Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Kiai Rifqi Rosyidi Ungkap Tiga Ibadah Utama di Balik Kegiatan Pengajian

badge-check

Kiai Rifqi Rosyidi Ungkap Tiga Ibadah Utama di Balik Kegiatan Pengajian Perbesar

KlikMojok – Pengasuh Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan, Kiai Rifqi Rosyidi, baru-baru ini mengupas berbagai bonus ibadah yang terkandung dalam kegiatan pengajian rutin. Dalam Forum Silaturahmi dan Pengajian Rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sekaran, Kabupaten Lamongan, pada Jumat (14/8/26), Kiai Rifqi menjelaskan bahwa majelis taklim seperti pengajian ini sebenarnya merupakan kegiatan multi ibadah. Ratusan warga Muhammadiyah Cabang Sekaran hadir dalam acara yang diselenggarakan di Masjid Al-Amin Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Miru tersebut.

Kiai Rifqi Rosyidi, yang juga dikenal sebagai KH. M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., menyebutkan minimal ada tiga jenis ibadah utama yang tercakup dalam kegiatan pengajian, yaitu iktikaf, silaturahmi, dan thalabul ilmi.

Salah satu ibadah yang terkandung adalah iktikaf. Kiai Rifqi menjelaskan, “Iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah, tterutama pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. Sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan berdiam di masjid untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amal saleh lainnya.” Ia menambahkan bahwa secara etimologi, iktikaf berasal dari kata ‘akafa (عَكَفَ) yang berarti menetap, berdiam, atau menahan diri pada sesuatu. Kiai yang kerap mengisi pengajian di Kalimantan ini menekankan fleksibilitas iktikaf. “Iktikaf bisa tidak ada hubungan berapa lama, membaca Al-Qur’an atau tidak, tetapi diam saja, asal di masjid, itu sudah termasuk iktikaf. Maka, ketika berangkat, peserta pengajian yang belum berniat untuk iktikaf, sekaranglah, niatkan untuk iktikaf,” pesannya.

Berikutnya, Kiai Rifqi mengupas tentang silaturahmi, yang baginya memiliki makna lebih dari sekadar mempererat hubungan. “Silaturahmi bukan sekadar mempererat hubungan, tetapi juga membangun perdamaian atau islah di tengah masyarakat. Yakni memperbaiki, mendamaikan, atau membuat keadaan menjadi baik,” jelasnya. Ia mengutip firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” Menurut Kiai Rifqi, silaturahmi berfungsi menjaga hubungan agar tetap baik, sementara islah berperan memperbaiki hubungan yang retak. Dengan demikian, silaturahmi dapat menjadi sarana untuk melakukan islah. “Bahkan, silaturahmi yang dilakukan dengan niat islah memiliki makna yang sangat kuat. Bukan sekadar bertemu atau bersalam-salaman, tetapi berusaha mengembalikan hubungan kepada keadaan yang baik,” ungkapnya. Dalam konteks organisasi atau persyarikatan seperti Muhammadiyah, pengajian menjadi wadah penting untuk silaturahmi dan islah, guna membangun kembali komunikasi, mempererat ukhuwah, menyelesaikan perbedaan, dan bersama-sama memperbaiki keadaan. “Seorang muslim tidak cukup memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan keselamatan orang lain. Inilah makanya kita perlu berorganisasi, supaya bisa mengajak dan bersama-sama menjadi orang yang selamat baik di dunia maupun nanti di akhirat,” paparnya.

Terakhir, Kiai Rifqi Rosyidi menyoroti thalabul ilmi atau mencari ilmu sebagai jenis ibadah ketiga. Ia menekankan pentingnya menjadi muslim yang cerdas, salah satunya melalui menghadiri majelis ilmu, mendengar, dan membaca. Dengan gaya bicara yang datar, Kiai Rifqi sempat menyindir penceramah yang terlalu banyak humor. “Saya dan penceramah-penceramah Muhammadiyah dikatakan orang, ceramahnya serius dan tidak ada humornya,” sergahnya. Ia menjelaskan logikanya sederhana: menghadiri majelis ilmu adalah bagian dari jalan menuju surga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Oleh karena itu, Kiai Rifqi menegaskan, “Karena itu, menghadiri pengajian harus dengan kesungguhan, bukan sekadar mencari hiburan atau guyonan. Masak iya, mau menuju surga, kita lalui dengan pringisan,” paparnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Di Balik Layar Berita: Taruhan Nyawa dan Masa Depan Keluarga Jurnalis

13 Sep 2026 - 09:42 WIB

Di Balik Layar Berita: Taruhan Nyawa dan Masa Depan Keluarga Jurnalis

Jejak Api di Petak Pinus Bondowoso: Pelajaran dari Sembilan Jam Perjuangan Melawan Kobaran

13 Sep 2026 - 09:42 WIB

Jejak Api di Petak Pinus Bondowoso: Pelajaran dari Sembilan Jam Perjuangan Melawan Kobaran

Lebih dari Sekadar Sambutan: ‘Welcome Leaders’ Sekolah Kreatif Baratajaya Ajarkan Kepemimpinan Sejak Dini

12 Sep 2026 - 21:03 WIB

Lebih dari Sekadar Sambutan: ‘Welcome Leaders’ Sekolah Kreatif Baratajaya Ajarkan Kepemimpinan Sejak Dini

Badai dan Pohon Tumbang: Pelajaran Kesiapsiagaan di Jalur Vital Surabaya-Sidoarjo

12 Sep 2026 - 18:45 WIB

Badai dan Pohon Tumbang: Pelajaran Kesiapsiagaan di Jalur Vital Surabaya-Sidoarjo

Kekeringan Menguji Pulau Sepudi: Polresta Sumenep Hadirkan Air Bersih, Menjaga Asa Kehidupan

12 Sep 2026 - 18:45 WIB

Kekeringan Menguji Pulau Sepudi: Polresta Sumenep Hadirkan Air Bersih, Menjaga Asa Kehidupan
Trending di Pendidikan