Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Empat Transformasi Kunci Pendidikan dari Prof. Biyanto untuk Mutu & Karakter di Milad ke-78 Ponpes Karangasem

badge-check

Empat Transformasi Kunci Pendidikan dari Prof. Biyanto untuk Mutu & Karakter di Milad ke-78 Ponpes Karangasem Perbesar

KlikMojok – Dalam rangka memperingati milad ke-78 Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran, Lamongan, Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., menyampaikan pandangannya mengenai empat pilar transformasi pendidikan. Paparan ini disampaikan di hadapan para guru dan karyawan pesantren pada puncak peringatan tersebut, yang berlangsung di Aula Abdurrahman Syamsuri pada Ahad, 18 Oktober 2026. Keempat transformasi pendidikan yang ditekankan oleh Prof. Biyanto meliputi aspek infrastruktur, digitalisasi, pembelajaran, dan budaya sekolah. Menurutnya, peran guru sangat krusial sebagai jantung penguatan mutu pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.

Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, secara khusus mengajak seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran, Lamongan, untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam bidang pendidikan. Ajakan ini berfokus pada implementasi empat transformasi kunci yang telah disebutkan, yaitu infrastruktur, digitalisasi, pembelajaran, dan budaya sekolah, sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren.

Pesan penting mengenai transformasi pendidikan ini disampaikan oleh Prof. Biyanto dalam sebuah acara bertajuk “Talkshow Pendidikan dan Silaturahmi Guru Besar Alumni Muhammadiyah Paciran Lamongan”. Acara yang diselenggarakan di Aula Abdurrahman Syamsuri pada Ahad, 18 Oktober 2026, ini sekaligus menandai puncak peringatan milad ke-78 Pondok Pesantren Karangasem, yang diketahui telah berdiri sejak tanggal 18 Oktober 1948.

Selain perannya di PWM Jawa Timur, Prof. Biyanto juga merupakan Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan ucapan selamat atas peringatan milad Pondok Pesantren Karangasem. Biyanto juga tidak lupa memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi signifikan yang telah diberikan oleh para alumni pesantren, yang kiprahnya telah meluas dari skala daerah hingga ke tingkat nasional.

Forum talkshow pendidikan ini semakin diperkaya dengan kehadiran dua guru besar terkemuka lainnya. Mereka adalah Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., seorang ahli di bidang teknologi pembelajaran, dan Prof. Dr. H. Uril Bahruddin, M.A., yang merupakan guru besar dalam bidang bahasa Arab. Kehadiran para pakar ini menambah bobot diskusi yang berlangsung.

Suasana di Aula Abdurrahman Syamsuri terlihat semarak dengan kehadiran para guru dan karyawan yang mengenakan beragam motif batik. Selain itu, sejumlah tokoh masyarakat yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Karangasem turut hadir, menjadikan acara ini sebagai momen berharga untuk mempertemukan seluruh keluarga besar pesantren. Kesempatan ini dimanfaatkan tidak hanya untuk menjalin silaturahmi, tetapi juga untuk secara serius mendiskusikan arah dan masa depan pendidikan.

Memasuki pembahasan inti, Prof. Biyanto menguraikan transformasi pertama yang berfokus pada infrastruktur pendidikan. Beliau menyatakan harapannya agar lembaga pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Karangasem dapat proaktif memanfaatkan program revitalisasi sekolah yang digulirkan oleh pemerintah. Tujuannya adalah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan fasilitas belajar yang ada.

Menjelaskan lebih lanjut mengenai pentingnya infrastruktur, Prof. Biyanto menegaskan, “Lingkungan fisik yang mendukung akan membantu anak-anak menjalani proses belajar dengan lebih baik. Karena itu, pembangunan dan perbaikan fasilitas perlu dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan.” Ini menunjukkan bahwa investasi pada sarana fisik adalah langkah fundamental dalam peningkatan kualitas edukasi.

Transformasi kedua yang diusung adalah digitalisasi. Prof. Biyanto berpendapat bahwa pemanfaatan teknologi merupakan keniscayaan untuk mendukung guru dalam menyajikan materi pembelajaran secara lebih interaktif dan menarik. Sebagai contoh, penggunaan papan interaktif digital dan televisi pintar dapat menjadi sarana efektif untuk mengembangkan metode belajar yang lebih bervariasi dan tidak monoton.

Namun, Prof. Biyanto juga mengingatkan bahwa pemanfaatan perangkat teknologi tersebut memerlukan tingkat kesiapan yang memadai dari para guru. Oleh karena itu, kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi harus terus ditingkatkan melalui pelatihan dan pengembangan berkelanjutan. Hal ini penting agar fasilitas digital yang telah disediakan dapat benar-benar dioptimalkan dan terintegrasi secara efektif dalam proses pembelajaran.

Prof. Biyanto menekankan bahwa pembenahan sarana fisik dan penyediaan teknologi modern harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi para pendidik. Menurutnya, guru memiliki peran sentral dalam menentukan sejauh mana fasilitas yang ada dapat secara optimal membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran.

Berlanjut ke transformasi ketiga, yaitu pada aspek pembelajaran, Prof. Biyanto kembali menegaskan posisi guru sebagai ujung tombak sekaligus jantung dari seluruh sistem pendidikan. Ia menggarisbawahi bahwa kualifikasi akademik setingkat sarjana yang dimiliki oleh guru perlu terus dilengkapi dengan pengembangan kompetensi, peningkatan keterampilan mengajar, serta kemampuan adaptif untuk memahami kebutuhan spesifik dari setiap peserta didik.

Dalam konteks pembelajaran, Prof. Biyanto juga menyoroti keteladanan yang ditunjukkan oleh K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dalam metode pengajaran Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa K.H. Ahmad Dahlan secara konsisten menautkan antara pemahaman mendalam terhadap ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an dengan implementasi dan pengamalannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai ilustrasi, Prof. Biyanto menuturkan, “Surah Al-Ma’un atau Qur’an surah ke-107, misalnya, dipelajari secara berulang selama berbulan-bulan sebelum beralih ke surah lain.” Hal ini menunjukkan penekanan pada pendalaman dan internalisasi nilai.

Lebih lanjut, Prof. Biyanto juga mengungkapkan bahwa pembelajaran Surah Al-Asr, surah ke-103 yang hanya terdiri dari tiga ayat, bahkan bisa memakan waktu hingga tujuh sampai delapan bulan. Kisah-kisah ini secara kuat menekankan betapa pentingnya kesungguhan, ketekunan, dan komitmen yang tinggi dalam proses memahami suatu pelajaran, serta mengamalkannya dalam kehidupan.

Akhirnya, transformasi keempat yang dibahas adalah mengenai budaya sekolah. Prof. Biyanto menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada proses formal di kelas, melainkan juga terbentuk melalui kebiasaan sehari-hari, keteladanan yang diberikan, interaksi sosial antarwarga sekolah dan pesantren, serta nilai-nilai luhur yang secara konsisten dijalankan dalam keseharian.

Dalam poin ini, Prof. Biyanto secara khusus menekankan urgensi untuk menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif. Lingkungan ini harus mampu memfasilitasi proses belajar-mengajar, memberikan ruang bagi pengembangan potensi diri setiap siswa, dan secara aktif berkontribusi dalam pembentukan karakter mereka. Dengan terciptanya suasana demikian, siswa diharapkan dapat merasa betah dan memandang sekolah sebagai “rumah kedua” mereka.

Guna membantu para pendidik memahami lebih dalam tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Prof. Biyanto merekomendasikan sebuah buku penting. Buku tersebut berjudul “The Anxious Generation” karya Jonathan Haidt, yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Generasi Cemas”.

Buku “Generasi Cemas” ini mengupas tuntas mengenai fenomena kecemasan yang melanda generasi muda, serta mengaitkannya dengan berbagai perubahan dalam kehidupan sosial dan pesatnya perkembangan teknologi digital. Prof. Biyanto berharap, pembahasan dalam buku ini dapat menjadi bahan refleksi berharga bagi para pendidik agar mereka dapat lebih cermat dalam memperhatikan pengalaman sosial dan tahapan perkembangan karakter setiap peserta didik di era modern ini.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dini Hari yang Membara di Situbondo: Dua Rumah Ludes, Kisah Perjuangan Melawan Api

19 Okt 2026 - 12:39 WIB

Dini Hari yang Membara di Situbondo: Dua Rumah Ludes, Kisah Perjuangan Melawan Api

Di Balik Deru Ombak Lumajang: Kisah Pencarian Nelayan yang Hilang dan Pelajaran dari Laut

19 Okt 2026 - 12:38 WIB

Di Balik Deru Ombak Lumajang: Kisah Pencarian Nelayan yang Hilang dan Pelajaran dari Laut

Nasyiatul Aisyiyah Jatim Perkuat Inklusivitas: Ajak Perempuan Difabel Berperan dalam Gerakan

19 Okt 2026 - 12:36 WIB

Nasyiatul Aisyiyah Jatim Perkuat Inklusivitas: Ajak Perempuan Difabel Berperan dalam Gerakan

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

19 Okt 2026 - 09:44 WIB

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial

19 Okt 2026 - 09:43 WIB

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial
Trending di Pendidikan