Menu

Mode Gelap
Tingkatkan Transparansi Dana BOS, K3S SD Swasta Sidoarjo Gelar Pelatihan Manajerial Warung Gubeng Pojok: Legenda Kuliner Malam Surabaya dengan Nasi Krengsengan dan Nasi Campur Otentik Potensi Panas Bumi di Balik Gunung Pandan: Ketika Bojonegoro Menanti Kabar Lelang dari Pusat Ketika Angka Kolesterol Berbisik: Lebih dari Sekadar Gorengan, Mengurai Jaring-jaring Risiko Tersembunyi LDKS Vocatama di Pacet: Tempa Disiplin dan Kepemimpinan Siswa Baru Inovasi Pembelajaran Lintas Negara: Guru Indonesia dan Malaysia Bertukar Resep Pendidikan Abad Ke-21 di SMA Muhi

Pendidikan

Ketika Angka Kolesterol Berbisik: Lebih dari Sekadar Gorengan, Mengurai Jaring-jaring Risiko Tersembunyi

badge-check


					Ketika Angka Kolesterol Berbisik: Lebih dari Sekadar Gorengan, Mengurai Jaring-jaring Risiko Tersembunyi Perbesar

KlikMojok – Bayangan minyak panas dan renyahnya gorengan seringkali menjadi kambing hitam utama saat kita bicara kolesterol. Namun, para pakar kesehatan di UGM mengingatkan bahwa persoalan kolesterol tinggi jauh lebih rumit dari sekadar sepiring kudapan berminyak. Lebih dari sekadar pantangan makanan, tingginya kadar kolesterol dalam darah adalah cerminan dari jaring-jaring risiko yang kompleks, menuntut pemahaman dan penanganan yang menyeluruh.

Sebenarnya, kolesterol bukanlah musuh mutlak. Tubuh kita justru sangat bergantung padanya untuk menjalankan berbagai fungsi vital, mulai dari pembentukan sel hingga produksi hormon. Masalah baru muncul ketika kadarnya melonjak terlalu tinggi dan bertahan dalam waktu lama. Kondisi inilah yang membuka pintu bagi pembentukan plak di pembuluh darah, sebuah ancaman serius yang jika tak terkendali, dapat berujung pada penyakit kardiovaskular mematikan seperti penyakit jantung dan stroke.

Dokter Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp.PD, menekankan pentingnya membedakan jenis kolesterol. Kita mengenal Low Density Lipoprotein (LDL) sebagai ‘kolesterol jahat’ yang cenderung menumpuk di arteri, serta High Density Lipoprotein (HDL) sebagai ‘kolesterol baik’ yang membantu membersihkan kelebihan kolesterol. Tak ketinggalan trigliserida, jenis lemak lain yang sebagian besar berasal dari asupan kalori berlebih. “Kolesterol itu tetap dibutuhkan tubuh. Kayak bumbu, asal jangan kebanyakan,” kata Gibran, mengilustrasikan betapa keseimbangan adalah kunci dalam menjaga kesehatan.

Selama ini, narasi seputar kolesterol tinggi seringkali terpaku pada gaya hidup kurang gerak dan konsumsi makanan berlemak. Namun, Gibran mengungkapkan bahwa penyebabnya jauh lebih berlapis. Usia, faktor keturunan atau genetik, serta kondisi kesehatan tertentu, semuanya berperan dalam memengaruhi kadar kolesterol seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang telah mati-matian memperbaiki pola hidup namun kadar kolesterolnya tak kunjung turun, kondisi ini tidak boleh diabaikan. “Bila sudah berupaya memperbaiki gaya hidup namun masih memiliki kadar kolesterol tinggi, perlu berkonsultasi untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya,” ujarnya, menandaskan pentingnya intervensi medis.

Menyadari kompleksitas ini, Gibran mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan sehat secara bertahap dan konsisten. Langkah sederhana bisa dimulai dari evaluasi menyeluruh terhadap pola makan, tingkat aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga kebiasaan sehari-hari. Pembatasan asupan gorengan, makanan tinggi lemak jenuh, dan minuman manis menjadi bagian tak terpisahkan dari perubahan ini. Ia menegaskan bahwa perubahan gaya hidup bukanlah upaya sesaat, melainkan komitmen jangka panjang. Penting pula untuk diingat, “Obat itu bukan pengganti gaya hidup,” tegas Gibran. Penggunaan obat penurun kolesterol harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi pasien, bukan keputusan yang diambil sendiri tanpa konsultasi tenaga kesehatan.

Pentingnya pemeriksaan kesehatan dini juga menjadi sorotan. Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM, menggarisbawahi bahwa hasil pemeriksaan tidak seharusnya berhenti sebagai deretan angka di lembar laboratorium. Ini adalah data berharga yang menjadi pijakan untuk langkah selanjutnya. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan edukasi kolesterol bagi staf pendidikan UGM yang sebelumnya terdeteksi memiliki riwayat kolesterol tinggi melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). “Kami ingin mendorong dosen dan tenaga kependidikan melakukan screening rutin,” katanya, menekankan bahwa deteksi dini memungkinkan tindak lanjut yang lebih cepat dan efektif.

Untuk mendukung sivitas akademika, BPKT UGM mengoordinasikan berbagai fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Akademik UGM, Gadjah Mada Medical Center (GMC), Klinik Korpagama, serta layanan promotif dan preventif seperti Posbindu. Namun, Andreasta mengingatkan bahwa pemeriksaan saja belum cukup. Setelah mengetahui kondisi kesehatan, langkah nyata melalui perubahan kebiasaan adalah kuncinya. “Kita mengajak peserta menerapkan gaya hidup sehat. Ya, pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, beban kerja,” ujar Andreasta, merinci aspek-aspek yang perlu diperhatikan.

Bagi mereka yang membutuhkan panduan lebih personal, konsultasi dengan ahli gizi menjadi pilihan tepat. Dokter GMC UGM, dr. Yuniantika, M.P.H., menjelaskan bahwa konsultasi gizi dilakukan secara personal, mempertimbangkan kebiasaan makan, porsi, kondisi kesehatan, dan penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes. Hasilnya adalah rencana menu yang disesuaikan secara realistis, dengan evaluasi berkala untuk memantau perkembangan.

Sementara itu, Kepala Klinik Korpagama UGM, dr. Wahyudi Istiono, M.Kes., Sp.KKLP, menyoroti peran klinik tersebut sebagai fasilitas kesehatan primer bagi sivitas UGM. Beroperasi 24 jam tanpa henti, Klinik Korpagama menyediakan layanan dokter keluarga, psikologi, skrining kesehatan, dan terhubung langsung dengan Rumah Sakit Akademik UGM untuk penanganan spesialis lebih lanjut. “Kita sudah melayani Bapak Ibu sekalian mulai dari tahun yang lalu, yaitu 24 jam, tiada hari libur, nonstop,” kata Wahyudi.

Dalam sesi diskusi, konsep kedokteran keluarga juga dibahas. Wahyudi menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya fokus pada penyakit individu, tetapi juga mempertimbangkan kondisi keluarga dan lingkungan pasien. Pendekatan holistik ini krusial, terutama untuk masalah kesehatan kronis yang memerlukan pemantauan jangka panjang, sekaligus mengintegrasikan faktor kebiasaan dan lingkungan sebagai upaya pencegahan.

Pesan utama dari edukasi kolesterol di UGM ini sederhana namun mendalam: mengetahui kadar kolesterol adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Angka-angka dalam hasil pemeriksaan berfungsi sebagai rambu, dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Jika kadar kolesterol tinggi, konsultasi dengan tenaga kesehatan mutlak diperlukan untuk memahami kondisi dan risiko yang dihadapi. Di sisi lain, perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi utama. Mengatur pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, mengelola stres, serta membatasi makanan dan minuman berisiko, semua dapat dilakukan secara bertahap.

Dengan pemeriksaan rutin yang konsisten dan kebiasaan sehat yang berkelanjutan, risiko akibat kolesterol tinggi dapat dikendalikan dengan lebih baik. Pada akhirnya, angka dalam hasil pemeriksaan bukanlah sekadar catatan medis, melainkan sebuah pengingat agar setiap individu mulai lebih serius menjaga kesehatan, sebelum masalah yang lebih besar datang mengetuk pintu.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tingkatkan Transparansi Dana BOS, K3S SD Swasta Sidoarjo Gelar Pelatihan Manajerial

1 September 2026 - 15:45 WIB

Potensi Panas Bumi di Balik Gunung Pandan: Ketika Bojonegoro Menanti Kabar Lelang dari Pusat

1 September 2026 - 15:27 WIB

LDKS Vocatama di Pacet: Tempa Disiplin dan Kepemimpinan Siswa Baru

1 September 2026 - 15:26 WIB

Inovasi Pembelajaran Lintas Negara: Guru Indonesia dan Malaysia Bertukar Resep Pendidikan Abad Ke-21 di SMA Muhi

1 September 2026 - 15:25 WIB

Bayang-bayang Godaan di Tengah Dentuman Musik: Pelajaran dari Pengeroyokan di Triple X Club Surabaya

1 September 2026 - 12:36 WIB

Trending di Pendidikan