KlikMojok – Di Dusun Ringinputih, Desa Ringinputih, Kecamatan Sampung, Ponorogo, malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu memiliki denyut nadi yang berbeda. Halaman Musala Miftahul Huda, yang biasanya senyap, pada Senin malam (31/8/2026) itu bergemuruh oleh gema shalawat dan tawa riang. Puluhan warga, dari anak-anak yang bersemangat hingga orang dewasa yang khusyuk, berkumpul dalam satu semangat: merayakan kelahiran Nabi akhir zaman. Di tengah keramaian itu, tampak tumpukan ‘berkat’—nasi dengan satu ‘ingkung’ ayam utuh—yang dibawa setiap kepala keluarga, sebuah penanda tradisi yang tak lekang oleh waktu, menyatukan mereka dalam kebersamaan yang hangat.
Tradisi membawa ‘berkat’ ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi dari rasa syukur dan semangat berbagi. Setiap kepala keluarga datang dengan membawa hidangan spesialnya, yang kemudian dikumpulkan untuk disantap bersama. Puluhan ‘ingkung’ ayam yang tersaji di halaman musala setelah rangkaian acara, menjadi simbol kekerabatan yang erat, di mana kebersamaan bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang diwariskan turun-temurun dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kampung tersebut.

Namun, ada satu momen yang paling ditunggu dan selalu berhasil memecah suasana khidmat menjadi ledakan kegembiraan murni: tradisi ‘rebutan’ snack. Di sekeliling area acara, tergantung rapi deretan makanan ringan aneka rupa, tak jarang dihiasi pula dengan amplop-amplop kecil berisi uang. Setelah seluruh rangkaian peringatan selesai, gantungan makanan ringan itu menjadi sasaran rebutan warga. Anak-anak, dengan mata berbinar dan sorak-sorai, tampak paling antusias mengikuti tradisi ini, menambah semarak suasana Maulid Nabi.
Tradisi ‘rebutan’ snack ini, yang memicu suasana riuh dan penuh keceriaan, adalah bentuk ekspresi kegembiraan warga dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Keceriaan tak hanya terpancar dari wajah anak-anak, tetapi juga warga dewasa yang turut larut menikmati momen langka tersebut. Setelah energi terkuras dalam rebutan yang meriah, warga kembali berkumpul, kali ini untuk bersama-sama membagikan dan menyantap ‘ingkung’ ayam yang telah mereka bawa dari rumah masing-masing, mengakhiri perayaan dengan santap malam komunal yang penuh makna.
“Ini bentuk rasa senang warga kami dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” tutur Ketua Ta’mir Musala Miftahul Huda, Toyib, menjelaskan esensi di balik tradisi yang meriah tersebut.
Sebelum euforia ‘rebutan’ dan santap bersama memuncak, warga terlebih dahulu disuguhkan santapan rohani. Ustaz Fatkhurrodin, seorang hafiz Qur’an, menyampaikan tausiyah yang menggetarkan hati. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan dan memahami betapa krusialnya ajaran Nabi Muhammad SAW dalam menuntun kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa sebelum Nabi Muhammad diutus, kehidupan manusia seringkali diselimuti kebodohan, kesesatan, bahkan kezaliman. Kehadiran beliau membawa cahaya, tuntunan yang jelas untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
“Dengan syariat Baginda Nabi, Alhamdulillah sampai sekarang kita dapat mengerti mana yang benar, mana yang salah, mana yang haq, mana yang batil, mana yang baik, dan mana yang jelek,” ungkap Ustaz Fatkhurrodin, menegaskan pentingnya risalah kenabian.
Ia melanjutkan, setiap manusia dianugerahi pilihan dalam menapaki jalan hidupnya. Oleh karena itu, kesadaran untuk menggerakkan diri memilih jalan yang benar adalah sebuah keharusan. Ustaz Fatkhurrodin berharap, seluruh jamaah senantiasa mendapatkan tuntunan dari Allah SWT. Menurutnya, salah satu momentum berharga untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui peringatan bulan kelahiran Rasulullah, yang menjadi pengingat akan teladan dan ajaran luhur beliau.
“Oleh karena itu, salah satunya semoga-moga diri kita ini oleh Gusti Allah dituntun ke jalan yang benar. Salah satunya yaitu merayakan hari kelahiran bulan kelahiran junjungan kita Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” pungkasnya, mengakhiri tausiyah dengan pesan mendalam.
Peringatan Maulid Nabi di Musala Miftahul Huda itu semakin meriah saat kembang api mulai dinyalakan, memecah gelapnya langit malam dengan cahaya warna-warni. Warga menikmati setiap rangkaian acara dengan penuh kebersamaan, dari khidmatnya tausiyah hingga riuhnya rebutan snack dan hangatnya santap ingkung. Tradisi religi yang diwariskan turun-temurun di Dusun Ringinputih ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah cara untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan suasana yang sederhana, meriah, penuh kegembiraan, dan sarat akan makna pendidikan spiritual dan sosial.













