KlikMojok – Deru mesin pesawat perlahan mereda, atau desir roda kereta api yang melambat, bukan lagi satu-satunya penanda kedatangan di Banyuwangi. Sejak Kamis hingga Minggu, 22-25 Oktober 2026, setiap gerbang masuk ke Bumi Blambangan menjelma panggung tak terduga, di mana irama gamelan yang rancak dan gemulai penari Gandrung menyambut para pelancong. Sambutan istimewa ini menjadi bagian dari semarak perhelatan Gandrung Sewu 2026, sebuah pertunjukan tari kolosal yang menampilkan 1300 penari.
Para penumpang yang baru tiba di Bandara Banyuwangi dan stasiun kereta api, langsung disuguhi pemandangan para penari Gandrung lengkap dengan alunan musik pengiringnya. Suasana meriah itu tak jarang memancing senyum, bahkan membuat sejumlah penumpang turut mengikuti gerakan tarian yang lincah. Inisiatif ini adalah cerminan dari upaya kolektif untuk menghadirkan pengalaman yang mendalam dan berkesan bagi setiap pengunjung. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan apresiasinya atas keterlibatan berbagai pihak. “Kami mengapresiasi dan berterima kasih pada pengelola transportasi yang ikut menyemarakkan Gandrung Sewu, dengan menghadirkan nuansa Gandrung bagi para penumpang yang datang ke Banyuwangi. Semoga ini menjadi pengalaman yang berkesan,” ujar Ipuk.
Sentuhan budaya Gandrung tidak hanya terbatas pada sambutan tari di terminal kedatangan. Bandara Banyuwangi pun bersolek, dihiasi berbagai ornamen dan poster bertema Gandrung yang turut menyemarakkan area pelayanan. Bahkan, nuansa Gandrung Sewu sudah terasa sejak penumpang masih berada dalam pesawat. Sebagai contoh, dalam perjalanan pesawat Super Air Jet rute Jakarta-Banyuwangi, para pramugari turut mengenakan omprog, mahkota khas penari Gandrung, serta selendang yang menjadi bagian dari busana tradisionalnya. Ini menunjukkan bagaimana identitas budaya dapat diintegrasikan secara kreatif dalam pelayanan publik, memberikan pendidikan visual dan pengalaman tak langsung kepada wisatawan.
Penari Gandrung menyambut kedatangan penumpang di Bandara Banyuwangi pada pukul 10.00 WIB dan 05.00 WIB. Khusus pada tanggal 25 Oktober, para penari juga hadir di jam keberangkatan, yakni pukul 17.00 WIB, untuk melepas kepergian para tamu. Hal serupa juga terjadi di Stasiun Kereta Api Banyuwangi, di mana penari Gandrung menyambut penumpang di setiap jadwal kedatangan, yaitu pagi pukul 05.00, siang pukul 14.00, dan sore pukul 15.00. Pada hari Minggu, tarian Gandrung akan kembali hadir untuk melepas keberangkatan penumpang pada pukul 16.00 WIB.
Semua kemeriahan ini adalah bagian dari rangkaian menuju puncak perhelatan Gandrung Sewu itu sendiri, yang tahun ini mengusung konsep berbeda dengan digelar malam hari. Pertunjukan kolosal tersebut akan dihelat di Pantai Boom Marina pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 18.30 WIB. Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa sentuhan budaya ini menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi penumpang, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Banyuwangi sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Blambangan. “Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan Gandrung Sewu bukan sekadar pertunjukan tari kolosal, melainkan perayaan identitas dan kebanggaan Banyuwangi. Banyak yang terlibat menyemarakkan Gandrung Sewu,” ungkap Ipuk.
Lebih dari sekadar festival, Gandrung Sewu melalui inisiatif sambutan ini, berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang sublim. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga secara halus menanamkan apresiasi terhadap seni dan warisan lokal kepada setiap individu yang melintas. Ini adalah cara Banyuwangi merayakan dirinya, mengenalkan kekayaan budayanya, dan memastikan setiap pengunjung membawa pulang tak hanya kenangan, tetapi juga sepotong jiwa dari Negeri Seribu Gandrung.












