena rumah ini terbakar, tetapi karena begitu banyak orang yang peduli kepada saya. Sejak pagi setelah kebakaran, teman-teman dari Lazismu sudah datang dan mengatakan rumah ini akan dibangun kembali. Dukungan, doa, dan semangat dari semua membuat saya tetap kuat dan sabar menghadapi ujian ini.”
Bagi Muhammadiyah Lumajang, rumah guru yang diserahkan pada hari itu bukan hanya sekadar sebuah bangunan yang telah rampung direnovasi. Lebih dari itu, di balik setiap bata yang kembali tersusun rapi, terkandung makna mendalam tentang kepedulian, semangat gotong royong, dan jiwa tolong-menolong. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan utama persyarikatan Muhammadiyah dalam menghadapi dan membantu warganya yang tertimpa musibah.












