KlikMojok – Pada hari Ahad, 23 Agustus 2026, sebuah langkah penting telah diambil di Mentaras, Dukun, Gresik, dengan peletakan batu pertama untuk pembangunan rumah layak huni bagi Misbah, seorang muazin dan marbut berusia 54 tahun. Momen ini menandai dimulainya Program Hunian Baru untuk Masyarakat (Harum) yang diinisiasi oleh Kantor Layanan Lazismu (KLL) Dukun, bertujuan untuk mewujudkan tempat tinggal yang lebih nyaman bagi Misbah setelah bertahun-tahun menempati area di belakang masjid. Meskipun batu pertama telah diletakkan, proyek ini masih membutuhkan dukungan dan gotong royong dari berbagai pihak agar rumah tersebut dapat berdiri kokoh.
Misbah, yang kini berusia 54 tahun, diketahui berasal dari keluarga prasejahtera. Selama ini, ia tinggal di sebuah rumah milik saudaranya, yang berlokasi persis di belakang Masjid At-Taqwa Rejosari, Mentaras, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Kondisi kehidupan Misbah inilah yang kemudian memicu kepedulian dari Kantor Layanan Lazismu (KLL) Dukun, yang berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi.

Atas dasar kepedulian tersebut, KLL Lazismu Dukun bersama warga menggagas sebuah inisiatif bernama Program Hunian Baru untuk Masyarakat, atau yang disingkat Program Harum. Program ini secara khusus dilahirkan sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan tempat tinggal yang lebih layak bagi warga yang kurang mampu.
Oleh karena itu, pembangunan rumah untuk Misbah ini tidak dilaksanakan secara mandiri. Lazismu secara aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk persyarikatan Muhammadiyah, pemerintah desa setempat, dan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi ini melibatkan pengumpulan dukungan melalui upaya swadaya serta penggalangan dana dari berbagai sumber.
Estimasi total biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan rumah ini mencapai sekitar Rp70 juta. Hingga momen peletakan batu pertama dilakukan, dana yang berhasil dihimpun melalui swadaya masyarakat telah mencapai Rp40 juta. Ini berarti masih ada kekurangan dana sebesar Rp30 juta yang perlu dipenuhi. Meskipun demikian, angka tersebut tidak menyurutkan semangat, karena langkah awal yang krusial telah dimulai. Peletakan batu pertama ini menjadi simbol nyata bahwa kepedulian yang ada telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan konkret.
Muflihun, selaku Kepala KLL Dukun, menyampaikan harapannya agar proses pembangunan rumah ini dapat segera diselesaikan. Ia meyakini bahwa dengan rampungnya hunian tersebut, Misbah akan dapat menjalani aktivitas kesehariannya dengan jauh lebih nyaman dan tenteram. Muflihun menyatakan, “Dengan dimulainya pembangunan rumah mustahik yang layak huni, kami berharap mustahik segera bisa menempati rumah tersebut dengan tenang untuk beraktivitas sehari-hari secara nyaman dan tenteram.”
Lebih lanjut, Muflihun juga menyoroti manfaat ganda dari proyek pembangunan ini. Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut akan dibangun di atas sebidang tanah wakaf yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, pembangunan ini sekaligus membuka peluang baru bagi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mentaras. “Bagi PRM Mentaras, segera bisa memanfaatkan tanah wakaf untuk program-program persyarikatan yang bermanfaat,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dukun, Afifuddin Aminin, memandang Program Harum ini sebagai wujud nyata pelayanan kepada umat. Menurut Afifuddin, Lazismu tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan yang bersifat sementara, melainkan juga berupaya keras untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk tempat tinggal. Ia menjelaskan, “Kegiatan ini merupakan salah satu bukti nyata kepedulian Lazismu KLL Dukun untuk senantiasa melayani umat dalam berbagai bidang, termasuk penyediaan hunian yang layak bagi warga yang tidak mampu.”
Oleh karena itu, Afifuddin Aminin turut berharap agar proses pembangunan ini dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ia juga mendoakan agar rumah yang akan ditempati Misbah kelak dapat menjadi tempat tinggal yang penuh keberkahan. “PCM berharap semoga program ini berjalan lancar dan dimudahkan oleh Allah SWT serta menjadi hunian yang barokah bagi penghuninya,” ucapnya.
Dukungan kuat terhadap program ini juga diungkapkan oleh Abdul Basid, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mentaras. Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi dari berbagai pihak yang telah bahu-membahu menggerakkan inisiatif ini. Menurut Abdul Basid, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dukun telah memberikan dorongan signifikan kepada PRM Mentaras, sementara Lazismu Dukun berperan aktif dalam mendukung aspek pembiayaan pembangunan. Tak ketinggalan, Pemerintah Desa Mentaras juga turut serta memberikan dukungan penuh. “Semoga Lazismu semakin jaya dan semoga masyarakat selalu memberikan kepercayaan yang terbaik kepada Lazismu,” kata Abdul Basid.
Saat ini, proses pembangunan rumah layak huni ini masih menanti satu elemen krusial: kelanjutan gotong royong dari berbagai pihak. Kekurangan dana sebesar Rp30 juta masih menjadi tantangan yang harus diatasi bersama. Namun, semangat kebersamaan yang mengiringi peletakan batu pertama telah mengirimkan pesan yang sangat kuat. Sebab, sebuah bangunan rumah memang dapat didirikan dari susunan bata dan campuran semen, akan tetapi sebuah hunian yang sarat makna sesungguhnya tumbuh dari benih-benih kepedulian. Di Mentaras, semangat kepedulian tersebut kini sedang menemukan bentuknya yang konkret melalui implementasi Program HARUM.
Apabila rumah ini nantinya telah selesai dibangun, Misbah tidak hanya akan memperoleh sebuah tempat untuk berteduh semata. Lebih dari itu, ia akan mendapatkan ruang yang lebih tenang dan layak untuk menjalani kehidupan sehari-harinya. Secara bersamaan, tanah wakaf yang selama ini kurang termanfaatkan akan kembali memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat luas. Dengan demikian, pembangunan rumah Misbah ini melampaui sekadar proyek hunian biasa. Ini menjadi sebuah cerminan nyata dari semangat gotong royong yang berhasil menyatukan Lazismu, Muhammadiyah, pemerintah desa, dan seluruh warga masyarakat. Di antara dinding-dinding yang kelak akan berdiri tegak, tersimpan kisah mengenai banyaknya tangan yang telah memilih untuk menunjukkan kepedulian. Dari sinilah, sebuah rumah yang sederhana dapat bertransformasi menjadi simbol harapan yang jauh lebih luas bagi banyak pihak.













