KlikMojok – Di tengah rimbunnya Wonosalam, Kabupaten Jombang, di mana Sungai Gogor mengalir jernih sebagai salah satu nadi vital hulu Brantas, sebuah peringatan serius menggema. Bukan dari suara alam yang menderu, melainkan dari temuan-temuan mikroskopis yang mengungkap jejak pencemaran tak kasatmata. Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO (Mission for Zero Plastic Leakage) milik ECOTON untuk pertama kalinya hadir di Wonosalam, membawa misi edukasi dan pemantauan kualitas air yang melibatkan Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung. Lebih dari 50 pelajar turut serta, menyelami kondisi sungai yang menjadi cermin kesehatan ekosistem kita.
Kegiatan yang berpusat di sekitar Kedai Tanah Senja ini bukan sekadar sesi teori. Para peserta diajak untuk mengenali denyut nadi ekosistem sungai melalui edukasi lingkungan mendalam, praktik pengambilan sampel air, dan pengujian kualitas air langsung di lapangan, terutama pada musim kemarau. Pembelajaran dimulai dengan pemahaman esensial mengenai dampak plastik sekali pakai dan krusialnya konservasi sungai, kemudian dilanjutkan dengan praktik nyata yang membagi pelajar menjadi tiga kelompok fokus.
Kelompok pertama, di bawah bimbingan Julia Fahma dari Polisi Air dan Aulia Nur Azizah dari SMAN 1 Mojoagung, mendalami metode biomonitoring makrozoobentos menggunakan biotilik. Metode ini memanfaatkan makhluk-makhluk tak bertulang belakang yang hidup di perairan sebagai indikator alami kondisi sungai. Dari pengamatan mereka, teridentifikasi 17 individu biota dari famili Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae. Kehadiran dan jenis-jenis biota ini, menurut interpretasi awal kelompok, mengindikasikan adanya pencemaran yang patut diwaspadai di Sungai Gogor.
Tak kalah krusial, kelompok kedua yang dipimpin Muhammad Rajua Surya Sastro Saputra dan Defi Eka Maulita, keduanya siswa kelas 12 SMAN 1 Mojoagung, fokus pada ancaman modern: mikroplastik. Mereka menguji sampel air Sungai Gogor dan menemukan 20 partikel mikroplastik. Dari jumlah tersebut, 12 partikel berwujud fiber atau serat, tujuh partikel berupa film (lembaran tipis), dan satu partikel fragmen. Fiber, yang seringkali berasal dari serat kain, dan film, yang banyak ditemukan pada kantong plastik tipis, serta fragmen, potongan plastik yang bentuknya tak lagi menyerupai produk asalnya, menjadi bukti nyata infiltrasi sampah plastik ke dalam siklus air. Selain itu, mereka juga mengamati dua objek yang diidentifikasi sebagai fitoplankton, memperlihatkan kompleksitas mikro-ekosistem air yang memerlukan pengamatan lebih lanjut untuk identifikasi akurat.
Sementara itu, kelompok ketiga, yang dipimpin Rendi Dwi Saputra, siswa kelas 11 SMAN 1 Mojoagung, mengarahkan perhatian pada kandungan fosfat dalam air Sungai Gogor. Hasil pengujian mereka sangat mencengangkan: kadar fosfat mencapai 0,8 ppm. Angka ini empat kali lebih tinggi dari nilai acuan 0,2 ppm yang ditetapkan dalam baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Kadar fosfat yang tinggi ini mengindikasikan kemungkinan masuknya nutrien berlebih ke badan sungai, yang salah satu sumber utamanya adalah limbah domestik, termasuk air buangan rumah tangga yang masuk tanpa pengolahan memadai. Kondisi debit air yang berkurang selama musim kemarau juga diperkirakan turut memperparah konsentrasi zat terlarut di perairan, menjadikannya lebih pekat dan berpotensi merusak ekosistem.
Lebih dari sekadar angka dan data, kegiatan ini mengajak para pelajar untuk merenungkan hubungan antara kondisi sungai dengan kebiasaan sehari-hari mereka. Rizki Putri dan Zema Aqilla dari Polisi Air Wonosalam mengungkapkan dampak langsung dari pengalaman ini, “Melalui praktik pengambilan dan pengamatan sampel air menggunakan mikroskop, kami belajar bahwa mikroplastik dapat ditemukan di lingkungan perairan dan perlu dipantau lebih lanjut. Kami berharap kesadaran mengurangi plastik sekali pakai dapat dimulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan membawa botol minum dan wadah makanan yang bisa digunakan berulang kali.”
Kehadiran perdana mobil laboratorium MIMO ECOTON di Wonosalam menjadi sebuah langkah penting untuk memperkuat pemantauan sungai yang melibatkan secara aktif masyarakat dan generasi muda. Melalui pengalaman langsung ini, para pelajar tidak hanya memperoleh keterampilan dalam mengamati kualitas air, tetapi juga memahami secara mendalam korelasi antara pola konsumsi, pengelolaan limbah, dan kesehatan ekosistem sungai yang berkelanjutan.
Sungai Gogor, sebagai bagian integral dari kawasan hulu Brantas, memegang peranan krusial bagi keberlanjutan ekosistem perairan yang lebih luas. Oleh karena itu, perlindungan sungai ini menuntut keterlibatan kolektif dari berbagai pihak. Mulai dari tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari pembuangan sampah dan limbah ke badan air, hingga upaya sistematis untuk memperbaiki pengelolaan limbah domestik. Pengetahuan dan kesadaran yang diperoleh selama kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti di bangku sekolah, tetapi dapat diterapkan oleh para peserta di lingkungan keluarga dan masyarakat, mendorong kepedulian yang lebih besar terhadap kelestarian sungai di kawasan hulu Brantas untuk masa depan yang lebih bersih dan sehat.












