KlikMojok – Rintik hujan yang jatuh di tanah Bojonegoro mungkin membawa sedikit kelegaan, namun di balik basahnya dedaunan, dahaga panjang masih menganga. Bagi ratusan desa, guyuran air dari langit itu belum cukup membasuh kekeringan yang telah berbulan-bulan melanda. Sebanyak 106 desa di 24 kecamatan Kabupaten Bojonegoro hingga Sabtu (24/10/2026) masih berjuang memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, sebuah ironi di tengah musim yang seharusnya membawa berkah.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menunjukkan gambaran yang kian memprihatinkan. Jumlah desa terdampak kekeringan justru melonjak signifikan, dari 88 desa per 14 Oktober 2026 menjadi 106 desa hanya dalam kurun waktu sepuluh hari. Peningkatan ini menjadi alarm bahwa meskipun hujan sesekali turun, skala permasalahan kekeringan di Bojonegoro jauh lebih kompleks dan belum teratasi sepenuhnya. Petugas BPBD Bojonegoro tak henti-hentinya menyalurkan air bersih, sebuah upaya vital untuk menopang kehidupan warga yang terancam.
Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menegaskan bahwa distribusi air bersih akan terus digencarkan. Ia menjelaskan, ratusan desa tersebut telah secara resmi mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. “Per hari ini, jumlah desa sebanyak 106 yang telah dilakukan dropping air bersih oleh petugas BPBD, dari sebelumnya data per tanggal 14 Oktober lalu yang mencapai 88 desa terdampak kekeringan,” kata Heru pada Sabtu (24/10/2026). Ia menambahkan, fenomena hujan yang sudah mulai menyapa beberapa hari terakhir belum mampu membawa perubahan berarti. “Karena hujan yang beberapa hari lalu turun tidak merata dan ditambah dengan intensitas hujan juga rendah,” ujarnya, menjelaskan mengapa pasokan air tanah tak kunjung pulih.
Keterbatasan ini membuat warga di banyak titik harus bergantung sepenuhnya pada pasokan air bersih dari luar. Antrean jeriken dan ember menjadi pemandangan lumrah, merefleksikan perjuangan harian untuk sekadar minum, memasak, atau mandi. Dalam situasi genting ini, BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, menghindari pemborosan yang bisa memperparah krisis. Heru Wicaksi juga mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi dampak kekeringan yang diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas yang lebih stabil dan merata baru diperkirakan akan turun pada akhir November atau awal Desember 2026.
“Penyaluran air bersih akan terus dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga di desa-desa terdampak. Masyarakat juga diharapkan menghemat persediaan air agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi selama pasokan masih terbatas,” pungkas Heru. Lebih dari sekadar bantuan darurat, krisis air bersih di Bojonegoro ini menjadi cermin betapa rentannya kehidupan kita di hadapan perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Ini adalah panggilan untuk refleksi, edukasi, dan aksi kolektif dalam menjaga sumber daya vital, agar dahaga tak lagi menjadi ancaman yang terus-menerus menganga di balik setiap rintik hujan yang tak merata.












