Menu

Mode Gelap
Inisiasi Pendidikan Karakter, Spemdalas Salurkan Donasi Rp16,5 Juta untuk Korban Bencana NTT Beasiswa Rp160 Juta SMA Muhammadiyah 8 Gresik: Dukung 100 Siswa Berprestasi hingga Anak AUM Bukan Sekadar Kemah Biasa, PerJusa MTsN 2 Garut Cetak 370 ‘Penggalang Tangguh’ Siap Hadapi Tantangan Zaman! Sorotan Tajam di Vladivostok: Prabowo-Putin Bertemu, Perkuat Hubungan Indonesia-Rusia Usai Absen dari Agenda Krusial! Menambang Profesionalisme: Jatim Tingkatkan Kualitas Pengawas Pertambangan Lewat Sertifikasi Jejak Data Tambang: ESDM Jatim Gali Transparansi Lewat MinerbaOne untuk Kesejahteraan

Pendidikan

Melestarikan Wayang Beber Gedompol: Pusaka Seni Rupa Kuno dan Jejak Politik Mataram

badge-check


					Melestarikan Wayang Beber Gedompol: Pusaka Seni Rupa Kuno dan Jejak Politik Mataram Perbesar

KlikMojok – Pagelaran Wayang Beber Gedompol kembali memukau penonton di Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Dalang Ki Tri Hartanto membentangkan gulungan adegan pertama dalam pertunjukan berdurasi 60 menit, menandai kelanjutan tradisi seni rupa kuno yang merupakan pusaka Keraton Kartasura, diselamatkan ke pegunungan Pacitan saat Geger Pacinan berkecamuk pada era 1740-an.

Seni Wayang Beber di Desa Gedompol ini terus dirawat dan dihidupkan, salah satunya melalui penyelenggaraan Festival Kampoeng Wayang Beber. Acara tersebut berpusat di Alun-alun Ki Nolodremo, menjadikannya titik kumpul utama bagi berbagai aktivitas masyarakat.

Festival Kampoeng Wayang Beber pada tahun 2026 ini dirancang sebagai rangkaian kegiatan yang komprehensif, menggabungkan pertunjukan kesenian, prosesi adat, keterlibatan warga, dan geliat ekonomi lokal.

Kepala Desa Gedompol, Susanto, menjelaskan bahwa Wayang Beber adalah bentuk seni rupa berupa gambar wayang yang dilukis di atas kertas khusus yang disebut dluwang. Kertas ini dibuat dari olahan serat kulit kayu pohon saeh, dengan teknik melukis sungging yang menyerupai proses membatik.

Perangkat Wayang Beber Gedompol terdiri dari enam gulungan. Setiap gulungan menampilkan empat adegan atau panil yang dikenal sebagai pejagong, sehingga secara keseluruhan membentuk 24 adegan cerita visual yang saling berkesinambungan.

Namun, terdapat aturan adat yang ketat terkait adegan terakhir. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, dari total 24 gambar, hanya 23 adegan yang diperbolehkan untuk dibeber atau dipertontonkan kepada publik.

“Adegan ke 24 bersifat sangat sakral dan ditutup rapat guna menghindari musibah atau kemalangan bagi desa,” kata Susanto.

Menurut Susanto, terdapat dua versi mengenai asal-usul pusaka wayang ini. Versi cerita rakyat lokal mengisahkan bahwa seni beberan kertas ini adalah hadiah dari Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, kepada abdi dalem bernama Ki Nolodermo yang berhasil menyembuhkan putri raja dari penyakit parah.

Ki Nolodermo kemudian membawa dan merawat pusaka tersebut secara turun-temurun di wilayah Pacitan.

Sementara itu, catatan sejarah yang ditulis oleh R.M. Sajid pada tahun 1958 menyebutkan bahwa perangkat wayang tersebut merupakan pusaka Keraton Kartasura. Pusaka ini diselamatkan dan dibawa ke kawasan pegunungan Pacitan ketika peristiwa Geger Pacinan terjadi pada era 1740-an.

Berbeda dengan wayang kulit yang seringkali mengangkat kisah epik Ramayana atau Mahabarata, Wayang Beber Gedompol membawakan siklus cerita Panji melalui lakon Jaka Kembang Kuning.

Narasi ini berpusat pada kisah perjuangan, kepahlawanan, serta percintaan antara Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri.

Susanto menjelaskan bahwa cerita Jaka Kembang Kuning ditafsirkan sebagai pasemon atau kiasan politik. Ini merujuk pada peristiwa terusirnya Sultan Mataram Amangkurat I dari Keraton Plered, sekaligus melambangkan perjuangan untuk mengembalikan keharmonisan takhta.

Selain itu, penyatuan karakter Panji dan Sekartaji juga melambangkan kosmologi Jawa yang menekankan dualisme dan keseimbangan dunia sebagai kunci untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Fungsi Wayang Beber dalam kehidupan sosial religius masyarakat Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, sangatlah kuat. Pementasannya rutin diadakan untuk berbagai upacara, mulai dari ruwatan guna membuang nasib buruk, pemenuhan nazar pribadi warga, hingga tradisi tahunan Bersih Desa.

“Festival Kampoeng Wayang Beber ini kita adakan satu tahun sekali dan dirangkaikan dengan ruwatan. Tujuannya untuk melestarikan budaya yang ada di Gedompol,” ujar Kepala Desa Gedompol, Susanto.

Kepala Desa Gedompol tersebut juga menekankan betapa pentingnya menjaga identitas daerah agar tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman. “Wayang beber ini sejarah yang sudah lama. Jadi harus kita uri-uri, kita rawat dan kita lestarikan,” tutur Susanto, menggarisbawahi komitmen pemerintah desa bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur tersebut.

Pelaksanaan pementasan Wayang Beber ini diatur oleh aturan khusus. Dalang yang memimpin pertunjukan wajib berasal dari keturunan laki-laki langsung garis silsilah Ki Nolodermo.

Urutan estafet kepemimpinan dalang tercatat dari generasi ke generasi, dimulai dari Ki Tawang Alun, Ki Nalongso, Ki Citrawangsa, Ki Gandayuta, Ki Singanangga, Ki Sarnen, Ki Sumardi, hingga generasi kontemporer yaitu Ki Mangun dan Ki Tri Hartanto, yang saat ini mengelola Yayasan Rumah Wayang Beber Karangtalun.

Sisi kesakralan ritual ini diimbangi dengan pemberian ruang kreasi bagi generasi muda, namun tetap tanpa merusak tatanan baku yang telah ada. “Upacara adat itu pakem. Memang konsepnya seperti itu ketika ruwatan. Ada kreasi dari teman-teman Karang Taruna, tetapi tentunya tidak merubah pakem yang ada,” kata Susanto.

Pagelaran seni dan ritual adat ini juga memberikan dampak positif dengan mendorong geliat ekonomi masyarakat setempat. Pemerintah Desa Gedompol bahkan menggratiskan biaya sewa lapak bagi warga lokal yang ingin berdagang selama festival berlangsung.

“Lapak kami prioritaskan untuk warga lokal. Kalau ada orang luar boleh saja asal lapaknya masih ada, tetapi didominasi orang lokal. Gratis, hanya uang kebersihan saja,” ungkap Susanto.

Upaya pelestarian Wayang Beber Gedompol ini juga mendapatkan dukungan penuh dari elemen pemuda. Ketua Karang Taruna Pacitan, Mulyadi, M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan generasi muda dalam mengelola agenda kebudayaan ini.

“Keterlibatan pemuda dalam menjaga tradisi lokal seperti wayang beber ini adalah kunci agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita sejarah saja, melainkan menjadi identitas yang hidup dan membanggakan bagi generasi mendatang,” ujar Mulyadi di sela-sela perhelatan acara.

Dukungan akademis terhadap keberadaan Wayang Beber Gedompol juga datang dari berbagai perguruan tinggi seni. Para peneliti seni dan kebudayaan menilai bahwa struktur lukisan pada dluwang tersebut mengandung nilai estetika serta teknik bahasa rupa yang sangat tinggi.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang juga merupakan dalang pementasan, Ki Sigit Setiawan, S.Sn., menyatakan bahwa Wayang Beber adalah sebuah mahakarya seni rupa naskah bergambar yang tidak ada duanya di dunia.

“Wayang Beber Gedompol bukan sekadar warisan visual, melainkan media tutur sekuensial yang mendahului konsep komik modern. Nilai estetika RWD atau Ruang-Waktu-Datar dalam beberan ini membuktikan betapa tingginya peradaban seni rupa leluhur kita,” jelas Ki Sigit Setiawan.

Sementara itu, peneliti budaya dari Institut Seni Indonesia, Dr. Luqman Haroni Said, M.Sn., menekankan pentingnya menjaga keaslian fungsi sosial seni tradisi di tengah masyarakat pemiliknya.

“Keberhasilan pelestarian Wayang Beber di Gedompol terletak pada fungsinya yang tetap melekat dalam kehidupan warga, seperti ritual ruwatan dan bersih desa. Selama fungsi sosial dan spiritual itu ada, Wayang Beber akan terus memiliki ruang hidup yang alami,” kata Luqman Haroni.

Pakar kebudayaan Jawa dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Mulyono, M.Hum., menambahkan bahwa narasi dalam Wayang Beber menyimpan rekaman sejarah dan pendidikan moral yang relevan melintasi berbagai zaman.

“Lakon Jaka Kembang Kuning membawa pesan pendidikan karakter, etika, serta resolusi konflik melalui simbolisme budaya. Ini adalah artefak hidup yang memadukan sejarah politik Mataram dengan sistem nilai kemanusiaan yang sangat halus,” ujar Mulyono.

Guna menjaga kerapuhan kertas dluwang asli yang telah berusia ratusan tahun, pementasan umum saat ini menggunakan media duplikat kertas.

Pertunjukan Wayang Beber Gedompol disajikan secara minimalis, diiringi oleh lima personel yang terdiri dari satu dalang serta empat penabuh instrumen musik tradisional yaitu kenong, rebab, kendang, dan gong.

Sinergi antara pemerintah desa, trah dalang, pemuda, akademisi, dan seluruh warga menjadi kunci utama yang menjadikan Wayang Beber Gedompol terus bertahan dan lestari. Perpaduan antara kepatuhan pada pakem tradisi dan keterbukaan terhadap ruang sosial membuktikan bahwa pusaka tertua Nusantara ini tetap bernapas dan relevan dalam menghidupi masyarakatnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Inisiasi Pendidikan Karakter, Spemdalas Salurkan Donasi Rp16,5 Juta untuk Korban Bencana NTT

4 September 2026 - 10:05 WIB

Beasiswa Rp160 Juta SMA Muhammadiyah 8 Gresik: Dukung 100 Siswa Berprestasi hingga Anak AUM

4 September 2026 - 10:01 WIB

Menambang Profesionalisme: Jatim Tingkatkan Kualitas Pengawas Pertambangan Lewat Sertifikasi

4 September 2026 - 06:14 WIB

Jejak Data Tambang: ESDM Jatim Gali Transparansi Lewat MinerbaOne untuk Kesejahteraan

4 September 2026 - 06:13 WIB

Ketika Cinta Berwujud Kode Palsu: Kisah Penipuan Pacar Online Modus IT Bank yang Menguras Hati dan Harta

3 September 2026 - 21:53 WIB

Trending di Pendidikan