Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Kepala SD Mugres: Inovasi Media Manipulatif, Kunci Sukses Pembelajaran Inklusi untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

badge-check

Kepala SD Mugres: Inovasi Media Manipulatif, Kunci Sukses Pembelajaran Inklusi untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Perbesar

KlikMojok – Eka Meitasari, M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A, menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara Harapan II dalam kategori lomba Best Practice FFU X 2026. Penghargaan ini diberikan atas inovasinya dalam pemanfaatan media manipulatif yang terbukti efektif membantu peserta didik berkebutuhan khusus memahami konsep operasi hitung dasar.

Ajang bergengsi Festival Faqih Usman (FFU) X tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, bertempat di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), menjadi wadah bagi para pendidik untuk berbagi praktik terbaik.

Dalam kompetisi tersebut, Meita, sapaan akrabnya, mempresentasikan praktik baiknya yang berjudul “Implementasi Media Manipulatif dalam Meningkatkan Kemampuan Berhitung Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Kelas Inklusi”. Gagasan ini bermula dari tantangan nyata yang ia hadapi di SD Mugres Kampus A sebagai sekolah inklusi, di mana banyak peserta didik berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam memahami operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.

Prestasi yang diraih ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi sekolah dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif dan responsif terhadap beragam kebutuhan peserta didik. Lebih jauh lagi, praktik baik yang diusung oleh Meita ini menyoroti betapa krusialnya kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas, dan Guru Pendamping Khusus (GPK) dalam merumuskan solusi inovatif untuk tantangan pembelajaran di kelas inklusi.

Sebagai institusi pendidikan inklusi, SD Mugres Kampus A memiliki komitmen kuat untuk menyediakan layanan pendidikan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan unik setiap peserta didiknya. Salah satu inisiatif proaktif yang dijalankan oleh pihak sekolah adalah melakukan refleksi rutin terhadap proses pembelajaran setiap tahunnya. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang mungkin muncul selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Dari hasil refleksi menyeluruh tersebut, sekolah menemukan bahwa sejumlah peserta didik berkebutuhan khusus masih menghadapi kesulitan signifikan dalam menyelesaikan operasi hitung dasar, khususnya penjumlahan dan pengurangan. Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat kemampuan berhitung merupakan salah satu keterampilan esensial yang menopang keberhasilan proses pembelajaran di jenjang sekolah dasar.

Menanggapi permasalahan krusial ini, Meita tidak hanya melihatnya sebagai sebuah hambatan yang harus dihadapi oleh para guru di kelas. Sebaliknya, ia justru menjadikan temuan tersebut sebagai landasan evaluasi dan titik tolak untuk mengeksplorasi serta menemukan pendekatan pembelajaran yang jauh lebih efektif dan berdampak.

Dengan semangat kolaborasi, Meita kemudian berinisiatif mengadakan diskusi mendalam bersama guru kelas, kepala urusan kurikulum, dan Guru Pendamping Khusus (GPK). Mereka bersama-sama berupaya merumuskan strategi inovatif yang dapat mempermudah peserta didik berkebutuhan khusus dalam menguasai konsep berhitung.

Selama sesi diskusi berlangsung, muncul sebuah pemikiran penting bahwa peserta didik di jenjang sekolah dasar cenderung lebih mudah memahami suatu konsep apabila guru mengintegrasikan benda-benda konkret dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini dinilai sangat relevan untuk membantu siswa yang masih kesulitan mencerna operasi hitung jika hanya disampaikan melalui angka atau penjelasan yang terlalu abstrak.

Berangkat dari pemikiran konstruktif tersebut, tim kemudian secara aktif mempertimbangkan penggunaan media manipulatif sebagai salah satu solusi alternatif yang potensial untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Media manipulatif didefinisikan sebagai alat pembelajaran yang berbentuk benda konkret, memungkinkan peserta didik untuk menyentuh, memindahkan, menyusun, atau mengubah posisinya guna membantu mereka memahami suatu konsep secara lebih nyata. Dalam konteks pembelajaran matematika, guru dapat memanfaatkan media ini untuk mengilustrasikan proses penjumlahan dan pengurangan melalui pengalaman belajar yang konkret dan interaktif.

Gagasan inovatif mengenai pemanfaatan media manipulatif di SD Mugres Kampus A merupakan hasil nyata dari kolaborasi apik antara kepala sekolah, guru kelas, dan Guru Pendamping Khusus (GPK). Meita secara proaktif mengajak semua pihak terkait untuk bersama-sama memikirkan dan merancang media pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik peserta didik.

Menanggapi ajakan tersebut, guru kelas dan GPK kemudian mengusulkan untuk menguji coba pemanfaatan media manipulatif sebagai pendekatan baru. Selanjutnya, GPK mengambil peran sentral dalam merancang media pembelajaran tersebut dengan secara cerdas memanfaatkan benda-benda sederhana yang telah tersedia di lingkungan sekolah.

Aspek menarik dari praktik baik ini adalah pemanfaatan benda-benda yang ada di sekitar sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran yang efektif tidak selalu harus berupa alat yang mahal atau sulit didapatkan. Dengan perencanaan yang matang dan kreativitas, guru dapat mengubah benda-benda konkret di lingkungan sekitar menjadi sarana yang powerful untuk mempermudah pemahaman materi bagi peserta didik.

Melalui pendekatan inovatif ini, peserta didik tidak lagi memandang penjumlahan dan pengurangan hanya sebatas deretan angka dan simbol abstrak. Sebaliknya, mereka dapat mempelajari kedua konsep dasar tersebut melalui serangkaian aktivitas yang melibatkan interaksi langsung dengan benda-benda konkret, menjadikan proses belajar lebih bermakna dan mudah dicerna.

Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, penerapan pendekatan pembelajaran yang secara cermat mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik individu adalah esensial. Penggunaan media manipulatif hadir sebagai salah satu opsi efektif bagi para guru untuk menyajikan pengalaman belajar yang lebih konkret, terarah, dan mudah diakses oleh mereka.

Praktik baik ini secara tegas menggarisbawahi bahwa penyelesaian berbagai masalah pembelajaran yang muncul di kelas inklusi memerlukan sinergi dan kerja sama yang solid dari berbagai pihak. Guru tidak bisa hanya mengandalkan perannya sebagai pengajar di kelas, melainkan juga harus aktif membangun kolaborasi untuk menemukan solusi yang paling tepat dan adaptif.

Meita kemudian mendokumentasikan keseluruhan pengalamannya dalam menghadapi tantangan pembelajaran ini ke dalam bentuk esai untuk mengikuti lomba. Dalam penyusunan esai tersebut, ia menggunakan kerangka kerja STAR yang komprehensif, meliputi Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi.

Melalui tulisan esai yang sistematis ini, Meita menguraikan secara detail latar belakang permasalahan yang terjadi di sekolah, serta berbagai tantangan yang muncul selama proses pembelajaran. Ia juga menjelaskan upaya kolaboratif yang dilakukan untuk mencari alternatif solusi melalui implementasi media manipulatif.

Dokumentasi praktik baik semacam ini memiliki signifikansi yang besar bagi kemajuan pendidikan. Pengalaman berharga yang berawal dari persoalan sehari-hari di kelas dapat bertransformasi menjadi sumber pembelajaran yang kaya ketika pendidik mendokumentasikannya secara sistematis. Dengan demikian, pengalaman tersebut tidak hanya berfungsi sebagai solusi internal bagi masalah sekolah, tetapi juga berpotensi besar untuk menginspirasi para pendidik lain yang mungkin menghadapi tantangan serupa.

Khusus bagi sekolah inklusi, dokumentasi praktik baik juga berperan penting dalam memperkuat budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Sekolah dapat memanfaatkan permasalahan pembelajaran sebagai bahan evaluasi untuk merumuskan langkah-langkah perbaikan, mencoba pendekatan-pendekatan baru, serta mengembangkan strategi yang lebih sesuai dengan kebutuhan unik setiap peserta didik.

Keikutsertaan Meita dalam lomba Best Practice FFU X merupakan salah satu wujud upayanya untuk membagikan pengalaman berharga ini. Langkah ini secara jelas menunjukkan bahwa inovasi dalam pembelajaran dapat berawal dari kepekaan seorang pendidik terhadap kebutuhan spesifik peserta didiknya.

Atas pencapaian sebagai Juara Harapan II, Meita mengungkapkan rasa puasnya terhadap hasil yang diraih. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam mendokumentasikan praktik baik yang lahir dari permasalahan nyata di lingkungan sekolah.

Meskipun demikian, Meita tidak menganggap penghargaan ini sebagai akhir dari perjalanan pengembangan diri dan sekolah. Sebaliknya, ia memandang pencapaian ini sebagai pengingat penting bahwa seorang kepala sekolah harus senantiasa berinovasi untuk menemukan dan mengembangkan praktik-praktik baik lainnya.

Meita menegaskan bahwa masih banyak sekali peluang yang dapat dieksplorasi untuk mendukung pengembangan kompetensi dan potensi maksimal peserta didik. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab berkelanjutan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran melalui proses refleksi mendalam, kolaborasi aktif, dan pencarian solusi yang relevan serta sesuai dengan kebutuhan setiap murid.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ikrar Cinta di Balik Jeruji: Kisah Akad Nikah Tahanan Lapas Tulungagung

22 Okt 2026 - 09:44 WIB

Ikrar Cinta di Balik Jeruji: Kisah Akad Nikah Tahanan Lapas Tulungagung

Terik di Hari Santri: Tantangan Cuaca Panas Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

22 Okt 2026 - 09:43 WIB

Terik di Hari Santri: Tantangan Cuaca Panas Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

BIM University Perkuat Inklusivitas Pendidikan dengan Beasiswa untuk Tiga Mahasiswa Hindu

22 Okt 2026 - 09:42 WIB

BIM University Perkuat Inklusivitas Pendidikan dengan Beasiswa untuk Tiga Mahasiswa Hindu

Ketika Langit Merangkul Bumi: Hujan dan Asa di Balik Asap Kebakaran TPA Paguan Bondowoso

22 Okt 2026 - 06:13 WIB

Ketika Langit Merangkul Bumi: Hujan dan Asa di Balik Asap Kebakaran TPA Paguan Bondowoso

Abu di Balik Dini Hari: Refleksi dari Kebakaran Pasar Cukir Jombang

22 Okt 2026 - 06:12 WIB

Abu di Balik Dini Hari: Refleksi dari Kebakaran Pasar Cukir Jombang
Trending di Pendidikan