KlikMojok – Senja di Ponorogo pada Senin, 12 Oktober 2026, seharusnya menjadi penutup hari yang biasa bagi Sopingi. Pria berusia 30 tahun itu melaju dengan sepeda motornya di Jalan Letjend Sukowati, menuju Desa Japan, Kecamatan Babadan, untuk menjemput sang istri yang bekerja di sebuah kolam renang. Sebuah rutinitas yang telah ia jalani berkali-kali, namun sore itu, rutinitas tersebut menjelma menjadi mimpi buruk yang membekas luka.
Sekitar pukul 17.00 WIB, tepatnya di sebelah selatan SPBU Gupolo, saat Sopingi melintas, sebuah kabel yang diduga merupakan jaringan WiFi tiba-tiba menyangkut di lehernya. Insiden yang terjadi begitu cepat itu meninggalkan luka menganga dan rasa sakit yang mendalam. Sopingi, warga Kecamatan Kauman, tak sempat melihat keberadaan kabel tersebut sebelum kejadian nahas menimpanya.
“Jalan yang saya lewati ya lokasi itu. Sekitar pukul 17.00 WIB saat melintas lokasi tepatnya di selatan Pom Bensin Gupolo itu tahu-tahu leher saya kena kabel, nyangkut kabel. Sampai terasa putus, baru saya lihat luka yang kayak gini,” tutur Sopingi, mengisahkan kembali kengerian yang ia alami.
Ia merasakan sensasi seperti ditarik dari belakang, sebuah tarikan yang kuat dan tiba-tiba. Meskipun ia sering melewati jalur tersebut, kabel melintang itu benar-benar luput dari perhatiannya. “Sering saya jemput istri. Tetapi ya tidak tahu ada kabel. Ya, tahu-tahu naik motor langsung sangkut aja. Kesangkutnya kayak orang ditarik dari belakang,” ungkapnya, menggambarkan betapa mendadak dan tak terduganya peristiwa itu.
Sopingi menduga kuat bahwa kabel tersebut memang melintang di jalur yang ia lalui. Ia berkendara dari selatan menuju utara dengan kecepatan yang relatif sedang, sebuah kecepatan yang mungkin menyelamatkan nyawanya dari dampak yang lebih fatal. “Saya dari selatan mau ke utara. Naik motor, tidak kencang. Kalau saya kencang, mungkin saya langsung jatuh. Tahu-tahu nyangkut di leher, seret. Berarti kan melintang, kalau tidak melintang kan, juga tidak mungkin,” ceritanya.
Setelah berhasil melewati momen mencekam tersebut, Sopingi melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja istrinya. Sang istri, terkejut melihat kondisi leher Sopingi, segera membawanya ke klinik kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Meski telah ditangani, Sopingi mengaku masih merasakan sakit, terutama saat menelan makanan atau minuman. “Kalau buat minum, buat makan agak sakit, dalam,” tegasnya, menunjukkan bahwa luka itu tak hanya di permukaan, tetapi juga mengganggu fungsi vital tubuhnya.
Tidak ingin ada korban lain, Sopingi kembali ke lokasi kejadian. Ia merapikan kabel yang sempat menjeratnya dan tersangkut di pohon sekitar lokasi. Sebuah tindakan spontan yang lahir dari kepedulian terhadap keselamatan sesama pengguna jalan. Namun, ia sendiri belum mengetahui secara pasti siapa pemilik atau penyedia layanan dari kabel yang diduga jaringan WiFi tersebut.
Insiden ini bukan sekadar kecelakaan tunggal, melainkan sebuah cerminan dari tantangan urbanisasi dan penataan infrastruktur yang kerap luput dari perhatian. Proliferasi kabel-kabel utilitas, baik itu listrik, telepon, maupun internet, seringkali tidak diimbangi dengan standar pemasangan dan pemeliharaan yang memadai. Kabel-kabel yang menjuntai rendah atau melintang tanpa pengamanan yang jelas menjadi ancaman laten bagi keselamatan publik, khususnya bagi pengguna jalan seperti Sopingi.
Menyadari potensi bahaya yang lebih besar dan pentingnya akuntabilitas, Sopingi kemudian melaporkan kejadian ini ke Polres Ponorogo pada pukul 23.00 WIB di hari yang sama. Ia berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas insiden tersebut dan menelusuri pihak yang bertanggung jawab atas kabel yang membahayakan. “Saya laporkan ke Polres Ponorogo supaya diusut dan tidak terulang lagi,” pungkasnya, menyuarakan harapan agar kejadian serupa tidak lagi menimpa pengguna jalan lainnya. Kasus Sopingi menjadi pengingat pahit tentang pentingnya pengawasan dan penataan infrastruktur yang ketat demi menciptakan lingkungan yang aman bagi semua. Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua tentang bahaya tersembunyi di sekitar yang seringkali kita abaikan.












