KlikMojok – Pada Senin, 26 Oktober 2026, para guru dari SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) dan SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) di Gresik mengikuti program pendampingan pembelajaran yang berfokus pada pelatihan menyusun soal yang melatih nalar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Kegiatan ini mengajak para pendidik untuk merancang pertanyaan dengan tingkat kemampuan berpikir yang bervariasi, salah satunya adalah soal mengenai kejujuran untuk siswa kelas 3.
Pendampingan tersebut dihadiri oleh dua Pengawas Pembina SD/MI Muhammadiyah Gresik dari Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik. Kedua pemateri tersebut, masing-masing ahli di bidangnya, memberikan penguatan sesuai dengan kompetensi mereka.
Ria Pusvita Sari, M.Pd., seorang STEM Certified Trainer, memfokuskan pembahasannya pada numerasi. Sementara itu, Luluk Subaidah, S.Pd., memberikan penguatan mendalam mengenai literasi.
Vita, sapaan akrab Ria Pusvita Sari, menjelaskan bahwa numerasi tidak hanya sekadar kemampuan berhitung, tetapi juga melibatkan kemampuan menggunakan konsep, angka, simbol, dan data untuk memahami berbagai situasi serta menyelesaikan persoalan. Penguatan numerasi, menurutnya, harus membantu siswa dalam membaca informasi, mengenali pola, membandingkan data, dan menggunakan penalaran secara efektif.
“Numerasi bukan sekadar kemampuan berhitung, tetapi juga bagaimana peserta didik mampu memahami persoalan, mengolah informasi, dan menemukan solusi,” jelas Ria.
Menurut Vita, pengembangan numerasi dapat diintegrasikan melalui berbagai mata pelajaran. Guru-guru diimbau untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga penerapan numerasi tidak terbatas hanya pada pelajaran Matematika.
Dalam proses pengembangan ini, Vita menekankan urgensi menyusun pertanyaan yang selaras dengan tujuan pembelajaran dan tingkat kemampuan berpikir siswa.
“Karena itu, guru perlu merancang soal secara tepat dengan tingkatan yang berbeda agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara bertahap,” lanjutnya.
Soal yang dirancang secara tepat, menurut Vita, akan membantu siswa dalam menemukan informasi penting, mengenali inti persoalan, dan menentukan jawaban berdasarkan penalaran yang logis. Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan proses berpikir mereka. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berfokus pada jawaban akhir, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap persoalan dan langkah-langkah penyelesaiannya.
Vita memandang soal sebagai alat penting untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus mengukur hasil belajar siswa. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan harus disusun secara terarah agar siswa dapat mengembangkan pemahaman secara bertahap dan komprehensif.
Di sisi lain, Luluk Subaidah menjelaskan bahwa kemampuan literasi perlu terus dikembangkan melalui beragam kegiatan pembelajaran. Kelancaran membaca dan keterampilan menulis harus diiringi dengan kemampuan memahami isi bacaan, menemukan gagasan utama, menghubungkan informasi, serta menyampaikan pemikiran secara runtut dan sistematis.
Menurut Luluk, guru dapat mengajak siswa untuk membaca dengan tujuan yang jelas, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang telah diperoleh. Melalui kegiatan-kegiatan semacam itu, siswa belajar mengolah isi bacaan menjadi pengetahuan yang bermakna. Menulis juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengemukakan gagasan dan menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari.
Luluk juga menjelaskan keterkaitan erat antara literasi dan numerasi dalam proses belajar. Siswa membutuhkan kemampuan memahami teks saat membaca persoalan yang disajikan, kemudian menggunakan penalaran numerasi untuk menafsirkan angka atau data yang menyertainya. Penguatan kedua kemampuan ini, menurut Luluk, dapat dipadukan melalui aktivitas seperti menelaah informasi, membaca tabel, membandingkan angka, dan menjelaskan alasan di balik suatu jawaban. Melalui kegiatan interaktif seperti itu, siswa memperoleh kesempatan untuk terlibat aktif dalam proses menemukan, memahami, dan menggunakan pengetahuan.
Dalam pendampingannya, Luluk secara spesifik membahas penyusunan soal level 1, level 2, dan level 3. Ia menjelaskan bahwa ketiga tingkatan ini digunakan untuk mengembangkan pertanyaan yang secara bertahap mengukur kemampuan berpikir siswa.
“Penyusunan soal perlu mendorong peserta didik untuk bukan sekadar menjawab, tetapi dapat menganalisis informasi, menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata, dan menemukan solusi atas suatu persoalan,” jelas Luluk.
Ia memaparkan bahwa pada level 1, soal diarahkan untuk menguji kemampuan mengenali atau mengingat informasi dasar. Level 2 mendorong siswa untuk memahami dan menerapkan konsep dalam situasi tertentu. Sementara itu, level 3 mengajak siswa untuk menganalisis informasi serta menentukan solusi atas persoalan yang disajikan. Pembagian tingkatan ini, menurut Luluk, membantu guru dalam menyesuaikan pertanyaan dengan kemampuan berpikir yang ingin dikembangkan. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami persoalan secara lebih mendalam, bukan semata-mata untuk meningkatkan tingkat kesulitan soal.
Dengan penyusunan soal yang terarah, Luluk melanjutkan, guru dapat membantu siswa memahami maksud pertanyaan, menemukan informasi penting, dan menyusun jawaban secara tepat. Proses ini juga secara efektif melatih kebiasaan berpikir kritis sejak usia dini.
Materi yang telah disampaikan kemudian diterapkan melalui tugas praktikum. Setiap guru diminta menyusun soal sesuai dengan materi pembelajaran masing-masing, lalu mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lain untuk dibahas dan didiskusikan bersama.
Salah satu peserta yang mempresentasikan hasil tugasnya adalah Muhammad Hilmi Fakhruddin, guru Ismuba—Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab—dari SD Muri. Ia memaparkan rancangan soal Pendidikan Agama Islam untuk siswa kelas III dengan materi akhlak, khususnya mengenai sikap jujur. Rancangan soal Hilmi disusun dalam tiga tingkatan. Pada level 1, siswa diarahkan untuk mengenali perilaku jujur melalui pertanyaan sederhana. Pada level 2, siswa diminta memahami situasi dan menentukan perilaku yang mencerminkan kejujuran. Sementara itu, soal level 3 mengajak siswa menganalisis persoalan kontekstual dan menentukan tindakan yang sesuai dengan nilai akhlak Islam.
“Melalui penyusunan soal bertingkat, saya berupaya menghadirkan pembelajaran akhlak yang tidak hanya menguji pemahaman siswa tentang kejujuran, tetapi juga mengajak mereka mengenali dan menerapkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, soal menjadi sarana untuk membangun pemahaman sekaligus menanamkan nilai-nilai Islami sejak dini,” kata Hilmi.
Dalam presentasinya, Hilmi menekankan bahwa siswa perlu memahami situasi yang disajikan, mempertimbangkan berbagai pilihan tindakan, dan menghubungkan nilai kejujuran dengan pengalaman pribadi mereka. Presentasi Hilmi ini menjadi salah satu contoh konkret penerapan materi pendampingan pada mata pelajaran di kelas. Para guru lainnya juga turut mempresentasikan hasil tugas masing-masing. Melalui tugas dan diskusi bersama ini, mereka dapat bertukar gagasan serta memperoleh masukan berharga untuk memperbaiki rancangan soal mereka di masa mendatang.












