Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pendidikan Sensori Anak: Lapak Baca Simora Ajarkan Ragam Rasa Lewat Kisah Garam Gunung dan Permainan Interaktif

badge-check

Pendidikan Sensori Anak: Lapak Baca Simora Ajarkan Ragam Rasa Lewat Kisah Garam Gunung dan Permainan Interaktif Perbesar

KlikMojok – Pada Ahad, 25 Oktober 2026, Lapak Baca Simora di Pos Selatan RT 05 RW 04, Simomulyo Baru, menyelenggarakan kegiatan unik bagi anak-anak. Melalui cerita dalam buku ‘Garam Gunung’, mereka diajak berpartisipasi dalam permainan tebak rasa. Setelah menyimak kisah tentang proses pembuatan garam, anak-anak secara bergiliran mencoba mencicipi berbagai bahan dapur dengan mata tertutup, sebuah metode interaktif dalam pendidikan sensori anak.

Aktivitas edukatif ini didampingi oleh tiga relawan berdedikasi: Wasilatul Ummah, yang akrab disapa Kak Ila; Thobibah Alina, atau Kak Alin; serta Fitri Ari Susantri, yang dikenal sebagai Kak Pipit. Kehadiran mereka memastikan kelancaran dan bimbingan selama seluruh sesi berlangsung.

Sebelum sesi membaca nyaring atau read aloud dimulai, ketiga relawan tersebut sibuk mempersiapkan kegiatan. Kak Ila memilih lagu dan gerakan pembuka untuk memeriahkan suasana, Kak Pipit fokus membaca buku yang akan dibawakannya, sementara Kak Alin menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk bookish play, yakni kegiatan bermain yang terhubung dengan isi buku bacaan.

Kesibukan Kak Alin saat mempersiapkan alat peraga mengundang rasa penasaran di kalangan anak-anak. Sebagian dari mereka melontarkan pertanyaan mengenai agenda hari itu, sementara anak-anak lainnya asyik berkejaran, bermain catur, atau memilih buku dari rak untuk dibaca sambil menanti dimulainya kegiatan utama.

Pukul 09.00, Kak Ila meminta anak-anak untuk membereskan mainan dan buku yang telah mereka gunakan. Karena sudah terbiasa dengan rutinitas tersebut, anak-anak dengan sigap dan mandiri merapikan semuanya tanpa perlu diingatkan dengan nada yang keras.

Setelah itu, mereka berbaris rapi dan mengikuti senam ceria bersama Kak Ila. Diiringi alunan lagu dari ponsel, anak-anak mengikuti setiap gerakan dengan penuh tawa dan semangat.

Selanjutnya, Kak Pipit membacakan buku ‘Garam Gunung’. Buku tersebut mengisahkan perjalanan seorang anak yang membantu ayahnya dalam proses pembuatan garam dari air asin yang ditemukan di puncak gunung.

Beberapa anak tampak terkejut dan takjub mendengar cerita tersebut. Kisah yang disajikan dalam buku itu rupanya berbeda dengan gambaran umum mereka mengenai proses pembuatan garam.

Kak Ila mengungkapkan bahwa pemilihan buku tersebut dilakukan secara spontan. Menurutnya, isi buku itu sangat cocok untuk dipadukan dengan permainan tebak rasa, yang bertujuan mengajak anak-anak untuk mengenali berbagai rasa dan asal-usulnya.

Begitu sesi membaca nyaring selesai, Kak Ila mengumumkan akan adanya permainan mengenal rasa. Anak-anak yang belum pernah mengikuti permainan serupa menyambutnya dengan antusiasme yang tinggi.

Setelah suasana kembali tenang, Kak Ila mengajukan beberapa pertanyaan seputar pelajaran sekolah. Anak-anak berebut untuk menjawab, karena jawaban yang benar akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk maju dan berpartisipasi dalam permainan.

Satu per satu anak maju ke depan. Mata mereka ditutup menggunakan kerudung, kemudian Kak Alin mengarahkan jari-jari mereka ke wadah-wadah kecil berisi garam, gula, kopi, dan air tawar.

Anak-anak kemudian mencicipi bahan yang menempel pada jari mereka. Dengan mata yang masih tertutup, mereka berusaha mengenali tekstur dan menebak rasa dari bahan-bahan tersebut.

Kak Ila menceritakan bahwa ekspresi anak-anak ketika mencicipi bahan satu per satu mengundang gelak tawa dari orang-orang yang hadir. Kak Alin pun mengakui sempat menjahili beberapa peserta saat membantu permainan.

“Kegiatan setelah read aloud kali ini seru ya, terus karena saya emang sedikit jahil, tadi ada beberapa anak yang saya kerjain, respon mereka lucu sekali,” tutur Kak Alin. Ia melanjutkan, “Senang sih dan adik-adik yang lain juga banyak yang ketawa pas teman-teman yang maju ke depan merengut pas saya celupkan jarinya ke garam lebih banyak dari gula.”

“Terus pas ambil kopi juga aku banyakin, itu reaksi mereka bikin aku ketawa. Respon mereka sesuai sih sama yang diharapkan. Pas merasakan pahitnya kopi dan asinnya garam itu wajah mereka merengut,” ujarnya sambil tertawa mengingat reaksi anak-anak.

Tiga pengunjung lapak baca, yaitu Arraya Riski Aditya, Ittaki Tafuzihayataki Mas Adatin, dan Ahmad Kayyis Mutaaddy Abu Qoid, turut menceritakan pengalaman mereka.

“Hari ini senang, bahagia, semangat mengikuti kegiatan, tapi waktu mencicipi tadi itu rasanya aneh, tapi aku suka gula kok, tapi kalo yang lainnya gak enak,” kata Arraya Riski Aditya sambil meminum air mineral.

“Hari ini baca buku namanya Garam Gunung, bukunya nunjukkin cara bikin garam ternyata itu ambil air asin, terus dimasak, diaduk-aduk sampe mendidih, habis gitu dijemur dan jadi garam yang rasanya asin, aku gak suka asin, sukanya gula,” ujar Ittaki Tafuzihayataki Mas Adatin sambil melirik buku yang baru dibacakan.

“Tadi permainannya mencicipi rasa, tadi ada kopi pahit sekali, terus gula rasanya manis, garam rasanya asin, air putih rasanya tawar. Yang aku suka gula karena rasanya manis dan gak suka kopi soalnya pahit. Senang ada kegiatan begini, hal baru buat aku,” ungkap Ahmad Kayyis Mutaaddy Abu Qoid sambil tersenyum.

Kak Ila menjelaskan bahwa permainan tebak rasa ini bertujuan untuk mengenalkan anak-anak pada beragam rasa, asal-usul rasa, serta tekstur bahan yang mereka sentuh. Ini merupakan bagian penting dari pendidikan sensori anak.

Menurutnya, kegiatan menyentuh garam, gula, kopi, dan air dengan jari juga melatih kemampuan sensori anak. Anak-anak diajak merasakan tekstur bahan terlebih dahulu, kemudian mencicipinya, dan barulah menebaknya.

Ia mencontohkan kopi yang terasa lebih halus saat disentuh namun pahit ketika dicicipi. Sementara itu, gula pasir memiliki tekstur berpasir dengan rasa manis yang khas.

Kak Ila juga merujuk pada beberapa tulisan yang pernah dibacanya mengenai manfaat pengenalan rasa dan kegiatan sensori bagi anak yang cenderung suka memilih-milih makanan atau picky eater.

Ia berharap pengenalan ini dapat membantu mengurangi kebiasaan memilih-milih makanan, membuat anak-anak lebih mengenal berbagai rasa dasar, serta mendorong mereka untuk mencoba beragam rasa makanan.

Kak Ila mengakui bahwa persiapan kegiatan hari itu cukup mendadak karena para relawan memiliki kesibukan lain. Oleh karena itu, ia berinisiatif untuk menyusun rencana kegiatan Lapak Baca Simora selama satu bulan penuh agar persiapan setiap pekan dapat lebih tertata.

“Tadi sebenarnya ada rencana pakai jeruk lemon sebagai rasa asam, tapi gak kesampaian, tapi gak masalah. Jadi nanti setiap hari Minggu kita tidak lagi kebingungan seperti kemarin lagi, entah mungkin karena lupa atau kesibukan lainnya, jadi kalau ada jadwal read aloud dan bookish play selama sebulan ini nanti kedepannya lebih prepare,” ujarnya optimistis.

Ia berharap Lapak Baca Simora dapat terus menghadirkan hal dan pengalaman baru melalui kegiatan bermain yang lebih beragam. Dengan begitu, anak-anak diharapkan tidak merasa bosan dan semakin bersemangat untuk datang bersama teman-temannya.

“Ayo, ayo, ayo! Untuk adik-adik di RT 05 ataupun yang bukan di RT 05, ayo ke lapak baca yang terbuka untuk umum dan untuk adik-adik yang mau belajar bersama, tumbuh bersama, berkreasi bersama, ayo kita bareng-bareng bersenang-senang di Lapak Baca Simora sambil read aloud,” seru Kak Ila sambil bertepuk tangan.

Ia juga membuka kesempatan bagi komunitas lain untuk berkolaborasi dalam kegiatan literasi, edukasi, dan kegiatan positif lainnya.

“Lalu untuk komunitas lainnya yang mau mengajak kami berkolaborasi bersama di bidang literasi, edukasi dan kegiatan positif lainnya, ayo, karena kebetulan kami adalah komunitas yang baru tumbuh, jadi kami pasti akan sangat terbuka sekali untuk diajak kerja sama. Itu juga akan menjadi media dan pembelajaran bagi kami juga agar berkembang lagi selanjutnya,” ungkap Kak Ila penuh harap. Kegiatan ini didokumentasikan oleh Jurnalis Fitri Ari Susantri dan disunting oleh Mohammad Nurfatoni.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jejak Hangus di Pasar Tambelangan: Ketika Korsleting Listrik Melahap Asa Pedagang

27 Okt 2026 - 15:19 WIB

Jejak Hangus di Pasar Tambelangan: Ketika Korsleting Listrik Melahap Asa Pedagang

Asap Lawu Tak Padam, Kesiapsiagaan Abadi di Kaki Gunung: Refleksi Kolektif Menjaga Rimba dari Karhutla

27 Okt 2026 - 15:18 WIB

Asap Lawu Tak Padam, Kesiapsiagaan Abadi di Kaki Gunung: Refleksi Kolektif Menjaga Rimba dari Karhutla

Mengukir Jejak 36 Tahun: Nurlailah Purna Tugas di MI Muhammadiyah 3 Gosari

27 Okt 2026 - 15:17 WIB

Mengukir Jejak 36 Tahun: Nurlailah Purna Tugas di MI Muhammadiyah 3 Gosari

Meningkatkan Nalar Siswa: Guru SD Muri dan Almadany Dilatih Menyusun Soal Berpikir Kritis

27 Okt 2026 - 15:17 WIB

Meningkatkan Nalar Siswa: Guru SD Muri dan Almadany Dilatih Menyusun Soal Berpikir Kritis

Antisipasi Hujan di Tengah Terik: Prakiraan Cuaca BMKG untuk Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik 27 Oktober 2026

27 Okt 2026 - 09:44 WIB

Antisipasi Hujan di Tengah Terik: Prakiraan Cuaca BMKG untuk Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik 27 Oktober 2026
Trending di Pendidikan