KlikMojok – Pada Ahad, 18 Oktober 2026, sebuah momen penting terjadi di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, menandai langkah progresif Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur menuju inklusivitas. Di tengah rangkaian penutupan Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 organisasi perempuan muda Muhammadiyah tersebut, Zahrotul Jannah, seorang anggota formatur terpilih, menyerahkan sepotong kain seragam Nasyiah kepada Aulia. Aulia, seorang perempuan muda penyandang disabilitas daksa, hadir dengan kursi rodanya, didampingi oleh Zahrotul Jannah melintasi lorong kelas. Pertemuan ini, yang juga melibatkan Himpunan Difabel Muhammadiyah (Hidimu) Ponorogo, secara signifikan membawa isu kesetaraan dan partisipasi difabel ke dalam agenda Musywil Nasyiah. Seragam batik yang diserahkan itu bukan sekadar pakaian, melainkan simbol ajakan kuat bagi perempuan muda difabel untuk turut serta bergerak dan berkontribusi dalam kegiatan organisasi.
Penyerahan kain seragam Nasyiatul Aisyiyah oleh Zahrotul Jannah kepada Aulia di kampus Universitas Muhammadiyah Ponorogo tersebut menegaskan komitmen Nasyiah untuk membuka pintu partisipasi seluas-luasnya. Kain itu secara eksplisit melambangkan undangan bagi Aulia, dan secara lebih luas, bagi seluruh perempuan muda difabel, untuk bergabung dan secara aktif mengambil peran dalam berbagai inisiatif serta kegiatan yang dijalankan oleh organisasi perempuan muda Muhammadiyah ini.
Aulia sendiri dikenal sebagai seorang penyandang disabilitas daksa yang aktif beraktivitas sebagai kreator konten. Kehadirannya di acara tersebut bukan tanpa alasan, melainkan atas undangan khusus yang berakar dari keinginan kuat Zahro untuk mengintegrasikan dan melibatkan perempuan muda difabel dalam gerakan dakwah serta program kaderisasi Nasyiah. Ini menunjukkan visi Nasyiah yang ingin memperluas jangkauan dan relevansi organisasinya.
Mengenai visi tersebut, Zahrotul Jannah, S.Kom., M.M., yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Zahro, secara tegas menyatakan, “Ke depan dakwah dan ruang gerak Nasyiah mestinya juga menyentuh perempuan muda difabel.” Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi bagi Nasyiah untuk tidak hanya fokus pada kelompok umum, tetapi juga merangkul dan memberdayakan potensi yang dimiliki oleh perempuan muda dengan disabilitas.
Sebagai salah seorang anggota formatur terpilih Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur untuk periode kepengurusan 2026–2030, Zahro memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi ini. Pertemuan signifikan antara Zahro dan Aulia bermula dari inisiatif komunikasi yang dilakukan Zahro dengan Himpunan Difabel Muhammadiyah (Hidimu) Ponorogo, sebuah langkah awal untuk menjalin kolaborasi.
Pada kesempatan tersebut, Zahro secara proaktif mencari informasi mengenai perempuan muda difabel yang potensial untuk diundang dan berpartisipasi dalam rangkaian acara Musywil. Secara spesifik, ia ingin mereka hadir dalam salah satu agenda forum yang menghadirkan Kalis Mardiasih sebagai narasumber, menunjukkan keinginan untuk memberikan platform inspiratif bagi mereka.
Ajakan dari Zahro tersebut disambut dengan antusias oleh Hidimu Ponorogo. Oleh karena itu, Aulia hadir dalam acara tersebut tidak sendiri, melainkan bersama jajaran pengurus komunitas Hidimu. Pertemuan penting antara perwakilan Nasyiah dan Hidimu berlangsung di ruang rapat lantai 1 Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Ponorogo, tepat pada hari penutupan Musywil yang bersejarah itu.
Dalam pertemuan tersebut, para pengurus Hidimu Ponorogo berkesempatan untuk memaparkan secara komprehensif mengenai sejarah pembentukan komunitas mereka, beragam kegiatan yang telah sukses dijalankan, serta berbagai capaian dan prestasi yang berhasil diraih. Momen ini menjadi platform berharga bagi Nasyiah untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika dan perjuangan gerakan difabel yang ada di Ponorogo.
Bagi Zahro, kehadiran dan pemaparan dari Hidimu Ponorogo menjadi pengingat yang kuat akan betapa krusialnya upaya untuk menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi perempuan muda difabel agar dapat terlibat secara penuh dalam berbagai kegiatan bersama. Ini bukan hanya tentang kehadiran fisik, tetapi juga partisipasi aktif dalam setiap aspek.
Zahro lebih lanjut menjelaskan bahwa, “Hidimu Ponorogo menjadi contoh bagaimana masyarakat ketika melibatkan difabel bukan lagi hanya memberikan bantuan berupa sembako atau uang, tetapi mengajak mereka berkegiatan bersama sehingga prinsip kesetaraan difabel di ruang publik benar-benar terwujud.” Pernyataan ini menyoroti pergeseran paradigma dari sekadar memberikan bantuan menjadi mendorong partisipasi aktif dan setara.
Berbekal insights dari pertemuan tersebut, Zahro mengidentifikasi adanya peluang besar untuk membangun kolaborasi strategis antara Nasyiatul Aisyiyah dan Hidimu. Ia menyadari bahwa Muhammadiyah, sebagai organisasi induk, telah memiliki berbagai wadah dan fasilitas bagi penyandang disabilitas untuk berkegiatan dan memperjuangkan hak serta kebutuhan mereka. Oleh karena itu, ruang perjumpaan dan sinergi antara gerakan perempuan muda Nasyiah dengan komunitas difabel dapat diperluas secara signifikan melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan di lingkungan masing-masing.
Hidimu Ponorogo sendiri adalah salah satu komunitas difabel di bawah naungan Muhammadiyah di Jawa Timur yang telah memiliki struktur kepengurusan yang solid. Lingkup kegiatan komunitas ini tidak hanya terbatas pada pemberdayaan, tetapi juga mencakup upaya gigih dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, khususnya dalam memperoleh akses layanan kesehatan yang memadai dan setara.
Sebagai contoh konkret dari perjuangan tersebut, Hidimu Ponorogo aktif mengupayakan layanan kesehatan gratis di Rumah Sakit Muhammadiyah Ponorogo. Ikhtiar mulia ini ternyata mendapatkan sambutan yang sangat positif dan dukungan penuh dari direktur beserta seluruh jajaran manajemen rumah sakit, menunjukkan adanya keselarasan visi untuk melayani masyarakat tanpa terkecuali.
Zahro secara khusus mengungkapkan apresiasinya yang tinggi terhadap keterbukaan dan kesediaan Hidimu Ponorogo dalam membangun jembatan kerja sama. Ia mengakui bahwa antusiasme luar biasa serta kekompakan yang ditunjukkan oleh para pengurus Hidimu telah meninggalkan kesan mendalam selama pertemuan berlangsung.
Dengan penuh haru, Zahro menyampaikan perasaannya, “Masyaallah, luar biasa antusiasmenya, kekompakannya, dan juga penerimaannya terhadap difabel. Saya terharu sekali.” Ungkapan ini menggambarkan betapa tersentuhnya Zahro melihat semangat dan dedikasi komunitas Hidimu.
Berangkat dari pertemuan yang inspiratif tersebut, Zahro menaruh harapan besar agar Aulia tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga dapat secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan Nasyiatul Aisyiyah di lingkungan terdekatnya. Harapan yang sama juga ia sampaikan kepada seluruh perempuan muda difabel lainnya, agar mereka semua memiliki kesempatan yang setara untuk mengambil peran penting dalam gerakan dakwah dan proses kaderisasi organisasi.
Penyerahan kain seragam kepada Aulia, oleh karena itu, merupakan langkah awal dan simbolis dari ajakan yang lebih luas ini. Pasca-pertemuan di Ponorogo, Zahro sangat berharap bahwa akan ada inisiatif-inisiatif kegiatan lanjutan yang secara konkret dapat mempertemukan kader-kader Nasyiah dengan perempuan muda difabel di lingkungan mereka masing-masing, guna membangun interaksi dan kolaborasi yang berkelanjutan.












