Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Bukan Anak-Anak, Ini Alasan Orang Dewasa Kunci Lestarinya Permainan Tradisional

badge-check

Bukan Anak-Anak, Ini Alasan Orang Dewasa Kunci Lestarinya Permainan Tradisional Perbesar

KlikMojok – Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, anak-anak di Kampung Simo Hilir X, Simomulyo Baru, Sukomanunggal, Surabaya, terlihat antusias bermain engklek, egrang, lompat tali, dan boi-boian dalam acara Maca lan Dolanan Bareng (Mabar). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kampoeng Dolanan, sebuah komunitas yang didirikan oleh Mustofa atau akrab disapa Kak Mus. Menurut Kak Mus, antusiasme anak-anak ini menunjukkan bahwa persoalan utama dalam pelestarian permainan tradisional bukan terletak pada minat anak-anak, melainkan pada seberapa sering orang dewasa memperkenalkan dan mendampingi mereka dalam memainkannya. Acara yang berhasil menarik perhatian banyak peserta ini berakhir saat matahari mulai terbenam, dengan para peserta berpamitan dan berlari pulang ke rumah masing-masing.

Setelah kegiatan Mabar usai, di rumah Tyas Wibowo yang menjadi tempat singgah sementara, para relawan dari Lapak Baca Simora dan panitia Kampoeng Dolanan mulai beristirahat. Beberapa di antara mereka tampak mengisi perut setelah seharian penuh berkegiatan, sementara yang lain memilih untuk menuju masjid. Sebagian lainnya masih terlibat dalam perbincangan serius mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan untuk kegiatan selanjutnya.

Mustofa, sang pendiri Kampoeng Dolanan yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Mus, turut berada di tengah-tengah kerumunan relawan dan panitia tersebut.

Sore itu, percakapan antara penulis dan Kak Mus bergeser dari pembahasan mengenai kegiatan yang baru saja rampung ke cerita yang lebih mendalam tentang Kampoeng Dolanan. Komunitas ini telah berkomitmen untuk melestarikan permainan tradisional sebagai fokus perjuangannya selama hampir satu dekade terakhir.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan program kolaborasi Kampoeng Dolanan, masyarakat dapat mengaksesnya melalui media sosial seperti Facebook, X, Instagram, dan TikTok dengan akun @kampoeng_dolanan, atau melalui situs web resmi mereka di kampoengdolanan.or.id. Akun-akun ini dikelola oleh tim admin yang siap memberikan informasi yang dibutuhkan.

Kak Mus mengungkapkan sebuah kisah yang selalu ia ingat ketika menjelaskan urgensi pelestarian permainan tradisional. Kisah tersebut berkaitan dengan sebuah permainan yang kini dikenal luas sebagai Surakarta Game.

Berdasarkan cerita yang didapatkan Kak Mus, permainan tradisional asal Surakarta tersebut pernah dibawa ke Prancis oleh seorang warga negara Prancis yang mengunjungi kota tersebut sekitar tahun 1970-an.

Kak Mus menjelaskan kronologi kejadian tersebut, “Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena pada tahun itu ada warga negara Prancis yang datang ke Surakarta untuk berkunjung dan salah satu kebudayaan yang dikenalkan adalah permainan itu. Ketika beliau pulang ke Prancis dan waktu itu belum ada internet, beliau mencoba bertanya kepada orang Indonesia yang tinggal di Prancis tentang nama permainan tersebut. Sayangnya, orang Indonesia yang tinggal di sana tidak tahu namanya. Akhirnya beliau menamainya Surakarta Game.”

Kisah tersebut memicu pemikiran mendalam bagi Kak Mus. Ia menambahkan, “Coba bayangkan jika beliau menamainya dengan nama Prancis. Bisa jadi kita kehilangan permainan tadi sebagai permainan tradisional asli Indonesia, tepatnya dari Surakarta.”

Dari refleksi tersebut, Kak Mus memupuk sebuah impian besar yang terus ia perjuangkan bersama Kampoeng Dolanan. Ia berharap, jika suatu saat salah satu permainan tradisional Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan dari UNESCO, Kampoeng Dolanan dapat berperan aktif dalam memperkenalkannya kepada masyarakat luas sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya bangsa.

Menurutnya, pencatatan sebagai warisan saja tidaklah cukup. Permainan tradisional tersebut harus terus dimainkan, diperkenalkan kepada anak-anak, dan selanjutnya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya agar keberadaannya tetap lestari.

Kak Mus menjelaskan visi komunitasnya, “Jadi, kita menggali permainan tradisional yang mungkin bisa digunakan sebagai sistem pembelajaran di berbagai bidang, mulai dari tumbuh kembang anak, pendidikan karakter, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.”

Antusiasme yang terlihat dalam kegiatan Mabar bersama Simora sore itu semakin menguatkan keyakinan Kak Mus. Ia menyaksikan sendiri betapa mudahnya anak-anak diajak bermain permainan tradisional. Ketika peluit ditiup sebagai isyarat pergantian permainan, mereka dengan sigap berpindah posisi. Anak-anak juga menunjukkan kemauan untuk mengantre giliran, mematuhi setiap aturan permainan, bahkan belajar untuk meminta maaf jika tanpa sengaja melakukan kesalahan kepada teman sepermainan.

Melihat tingginya antusiasme tersebut, Kak Mus dengan tegas menolak anggapan bahwa anak-anak di era modern ini sudah tidak tertarik lagi pada permainan tradisional.

Kak Mus mengungkapkan realitas yang sering terjadi, “Padahal mereka mau. Saat mereka diminta ganti partner bermain dari anak-anak ke orang dewasa, mereka mau, tapi malah orang dewasanya yang enggak mau.”

Berdasarkan pengalamannya mendampingi berbagai kegiatan yang melibatkan permainan tradisional, Kak Mus justru menyimpulkan bahwa inti permasalahannya seringkali berada pada sikap dan peran orang dewasa.

Dengan lugas, ia menyatakan, “Dari kacamata Kampoeng Dolanan, yang punya masalah tentang permainan tradisional bukan anak-anak, tapi yang dewasanya. Anak-anak menjadi tidak berminat bermain permainan tradisional bukan karena tidak mau, tapi mereka tidak diedukasi dan tidak dikenalkan dengan benar tentang budaya permainan tradisional mereka sendiri.”

Selain itu, Kak Mus juga menyoroti fenomena kebiasaan penggunaan gawai. Ia berpendapat bahwa kecanduan terhadap perangkat digital ini bukan hanya masalah yang dialami oleh anak-anak, melainkan juga dapat menimpa orang dewasa.

Oleh karena itu, Kak Mus sangat tidak setuju jika anak-anak terus-menerus menjadi pihak yang disalahkan atas minimnya minat pada permainan tradisional.

Menurutnya, para orang tua memiliki tanggung jawab untuk menyediakan berbagai pilihan kegiatan alternatif bagi anak-anak. Salah satu cara efektif adalah dengan meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka dan secara langsung memperkenalkan permainan tradisional.

Ia melontarkan sebuah pertanyaan reflektif kepada para orang tua, “Seberapa sering Anda, sebagai orang tua, bermain dan mengenalkan permainan tradisional kepada anak sendiri?”

Meskipun pertanyaan tersebut terdengar sederhana, bagi Kak Mus, di situlah akar permasalahan dapat ditelusuri. Sulit untuk mengharapkan anak-anak tiba-tiba tertarik pada permainan tradisional jika mereka tidak pernah diperkenalkan atau diajak memainkannya sejak dini.

Kesamaan visi dan cara pandang inilah yang menjadi dasar bagi Kampoeng Dolanan untuk menjalin kolaborasi dengan Lapak Baca Simora.

Kak Mus mengidentifikasi adanya titik temu antara kedua komunitas ini. Lapak Baca Simora berfokus pada kegiatan literasi, sedangkan permainan tradisional juga mengandung beragam nilai dan pembelajaran yang dapat digali.

Ia menjelaskan lebih lanjut, “Di dalam permainan itu ada literasi, ada budaya, dan ada ekonomi.”

Kak Mus juga mengutip gagasan Johan Huizinga dalam karyanya “Homo Ludens”, yang membahas hubungan erat antara bermain dan kebudayaan. Baginya, aktivitas bermain memegang peranan krusial dalam kehidupan manusia, sebab kebiasaan yang dilakukan secara berulang dalam permainan turut membentuk karakter dan kepribadian seseorang.

Berangkat dari pemikiran tersebut, permainan tradisional dapat menjadi medium yang sangat efektif untuk memperkenalkan berbagai konsep dan nilai, tanpa harus selalu mengandalkan metode ceramah atau pembelajaran formal di kelas.

Sinergi gagasan antara Lapak Baca Simora dan Kampoeng Dolanan akhirnya membuahkan inisiatif bersama yang diberi nama Maca Lan Dolanan Bareng, disingkat Mabar.

Acara Mabar yang dilaksanakan di Jalan Simo Hilir X ini merupakan bagian integral dari program Budaya.in, sebuah inisiatif Kampoeng Dolanan yang mengusung semangat “Main Bareng Jaga Budaya Indonesia”.

Sebelum sesi bermain dimulai, anak-anak terlebih dahulu mengikuti kegiatan membaca nyaring yang dipandu oleh relawan Simora. Setelah cerita selesai dibacakan, mereka kemudian diajak untuk langsung mencoba berbagai jenis permainan tradisional, seperti engklek, egrang, lompat tali, dan boi-boian.

Dengan demikian, cerita-cerita yang sebelumnya hanya mereka dengarkan kini hidup dan berpindah ke halaman tempat mereka bermain. Bagi Kak Mus, momen inilah yang menunjukkan bagaimana literasi dan permainan tradisional dapat saling melengkapi dan memperkaya pengalaman anak-anak.

Waktu semakin sore saat perbincangan antara penulis dan Kak Mus mulai mendekati penghujung. Anak-anak peserta Mabar sudah kembali ke rumah masing-masing, dan peralatan permainan pun mulai dibereskan. Meski demikian, Kak Mus masih memiliki satu pesan penting yang ingin ia sampaikan, khususnya kepada para orang tua.

Ia menegaskan, “Stop salahkan anak karena anak adalah emas berlian yang sangat berharga dan luar biasa.”

Kak Mus menekankan bahwa orang dewasa juga perlu memiliki keberanian untuk melakukan introspeksi diri, meninjau kembali kebiasaan serta cara mereka dalam mendampingi dan berinteraksi dengan anak-anak.

Ia melanjutkan pesannya, “Banyak orang dewasa yang abai tentang kesalahannya. Sering-sering introspeksi diri, bangun talenta-talenta positif, bangun komunikasi yang positif ke anak, dan perbaiki diri bersama-sama demi anak-anak penerus bangsa yang lebih baik lagi ke depannya.”

Meskipun kegiatan Mabar telah berakhir sore itu dan anak-anak telah pulang, bagi Kampoeng Dolanan, misi untuk mengenalkan permainan tradisional masih jauh dari selesai. Permainan seperti engklek, egrang, lompat tali, dan boi-boian akan terus hidup dan dimainkan, asalkan ada orang dewasa yang berdedikasi untuk memperkenalkannya serta memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba dan menikmati pengalaman bermain tersebut.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jejak Koper yang Tak Kembali: Sengketa Konsumen Melawan Qatar Airways dan Ujian Kewenangan BPSK Surabaya

12 Okt 2026 - 18:46 WIB

Jejak Koper yang Tak Kembali: Sengketa Konsumen Melawan Qatar Airways dan Ujian Kewenangan BPSK Surabaya

Lumajang dalam Cengkeraman Kemarau: Asa Hujan di Tengah Perpanjangan Tanggap Darurat Kekeringan

12 Okt 2026 - 18:46 WIB

Lumajang dalam Cengkeraman Kemarau: Asa Hujan di Tengah Perpanjangan Tanggap Darurat Kekeringan

Nobel Ekonomi 2026: Robert E. Hall dan Michael Woodford Ungkap Fondasi Mikroekonomi untuk Stabilisasi Makro

12 Okt 2026 - 18:44 WIB

Nobel Ekonomi 2026: Robert E. Hall dan Michael Woodford Ungkap Fondasi Mikroekonomi untuk Stabilisasi Makro

Luka di Akses Suramadu: Ketika Ban Pecah Berujung Maut di Dini Hari

12 Okt 2026 - 15:19 WIB

Luka di Akses Suramadu: Ketika Ban Pecah Berujung Maut di Dini Hari

Terang di Hutan Pinus: Kisah Turbin Mikrohidro Menyinari Pendidikan di Kampung Seling Banyuwangi

12 Okt 2026 - 15:18 WIB

Terang di Hutan Pinus: Kisah Turbin Mikrohidro Menyinari Pendidikan di Kampung Seling Banyuwangi
Trending di Pendidikan