KlikMojok – Aroma hangus dan kepulan asap tebal telah menjadi pemandangan akrab selama tiga hari terakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso. Sejak Senin, 19 Oktober 2026, si jago merah tanpa ampun melahap tumpukan sampah, menciptakan krisis lingkungan yang menguji ketahanan tim gabungan pemadam kebakaran. Mereka berjuang tanpa henti, menghadapi bara yang tersembunyi di kedalaman material sampah, sebuah perjuangan yang terasa seperti melawan kekuatan alam.
Namun, di tengah kepenatan dan tantangan yang tak berkesudahan, alam menunjukkan wajahnya yang lain. Pada Rabu sore, 21 Oktober 2026, langit di atas Bondowoso mulai menitikkan air. Guyuran hujan dengan intensitas ringan hingga sedang ini, yang melanda sejumlah wilayah seperti Kecamatan Tapen, Wonosari, Tenggarang, Taman Krocok, hingga kawasan Kota Bondowoso sejak pukul 16.00 WIB, bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Ia menjelma menjadi amunisi alami, sekutu tak terduga yang sangat membantu proses pendinginan di lokasi kebakaran TPA Paguan Bondowoso, sebuah berkah yang meringankan beban para petugas.
Kristianto Putro Prasojo, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso, menjelaskan bahwa masa tanggap darurat untuk penanganan TPA Paguan ini telah ditetapkan selama tujuh hari, dimulai sejak Senin. Ini adalah rentang waktu yang diperhitungkan untuk memastikan seluruh titik api dan potensi bahaya benar-benar padam.
“Hari ini memasuki hari ketiga penanganan. Sejauh ini kobaran api di tumpukan material sampah sudah berhasil dipadamkan, namun masih menyisakan kepulan asap tebal dari dalam tumpukan,” ujar Kristianto Putro Prasojo, Rabu (21/10/2026), menggambarkan situasi yang masih memerlukan kewaspadaan tinggi.
Kristianto juga menambahkan bahwa durasi target penanganan tujuh hari tersebut bisa berlangsung lebih singkat. Syaratnya, kondisi di lapangan harus benar-benar steril dari bahaya bara api tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran baru. “Jika sebelum hari ketujuh kondisi asap dan titik api di dalam tumpukan material sudah padam sepenuhnya, maka masa operasi penanganan akan langsung kita hentikan,” tuturnya, menyiratkan harapan agar upaya pendinginan bisa dipercepat.
Menyambut bantuan dari alam ini, ia tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Guyuran hujan yang turun mengguyur kawasan TPA Paguan pada sore hari menjadi angin segar bagi tim yang berjuang keras. “Sore ini sejumlah wilayah di Bondowoso diguyur hujan. Bantuan dari alam ini tentu sangat membantu personel kami yang sedang bekerja keras melakukan pendinginan di TPA Paguan,” pungkas Kris, menggarisbawahi betapa vitalnya peran hujan dalam efisiensi waktu tanggap darurat.
Peristiwa kebakaran TPA Paguan Bondowoso ini bukan hanya tentang api yang padam atau asap yang mereda. Ini adalah cerminan dari tantangan pengelolaan sampah yang kompleks, kerapuhan infrastruktur lingkungan kita, dan bagaimana intervensi alam kadang menjadi penentu dalam situasi darurat. Dari kejadian ini, kita belajar pentingnya mitigasi bencana, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman lingkungan. Sebuah pengingat bahwa keseimbangan alam dan upaya manusia harus senantiasa berjalan beriringan demi masa depan yang lebih lestari.












