Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Penuh Haru dan Dedikasi: Pisah Kenang Purna Tugas Pimpinan PWNA Jatim di Musywil XIII

badge-check

Penuh Haru dan Dedikasi: Pisah Kenang Purna Tugas Pimpinan PWNA Jatim di Musywil XIII Perbesar

KlikMojok – Suasana haru dan penuh makna menyelimuti acara pisah kenang purna tugas jajaran Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur dalam penutupan Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII NA Jatim. Acara yang diselenggarakan di Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Ahad (18/10/2026) siang tersebut menguras air mata para kader setelah pembacaan puisi perpisahan yang mendalam.

Derai air mata perlahan membasahi pipi para kader perempuan yang mengenakan kerudung hijau sage. Beberapa di antara mereka, yang tampil seragam dengan batik hijau bermotif bulu merak khusus Musywil, tampak membalikkan badan. Mereka terlihat tidak kuasa menahan derasnya air mata yang mengalir begitu saja di atas panggung, menunjukkan kedalaman emosi yang dirasakan.

Sesi perpisahan bagi para pimpinan PWNA Jawa Timur yang telah menuntaskan masa tugasnya ini benar-benar menyentuh hati seluruh kader yang hadir. Sebuah atmosfer syahdu menyelimuti Expotorium UMPO ketika para kader purna tugas berjejer rapi di atas panggung kehormatan. Isak tangis tidak hanya berasal dari para pimpinan yang mengakhiri pengabdiannya, tetapi juga menjalar hingga ke barisan kader yang menjadi saksi bisu prosesi mengharukan ini.

Momen keharuan semakin memuncak saat Erfin Walida Rahmania, S.Pd.I., selaku Wakil Ketua Bidang Dakwah PWNA Jatim, melantunkan bait-bait ucapan perpisahan yang sangat puitis dan menyentuh jiwa:

“Ayunda nasyiah tercinta. Kami tahu bahwa tidak ada yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri. Kami tahu pertemuan dunia ini hanya sementara. Kami tahu perjuangan nasyiah Jatim harus tetap berjalan meski Ayunda pergi. Melepas Ayunda sekalian untuk berjuang di tempat lain ternyata tak mudah,” ungkap Erfin dengan suara bergetar.

Untuk menambah kekhusyukan dan kedalaman emosi, alunan instrumental lagu “Terbuang dalam Waktu” dari Barasuara mengalun lirih dari salah satu sudut ruangan. Melodi sendu tersebut berhasil memperkuat suasana keharuan yang menyelimuti momen perpisahan.

Erfin kemudian melanjutkan untaian kalimatnya dengan penuh kelembutan dan nada yang jelas bergetar. “Bukan tak mudah lagi. Jujur, sulit. Dinda sedih, Yunda. Dindamu tertatih. Namun, kami janji akan tetap berlatih. Ingin putus asa, namun kami tetap berdoa,” tuturnya, mengungkapkan perasaan tulus dari para kader yang akan melanjutkan perjuangan.

Menyusul kemudian, para kader yang akan melanjutkan kiprah kepengurusan di PWNA Jatim naik ke panggung. Mereka secara simbolis menyerahkan rangkaian bunga kepada para pimpinan senior yang penuh teladan tersebut, sebagai wujud penghormatan dan apresiasi atas seluruh masa pengabdian yang telah mereka curahkan.

Erfin kembali menyampaikan pesannya di hadapan seluruh peserta Musywil. “Ayunda, kami tidak mengucapkan selamat tinggal dalam arti penghentian. Dalam ilmu gerak, energi tidak hilang, ia hanya berpindah bentuk. Begitu pula kontribusi Ayunda. Ia akan berlanjut dalam bentuk yang lain, di tempat yang lain,” tambahnya, menegaskan bahwa dedikasi para pimpinan tidak akan sirna melainkan bertransformasi.

Dalam kesempatan itu, Erfin juga menguraikan satu per satu peran penting yang telah diemban oleh para pimpinan purna tugas, menjadikannya sebagai kenangan indah yang tak terlupakan. Tercatat ada tiga belas pimpinan yang mengakhiri masa pengabdiannya.

Ifa Faridah, M.Pd., salah satu pimpinan purna tugas, menjelaskan bahwa perpisahan para kader purna tugas ini dilatarbelakangi oleh beragam alasan. Ia menyebutkan, beberapa di antaranya purna karena telah mencapai batas usia sesuai ketentuan organisasi, ada pula yang mengajukan purna secara mandiri, dan sebagian lainnya mendapatkan amanah baru di Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah.

Saat memasuki usia 40 tahun, yang menjadi batas purna tugas bagi kader Nasyiatul Aisyiyah, Ifa Faridah mengaku merasakan perasaan lega yang bercampur aduk dengan emosi lainnya.

“Alhamdulillah gembira karena akhirnya amanah ini selesai. Tapi pasti akan kangen nantinya. Gembiranya, alhamdulillah sudah ada banyak kader yang akan meneruskan perjuangan di NA,” tutur Ifa, mengungkapkan rasa syukur dan optimisme terhadap regenerasi organisasi.

Ifa juga menyampaikan rasa syukurnya karena selama masa jabatannya, ia berhasil membawa perkembangan cabang dan ranting Nasyiatul Aisyiyah ke arah yang sangat positif dan signifikan.

Perasaan haru yang mendalam juga turut dirasakan oleh Hadiatul Hikmah, M.H., yang akrab disapa Hadia, Sekretaris PWNA Jatim periode 2022–2026.

“Karena sudah bisa menyelesaikan tugas bersama teman-teman PWNA. Akan rindu dengan masa-masa di mana waktu itu perjalanan terasa lama,” kata Hadia, mengenang perjalanan panjang pengabdiannya.

Hadia mengenang kembali berbagai momen berharga, terutama saat ia turun langsung melakukan pembinaan ke daerah-daerah. Ia mengungkapkan keyakinannya bahwa ia akan sangat merindukan kebersamaan dan ikatan mendalam yang terjalin bersama rekan-rekan seperjuangan. Selain itu, ia juga teringat akan pengorbanan yang harus dilakukan, seperti meninggalkan anak-anaknya di rumah demi menunaikan tugas-tugas organisasi.

“Paling berat saat Musykerwil I. Anak saya umur 4 tahun demam. Alhamdulillah keluarga selalu memberikan dukungan. Saya punya support system yang baik,” kenang Hadia, menunjukkan pentingnya dukungan keluarga dalam menjalankan amanah.

Kini, setelah menyelesaikan tugas di PWNA Jatim, Hadia telah mengemban amanah baru di Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) sebagai Ketua Departemen Advokasi Sosial.

“Sesuai dengan dorongan minat saya di situ. Saya sempat di LSM perempuan dan anak, menangani berbagai kasus perempuan dan anak,” ujarnya, menjelaskan relevansi posisi barunya dengan pengalaman sebelumnya.

Semangat dan dedikasi yang ditunjukkan Hadia ini sejalan dengan arahan yang pernah disampaikan oleh Ketua PWNA Jatim periode 2022–2026, Desi Ratna Sari, S.H. Desi sendiri kini juga mengemban amanah di tingkat pusat sebagai Sekretaris Umum PPNA. “Kader sejati tidak pernah berhenti mengabdi,” tegas Desi, sebuah pesan yang menjadi motivasi bagi seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Hulu Brantas Berbisik: Jejak Mikroplastik dan Fosfat di Sungai Gogor Jombang, Sebuah Peringatan dari Generasi Muda

18 Okt 2026 - 18:47 WIB

Ketika Hulu Brantas Berbisik: Jejak Mikroplastik dan Fosfat di Sungai Gogor Jombang, Sebuah Peringatan dari Generasi Muda

Nyala Dini Hari di Kutorejo: Refleksi Kebakaran Pabrik Pakan Ternak dan Pentingnya Kewaspadaan

18 Okt 2026 - 18:46 WIB

Nyala Dini Hari di Kutorejo: Refleksi Kebakaran Pabrik Pakan Ternak dan Pentingnya Kewaspadaan

PWNA Jatim Diminta Wujudkan Keadilan dan Ihsan, Tamhid Masyhudi Desak Konsolidasi

18 Okt 2026 - 18:45 WIB

PWNA Jatim Diminta Wujudkan Keadilan dan Ihsan, Tamhid Masyhudi Desak Konsolidasi

Ketika Arjuno Membara, Sumber Kehidupan Pun Terputus: Kisah Krisis Air Bersih di Jatiarjo

18 Okt 2026 - 15:18 WIB

Ketika Arjuno Membara, Sumber Kehidupan Pun Terputus: Kisah Krisis Air Bersih di Jatiarjo

Ketika Disiplin Berujung Pukulan: Marwah Kepala Sekolah di Lamongan Diuji Oknum TNI

18 Okt 2026 - 15:18 WIB

Ketika Disiplin Berujung Pukulan: Marwah Kepala Sekolah di Lamongan Diuji Oknum TNI
Trending di Pendidikan