Menu

Mode Gelap
HEBOH! Danantara Protes Keras Soal Target Setoran Rp120 Triliun ke Negara, Klaim Tak Tahu Apa-Apa? Debat Panas Guru PJOK vs Camat Gara-gara Dompet Hilang di Malaka, Rekaman Viral! Kobaran Merah di Driyorejo: Enam Jam Penuh Peluh Memadamkan Kebakaran PT Wings Surya Vocatama Perkuat Pendidikan Vokasi: Dua Kepala Sekolah Baru Bawa Visi Peningkatan Kualitas dan Karakter Bukan Sekadar Angka! Karakter Pemuda Jadi Sorotan Utama Penentu Kualitas Pembangunan Nasional Indonesia Bocah MTsN 5 Kebumen Sabet Emas POPDA Jateng 2026, Kepala Madrasah Bangga: Bukti Potensi Luar Biasa!

Pendidikan

Ketika Maulid Nabi Menjadi ‘Hari Raya Ketiga’: Merajut Persaudaraan Lewat Gotong Royong di Semerek Lamongan

badge-check


					Ketika Maulid Nabi Menjadi ‘Hari Raya Ketiga’: Merajut Persaudaraan Lewat Gotong Royong di Semerek Lamongan Perbesar

KlikMojok – Di tengah hiruk pikuk modernitas, sebuah tradisi unik nan menghangatkan masih lestari di Dusun Semerek, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Lamongan. Jauh dari sekadar perayaan keagamaan biasa, masyarakat setempat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara yang begitu mendalam, sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai “Hari Raya Ketiga”, menyusul Idulfitri dan Iduladha.

Bagi warga Semerek, momen kelahiran Rasulullah SAW ini bukan hanya tentang mengenang, tetapi juga tentang merajut kembali tali silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan menjaga semangat gotong royong yang telah diwariskan lintas generasi. Ini adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial mereka.

“Warga kami menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai hari raya ketiga, setelah Idul Fitri dan Idul Adha,” terang Imam Fadlli, seorang tokoh masyarakat setempat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Lamongan, dalam sebuah kesempatan pada Jumat (4/9/2026).

Tahun ini, perayaan tersebut diwarnai dengan serangkaian kegiatan edukatif dan keagamaan yang digagas oleh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al Hidayah. Mulai dari Festival Anak Saleh yang memupuk kreativitas dan akhlak anak-anak, pawai drumben yang meramaikan jalanan dusun, khataman Al-Qur’an sebagai penutup pengajian yang penuh berkah, hingga pengajian akbar yang menghadirkan penceramah untuk memperkaya ilmu agama warga.

Namun, dari semua rangkaian acara tersebut, ada satu ritual yang paling istimewa dan telah menjadi ciri khas peringatan Maulid Nabi di Dusun Semerek: tradisi gotong royong menyembelih dan mengolah daging kambing. Daging-daging ini kemudian diolah menjadi hidangan lezat untuk disantap bersama, sebuah simbol kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

“Kambing yang disembelih merupakan sedekah dari masyarakat. Tahun ini terkumpul 25 ekor, dan kita sembelih secara gotong royong di halaman balai dusun,” tutur Imam Fadlli, menggambarkan betapa kuatnya semangat berbagi di antara warga.

Kedermawanan warga Semerek tidak berhenti pada kambing. Mereka juga turut menyumbangkan berbagai kebutuhan lain untuk mendukung kegiatan tersebut, mulai dari beras, buah-buahan, sayuran, uang tunai, hingga bahan konsumsi lainnya. Semuanya berpadu dalam satu tujuan: menyukseskan perayaan yang diyakini membawa berkah ini.

Suasana kebersamaan semakin terasa kental saat proses penyembelihan dan memasak berlangsung. Setiap warga berbagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Kaum laki-laki sigap menangani penyembelihan dan penyiapan daging, sementara kaum perempuan dengan cekatan mengolahnya menjadi hidangan yang siap memanjakan lidah. Ini bukan sekadar pembagian kerja, melainkan sebuah orkestrasi sosial yang harmonis.

“Maulid Nabi menjadi salah satu momentum keagamaan yang selalu dinantikan masyarakat. Kami biasa menyebutnya sebagai hari raya ketiga. Jadi, selain Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, ada pula hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW,” ujar Imam, menegaskan kembali betapa vitalnya peringatan ini dalam kalender spiritual dan sosial masyarakat Semerek.

Menurut Imam, tradisi ini memiliki nilai yang jauh melampaui sekadar perayaan keagamaan. Maulid Nabi telah menjadi momentum berharga bagi warga untuk kembali berkumpul, saling membantu, dan memperkuat hubungan sosial yang mungkin tergerus oleh kesibukan sehari-hari. Ini adalah “sekolah” informal tentang kekompakan dan kepedulian.

“Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa berkumpul, saling membantu, dan bergotong royong. Semangatnya bukan hanya merayakan Maulid Nabi, tetapi juga menjaga kekompakan dan kerukunan warga,” kata Imam, menyoroti esensi pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi ini.

Dusun Semerek, yang hanya terdiri dari tiga rukun tetangga (RT), mungkin tidak luas secara geografis. Namun, masyarakatnya dikenal memiliki semangat kebersamaan yang sangat kuat. Berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan masih kerap dilakukan secara bersama-sama, menunjukkan bahwa ukuran wilayah tak selalu berbanding lurus dengan kekuatan ikatan komunal.

Bagi warga Semerek, menjaga tradisi Maulid Nabi berarti menjaga pula nilai-nilai luhur yang telah tumbuh dan berakar di tengah masyarakat. Pengajian, khataman Al-Qur’an, pawai, hingga sedekah kambing menjadi bagian integral dari cara mereka menanamkan semangat berbagi, kepedulian, dan kebersamaan kepada generasi penerus. Ini adalah warisan tak benda yang lebih berharga dari apa pun.

Ketika hidangan Maulid tersaji dan dinikmati bersama, yang dibagikan warga Semerek bukan hanya makanan yang lezat. Ada nilai persaudaraan yang tulus, kepedulian yang mendalam, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam yang terus mereka rawat. “Ada kebersamaan yang ikut disuguhkan,” pungkas Imam Fadlli, merangkum makna sejati dari “Hari Raya Ketiga” di Dusun Semerek.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kobaran Merah di Driyorejo: Enam Jam Penuh Peluh Memadamkan Kebakaran PT Wings Surya

5 September 2026 - 07:10 WIB

Vocatama Perkuat Pendidikan Vokasi: Dua Kepala Sekolah Baru Bawa Visi Peningkatan Kualitas dan Karakter

5 September 2026 - 07:09 WIB

Jutaan Impian Petugas Haji: Seleksi Ketat PPIH 2027 Demi Ibadah yang Khidmat

5 September 2026 - 06:13 WIB

Menguak Misteri Desil: Ketika Peringkat Ekonomi Warga Bergeser Meski Kondisi Tak Berubah

4 September 2026 - 21:53 WIB

Ketika Surat Pengunduran Diri Jadi Belenggu: Kisah Korupsi Bupati Tulungagung Rp3,2 Miliar

4 September 2026 - 21:52 WIB

Trending di Pendidikan