KlikMojok – Empat pilar kepemimpinan yang diteladankan oleh Rasulullah SAW menjadi fondasi penting bagi para pengurus Muhammadiyah dalam mengemban setiap amanah organisasi. Penekanan mengenai hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. H. Sukadiono, MM, dalam sebuah Kajian Ahad ke-5 yang diselenggarakan secara spesial dalam rangka menyambut Bulan Kemerdekaan RI ke-81. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Al-Ikrom Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wage, Sidoarjo, pada hari Ahad, 30 Agustus 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sukadiono secara tegas mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk meneladani sifat dan karakter kepemimpinan Rasulullah. Tujuannya adalah agar mereka mampu mengelola organisasi secara efektif dan melayani umat dengan sebaik-baiknya. Kajian yang bertema “Empat Pilar Kepemimpinan Rasulullah” ini tidak hanya dihadiri oleh jemaah umum, tetapi juga diikuti oleh peserta Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) Batch 4. Selain itu, kegiatan ini turut diramaikan oleh kunjungan tamu dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rawamangun, Jakarta.

Prof. Sukadiono menguraikan bahwa kepemimpinan yang terinspirasi dari para nabi dapat diwujudkan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, dengan meneladani empat sifat wajib Rasulullah. Kedua, dengan menginternalisasi karakter kepemimpinan Rasulullah. Ketiga, dengan mengaplikasikan akhlak Nabi dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa empat sifat wajib Rasulullah merupakan pilar esensial bagi setiap individu yang memegang peran sebagai pemimpin. Keempat sifat mulia tersebut meliputi shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Sifat pertama, shiddiq, memiliki arti kejujuran. Bagi seorang pemimpin, kejujuran adalah dasar utama dalam membangun kredibilitas yang kuat. “Kalau tidak ada trust, tidak ada yang dipimpin. Kalaupun ada, trust-nya rendah,” jelas Prof. Sukadiono, menekankan betapa krusialnya kepercayaan. Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib berupaya membangun kapasitas sekaligus kredibilitas dirinya. Selain itu, pemimpin harus mampu mengesampingkan kepentingan pribadi atau self interest demi kepentingan bersama.
Selanjutnya, Prof. Sukadiono mengingatkan para pengurus agar senantiasa menjaga dan tidak mengkhianati amanah yang telah dipercayakan oleh organisasi. Beliau memberikan peringatan keras, “Jangan menjadi pengurus hanya menempel nama. Tidak pernah hadir dan tidak pernah mengurusi organisasi. Itu tidak amanah.” Ia kemudian menjelaskan makna amanah dalam konteks kepemimpinan. Menurutnya, tanggung jawab seorang pemimpin tidak sekadar terbatas pada aspek administrasi semata. Lebih jauh, setiap amanah yang diemban akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Beliau mencontohkan tanggung jawab seorang laki-laki sebagai suami dan ayah, yang di dunia berkewajiban menafkahi keluarga, namun tanggung jawab tersebut juga akan menjadi pertanggungjawaban di akhirat. “Jadi, amanah itu berat. Tanggung jawab bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah,” ujarnya. Dengan demikian, seorang pemimpin harus menjalankan tugasnya dengan kesadaran penuh, karena jabatan bukan hanya status, melainkan harus disertai dengan kerja nyata dan rasa tanggung jawab.
Pilar ketiga adalah tabligh. Prof. Sukadiono menekankan bahwa tabligh tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan berbicara atau menyampaikan pesan. Menurut beliau, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan untuk mendengar secara aktif. “Pimpinan bukan hanya pandai orasi, tetapi juga harus pandai mendengar,” katanya. Kemampuan ini menjadi sangat vital ketika pemimpin dihadapkan pada berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Sebagai contoh, saat terjadi bencana, pemimpin tidak cukup hanya memberikan nasihat agar masyarakat bersabar. Sebaliknya, pemimpin harus terlebih dahulu mendengar dan memahami kebutuhan mendesak warga. Setelah itu, pemimpin perlu segera bertindak untuk memberikan solusi konkret. Bahkan, perhatian dan kepedulian tidak boleh berhenti setelah bencana selesai. Pemimpin harus terus melihat kebutuhan masyarakat pada masa pemulihan pascabencana. Oleh karena itu, kepemimpinan yang efektif membutuhkan empati dan kepedulian yang mendalam. Pemimpin harus hadir untuk mendengar sekaligus membantu menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Menurut Prof. Sukadiono, sikap inilah yang juga menjadi salah satu kekuatan utama Muhammadiyah, yang memungkinkan gerakan ini bertahan lama karena memiliki kepedulian sosial dan semangat kedermawanan yang tinggi.
Adapun pilar keempat adalah fathanah, yang berarti cerdas. Dalam konteks kepemimpinan, kecerdasan sangat membantu seseorang dalam mengambil keputusan secara tepat dan bijaksana. Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga dapat menentukan prioritas dengan benar. “Pemimpin harus bisa memilih mana yang penting dan mana yang lebih penting,” jelasnya. Menurut Prof. Sukadiono, kecerdasan seorang pemimpin tidak hanya tercermin dari luasnya pengetahuan yang dimiliki. Lebih dari itu, kecerdasan juga terlihat dari kemampuannya dalam membaca situasi dan mengambil keputusan yang strategis. Pemimpin juga dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Dengan kepekaan ini, ia akan mampu merespons setiap persoalan masyarakat secara cepat dan tepat.
Dalam paparannya, Prof. Sukadiono turut mengaitkan kepemimpinan Rasulullah dengan teori manajemen modern. Beliau menyebutkan konsep change, dream, manpower, dan model dalam teori kepemimpinan, dan menegaskan bahwa prinsip-prinsip ini dapat ditemukan dalam keteladanan Rasulullah.
Pada aspek change (perubahan), Rasulullah berhasil mentransformasi masyarakat jahiliah menjadi masyarakat madani yang beradab. Perubahan fundamental ini terwujud melalui proses pembinaan yang sangat kuat dan berkelanjutan. Kemudian, aspek dream (mimpi) berkaitan erat dengan visi. Seorang pemimpin harus memiliki mimpi dan visi yang jelas untuk membawa masyarakat menuju kondisi yang lebih baik dan maju.
Selanjutnya, aspek manpower (pengelolaan sumber daya manusia) berhubungan dengan cara mengelola manusia. Dalam hal ini, pemimpin tidak seharusnya hanya mengedepankan otoritas semata. Sebaliknya, pemimpin perlu menggunakan pendekatan kasih sayang dan empati. Dengan pendekatan yang humanis ini, kader dan masyarakat dapat dibina secara lebih manusiawi dan efektif. Sementara itu, aspek model (teladan) menuntut seorang pemimpin untuk menjadi contoh atau teladan yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin juga harus peka terhadap situasi dan memiliki sense of crisis yang kuat, sehingga mampu mengantisipasi dan mengatasi masalah dengan sigap.
“Semua teori manajemen kepemimpinan itu ada dalam Al-Qur’an. Asal kita membaca Al-Qur’an setiap hari, minimal sepuluh ayat sekaligus memahami artinya,” tutur Prof. Sukadiono. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai bacaan semata. Lebih dari itu, Al-Qur’an dapat menjadi sumber nilai dan panduan utama dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan prinsip-prinsip ilahiah.
Kajian ini sekaligus menjadi ruang refleksi yang berharga bagi para peserta AM3 Batch 4. Melalui pemahaman mendalam tentang keteladanan Rasulullah, peserta diajak untuk memahami bahwa kepemimpinan yang sejati membutuhkan integritas (kejujuran), tanggung jawab (amanah), kemampuan komunikasi yang efektif (tabligh), kecerdasan (fathanah), dan keteladanan. Oleh karena itu, Prof. Sukadiono menekankan bahwa pengelola masjid dan pemimpin Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki jabatan. Mereka harus senantiasa hadir, bekerja, mendengar, serta menjalankan setiap amanah yang diemban demi kepentingan umat secara luas.













