KlikMojok – Pada Minggu siang yang seharusnya tenang, 18 Oktober 2026, sebuah rumah di Jalan Sarimulyo, Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, mendadak berubah menjadi lautan api. Saat Titik Suparti (54) tengah berkunjung ke rumah kerabatnya di Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, kediamannya yang sehari-hari dihuni bersama anaknya, M. Torik Igo Alamsah (16), dilalap si jago merah. Insiden ini, yang diduga kuat akibat arus pendek atau korsleting listrik, tidak hanya menyisakan puing dan abu, tetapi juga meninggalkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp150 juta, sekaligus menjadi pelajaran berharga akan pentingnya keselamatan rumah.
Kobaran api yang mematikan itu dilaporkan oleh warga sekitar pukul 14.30 WIB. Bangunan berukuran 12×10 meter milik Titik Suparti itu hangus tak bersisa, melenyapkan seluruh perabotan dan kenangan di dalamnya. Beruntung, dalam musibah ini tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, sebuah fakta yang sedikit melegakan di tengah duka mendalam.
Menanggapi laporan yang masuk, Kapolsek Bojonegoro Kota, Kompol Hufron Nurrochim, segera berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro. Respons cepat ini krusial untuk mencegah bencana yang lebih besar. “Empat unit mobil pemadam kebakaran langsung dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan kobaran api,” ujar Kompol Hufron pada hari kejadian.
Berdasarkan keterangan para saksi di lokasi, kobaran api menyebar dengan sangat cepat. Material bangunan yang sebagian besar terdiri dari kayu diduga kuat menjadi faktor pemicu perambatan api yang begitu masif. Kondisi rumah yang kosong saat kejadian, meskipun menyelamatkan nyawa penghuninya, juga berarti api memiliki waktu untuk membesar tanpa terdeteksi di awal. Petugas gabungan Damkarmat dan kepolisian bahu-membahu melakukan pemadaman serta pembasahan hingga api berhasil dikendalikan secara total. Penanganan sigap ini patut diacungi jempol, sebab berhasil mencegah kobaran api merambat ke permukiman warga di sekitarnya, yang bisa jadi menimbulkan kerugian lebih besar lagi.
Tragedi di Banjarejo ini, terlepas dari duka yang menyelimuti, menyajikan sebuah pelajaran penting bagi kita semua. Dugaan kuat penyebab kebakaran, yakni korsleting listrik, adalah alarm bagi setiap rumah tangga. Ini mengingatkan kita akan urgensi untuk rutin memeriksa instalasi listrik, menggunakan peralatan listrik yang standar, dan tidak membebani stop kontak secara berlebihan. Kisah Titik Suparti menjadi cermin betapa rapuhnya harta benda di hadapan bahaya yang tak terlihat, dan betapa pentingnya kewaspadaan sebagai bentuk pendidikan dini untuk mencegah musibah serupa terulang. Di balik puing-puing yang tersisa, ada hikmah tentang pentingnya kesiapsiagaan dan tanggung jawab kolektif terhadap keselamatan lingkungan sekitar.












