KlikMojok – Bagi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, yang dikenal pula sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya, coretan gambar yang dihasilkan siswa bukan hanya sebatas karya seni biasa. Di sekolah yang terletak di Surabaya ini, melalui pembacaan gambar siswa, para pengajar berupaya mendalami karakter, memahami emosi, serta mengenali kebutuhan belajar unik dari setiap anak didiknya. Ini adalah metode inovatif untuk memahami dunia anak secara lebih personal.
Umumnya, gambar anak mungkin hanya dipandang sebagai goresan spontan di atas kertas. Namun, di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, gambar-gambar tersebut berfungsi sebagai jendela yang membuka wawasan ke dalam dunia internal anak. Melalui inisiatif pembacaan gambar siswa ini, pihak sekolah secara aktif berusaha untuk mengidentifikasi karakter individu dan menyesuaikan kebutuhan belajar masing-masing anak.
Proses penting ini dipimpin oleh Heru Tjahyono, yang menjabat sebagai Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS). Kegiatan pembacaan gambar siswa ini diselenggarakan secara bertahap dari hari Senin hingga Kamis, pada tanggal 5 hingga 8 Oktober 2026. Uniknya, kegiatan tersebut juga melibatkan partisipasi aktif dari para wali murid siswa kelas I, memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Oleh karena itu, interpretasi gambar yang dilakukan tidak hanya terfokus pada aspek visual seperti bentuk, garis, atau pemilihan warna. Sebaliknya, sekolah berupaya menggali informasi yang jauh lebih mendalam dan subtil yang terkandung dalam setiap karya yang dihasilkan oleh anak-anak.
Soraya Churrotul Ain, S.Si., selaku Koordinator kelas I, menjelaskan bahwa kegiatan pembacaan gambar ini dilaksanakan secara bergiliran. Empat kelas tingkat I mengikuti kegiatan tersebut secara berurutan.
Kelas-kelas yang berpartisipasi dalam program tersebut mencakup I Kutilang, I Lebah, I Lumba-lumba, dan I Kelinci. Setelah proses ini selesai, hasil dari pembacaan gambar tersebut kemudian diintegrasikan sebagai komponen esensial dalam upaya sekolah untuk memahami setiap siswa secara komprehensif.
Lebih lanjut, bagi pihak sekolah, inisiatif ini memiliki landasan yang lebih luas dan strategis. Pembacaan gambar menjadi tindak lanjut langsung dari asesmen awal yang telah dilakukan terhadap para siswa.
Ida Afifah, S.Pd., yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 16 Surabaya, atau yang dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya, memaparkan tujuan utama dari kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa asesmen awal berperan krusial dalam membantu sekolah melakukan pemetaan siswa, khususnya saat proses pembagian kelas.
Di sisi lain, pembacaan gambar juga berfungsi sebagai instrumen efektif untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai berbagai kondisi dan aspek psikologis siswa.
“Sebagai tindak lanjut untuk menggali informasi mengenai struktur kepribadian siswa, emosi, mental, kemampuan konsentrasi, gaya belajar, serta hambatan siswa dalam belajar,” terang Ida Afifah.
Selain itu, melalui pendekatan ini, sekolah juga berusaha mengidentifikasi potensi hambatan yang mungkin dihadapi siswa selama proses pembelajaran. Dengan demikian, para guru dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif dan utuh mengenai setiap anak didik mereka.
Informasi yang terkumpul dari pembacaan gambar ini kemudian menjadi landasan penting bagi guru dalam merumuskan dan menerapkan pendekatan belajar yang paling sesuai. Ini karena setiap anak diakui memiliki karakter, kebutuhan, dan gaya belajar yang unik dan berbeda-beda.
Ely Rhodlifah, S.H., M.Pd., yang menjabat sebagai Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap siswa ini. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pengejaran pencapaian akademik semata.
Lebih jauh lagi, sekolah memiliki komitmen kuat untuk mengawal tumbuh kembang anak secara menyeluruh sejak mereka berada di kelas-kelas awal. Oleh karena itu, Ely Rhodlifah menyebutkan prinsip “Adab Dulu Baru Ilmu” sebagai salah satu fondasi filosofi pendidikan di sekolah tersebut.
“Untuk mengawal tumbuh kembang siswa, kami punya Ustadz Heru Tjahyono sebagai Ketua TIPS,” ungkap Ely.
Melalui pendekatan holistik semacam ini, Sekolah Kreatif Baratajaya berupaya memandang anak didik secara lebih utuh dan menyeluruh. Anak-anak tidak hanya dianggap sebagai objek pasif yang hanya menerima materi pembelajaran di dalam ruang kelas.
Justru sebaliknya, karakter unik setiap anak menjadi pertimbangan utama dalam merancang pengalaman belajar yang relevan dan menarik. Informasi yang diperoleh dari pembacaan gambar siswa kemudian sangat membantu guru dalam menyesuaikan seluruh proses pembelajaran agar lebih personal.
“Melalui pembacaan gambar kita dapat mengetahui masing-masing karakter siswa dan gaya belajarnya,” jelas Ely Rhodlifah.
Menurutnya, informasi detail tentang karakter dan gaya belajar ini memungkinkan proses pembelajaran berlangsung dengan lebih tepat dan efektif. Dengan demikian, pendekatan belajar yang diterapkan dapat secara optimal mengikuti dan memenuhi kebutuhan spesifik dari setiap siswa.
Heru Tjahyono menambahkan bahwa prinsip yang dianut ini sangat selaras dengan rancangan pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Kreatif Baratajaya. Pembelajaran di sana secara khusus didesain untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik dan gaya belajar yang beragam dari para siswa.
“Proses pembelajaran kita desain sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa,” tegas Heru.
Selain itu, sekolah juga mengimplementasikan pembelajaran berbasis inkuiri, yang memberikan ruang luas bagi siswa untuk secara aktif menemukan pengalaman belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pasif pengetahuan yang disampaikan oleh guru.
Pada akhirnya, karya gambar yang dihasilkan siswa tidak hanya berakhir sebagai selembar kertas berisi coretan. Sebaliknya, gambar tersebut berfungsi sebagai pintu masuk yang krusial untuk memahami narasi pribadi dan kebutuhan fundamental dari setiap anak.
“Metode boleh dari mana saja, tapi tujuannya sama,” pungkas Heru Tjahyono.
Ia melanjutkan, tujuan utama dari seluruh upaya ini adalah untuk membentuk anak-anak yang berani memimpin diri sendiri dan bertanggung jawab atas karya mereka. Dengan demikian, dari sekadar pembacaan gambar, sekolah ini bergerak maju menuju model pembelajaran yang semakin personal dan berpusat pada siswa.












