KlikMojok – Aroma amis lumpur dan ikan yang membusuk menusuk hidung, bukan lagi aroma segar air payau yang biasa menyapa pagi di pesisir Mengare, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Di hadapan petak-petak tambak yang sebagian mengering, sebagian lain dipenuhi air keruh kekuningan, wajah-wajah petambak menyiratkan kegelisahan. Spanduk-spanduk protes terbentang, menjadi saksi bisu atas persoalan pengurukan sungai yang kini mengancam denyut nadi kehidupan mereka.
Keresahan warga Mengare Gresik ini bukan tanpa alasan. Aktivitas pengurukan alur sungai di kawasan itu, yang merupakan bagian dari proyek raksasa Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) yang dikelola PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) bersama Badan Pengusahaan Kawasan (BPK), telah mengubah lanskap ekologis secara drastis. Perubahan alur yang masif akibat material urukan dinilai menyumbat pasokan air tawar maupun pasang surut laut yang esensial bagi petak tambak produktif warga. Ini adalah sebuah ironi, ketika di satu sisi pembangunan digembor-gemborkan sebagai pendorong kemajuan, namun di sisi lain mengikis fondasi ekonomi dan lingkungan yang telah menopang masyarakat lokal selama turun-temurun.
Malik (45), seorang petambak yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari hasil tambak di Mengare, merasakan dampak paling pahit. Lahan yang ia garap, meski belum masuk dalam skema pembebasan lahan industri, kini tak lagi bisa berproduksi optimal. Akses vital aliran air sungai di sekitarnya sudah terlanjur tertutup, memutus harapan akan panen yang berkelanjutan. “Kami sebagai penyewa tambak tentu sangat dirugikan. Air sungai yang biasanya mengalir lancar ke tambak sekarang tersumbat. Kondisi air menjadi sangat keruh, sebagian tambak mengering, dan banyak ikan yang mati. Harapan kami ada penyelesaian konkret, termasuk ganti rugi serta pengerukan normalisasi sungai,” tegas Malik, pada Senin (2/11/2026).
Suara Malik adalah representasi dari ratusan petambak lain yang kini dihadapkan pada dilema besar. Mereka mendesak agar aktivitas pengurukan alur sungai dievaluasi total secara sementara. Lebih dari itu, warga menuntut adanya kejelasan langkah penyelesaian dan dialog terbuka dari pihak pengelola kawasan. Ini bukan sekadar tuntutan ganti rugi, melainkan seruan untuk pengakuan atas hak-hak mereka sebagai komunitas yang terdampak, serta pembelajaran bagi semua pihak tentang pentingnya pembangunan berkelanjutan yang inklusif.
Abdul Amin (60), tokoh warga setempat, mempertegas bahwa aksi pemasangan spanduk aspirasi ini tidak dimaksudkan untuk menghambat investasi atau iklim pembangunan industri terpadu di Kabupaten Gresik. Ini adalah penegasan penting yang menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perubahan. Mereka memahami urgensi pembangunan, namun juga menginginkan adanya keseimbangan. Masyarakat berharap ekspansi industri skala besar dapat berjalan beriringan dengan asas kelestarian lingkungan serta perlindungan ekonomi lokal, khususnya bagi petambak dan nelayan yang menggantungkan mata pencarian dari sektor perikanan. “Kami tidak menolak pembangunan industri. Yang kami harapkan hanyalah komunikasi yang transparan, kepastian solusi, serta pemulihan fungsi sungai agar masyarakat pesisir tidak terus-menerus dirugikan,” ujar Abdul Amin.
Menanggapi dinamika ini, Community Development (Comdev) Manager PT BKMS, Yudi Darjanto, menyatakan bahwa pengembangan kawasan industri JIIPE senantiasa mengedepankan asas regulasi dan perlindungan lingkungan sekitar. Pihak manajemen berjanji akan berkoordinasi intensif dengan instansi teknis terkait guna melakukan verifikasi fakta serta evaluasi di lapangan. “Terkait dinamika yang disampaikan warga, kami akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menelaah kondisi lapangan, khususnya dari kacamata aspek teknis. Kami sangat terbuka terhadap masukan masyarakat, dan saat ini tim internal kami sudah turun langsung ke lokasi,” pungkas Yudi. Pernyataan ini membuka ruang bagi dialog dan solusi, sebuah langkah awal yang diharapkan dapat mengembalikan senyum di wajah para petambak Mengare.
Kisah Mengare menjadi cermin bagi banyak daerah lain di Indonesia, di mana laju pembangunan kerap berbenturan dengan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat atau lokal. Ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya pendekatan humanis dan ekologis dalam setiap proyek investasi. Membangun sebuah kawasan industri memang sebuah visi besar, namun menjaga aliran sungai yang menjadi sumber kehidupan dan tradisi lokal adalah sebuah misi kemanusiaan yang tak kalah penting. Harapannya, dari polemik ini akan lahir solusi konkret yang tidak hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi juga meletakkan fondasi bagi pembangunan yang benar-benar adil dan berkelanjutan, di mana kemajuan industri dapat bersanding harmonis dengan kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat lokal.












