KlikMojok – Di tengah hiruk pikuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah tradisi unik bernama Rombekan kembali menggema di Desa Kauman, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Ratusan warga, dari anak-anak hingga dewasa, berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan, menanti momen ketika lembaran dan kepingan uang berhamburan dari tangan para tokoh masyarakat dan pengurus masjid. Ini bukan sekadar pembagian rezeki, melainkan sebuah ritual tahunan yang telah mengakar kuat, menjadi simpul erat bagi jalinan kebersamaan dan pengajaran nilai-nilai luhur.
Tradisi Rombekan ini tersebar di berbagai sudut desa, mulai dari Masjid Darussalam yang megah, musala-musala kecil, hingga rumah-rumah warga. Antusiasme terpancar jelas di wajah setiap orang yang hadir. Saat uang dengan berbagai pecahan—mulai dari Rp500, Rp1.000, Rp2.000, hingga Rp20.000—mulai ditebarkan, kerumunan langsung diselimuti semangat berebut yang tak terbendung. Suara tawa dan teriakan riang anak-anak kecil yang bersemangat mengais koin di antara kaki-kaki orang dewasa menjadi melodi khas perayaan ini.

Eva (40), salah seorang warga yang tak pernah absen mengikuti tradisi ini, mengungkapkan kebahagiaannya. Baginya, Rombekan bukan hanya tentang nominal uang yang didapat, melainkan sebuah pengalaman berharga yang selalu dinanti bersama keluarga setiap tahun. “Senang bisa ikut, iya ini tradisi tiap tahun di Desa Kauman. Dapat banyak, mulai pecahan Rp500 perak, tidak tahu jumlahnya berapa. Iya berebutan dengan banyak warga, teriak-teriak. Seneng,” ujarnya dengan sumringah, menggambarkan semaraknya momen tersebut.
Keberlangsungan tradisi Rombekan ini tak lepas dari peran serta para tokoh masyarakat yang secara turun-temurun menjaga dan melestarikannya. Sampiono, salah satu tokoh masyarakat Desa Kauman, menjelaskan bahwa Rombekan telah berlangsung selama puluhan tahun, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia menambahkan bahwa uang yang dibagikan berasal dari dana pribadi sejumlah tokoh masyarakat, sebuah wujud nyata dari kepedulian dan rasa syukur mereka. “Tradisi Maulid Nabi di Desa Kauman ini sudah turun temurun mulai dari saya kecil sampai sekarang, menikah dan punya anak dua. Memang tradisi turun temurun di Desa Kauman ini, Yang diperebutkan uang koin mulai pecahan Rp500 sampai Rp1 ribu. Yang berebut warga, anak-anak. Yang ingin ikutan juga silahkan,” ungkap Sampiono, mengundang siapa saja untuk merasakan kegembiraan ini.
Sampiono sendiri mengaku menyiapkan sekitar Rp2 juta dari kantong pribadinya untuk tradisi Rombekan tahun ini, sebuah jumlah yang belum termasuk sumbangan dari tokoh masyarakat lainnya. “Kalau dari saya sendiri Rp2 juta, tidak tahu dari teman-teman. Tiap tahun seperti ini, keyakinan dari nenek moyang dulu, kita yang meneruskan,” tuturnya, menegaskan komitmennya dalam melestarikan warisan leluhur.
Sebelum keriuhan Rombekan dimulai, ratusan warga terlebih dahulu memenuhi masjid dan musala untuk mengikuti pembacaan selawat Nabi secara bersama-sama. Lantunan pujian kepada Rasulullah SAW yang syahdu menjadi pembuka spiritual sebelum warga larut dalam tradisi yang telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Desa Kauman. Ini menegaskan bahwa Rombekan bukanlah sekadar ajang berebut uang, melainkan sebuah manifestasi dari kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam bingkai budaya lokal.
Bagi warga Desa Kauman, Rombekan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Tradisi ini adalah momentum untuk memperingati kelahiran Rasulullah, sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Ia menjadi cerminan bagaimana nilai berbagi, kepedulian, dan kebersamaan dapat beriringan dengan warisan budaya keagamaan. Tradisi yang bertahan hingga kini ini juga berfungsi sebagai media pendidikan informal, mengajarkan generasi muda tentang pentingnya silaturahmi, kemurahan hati, dan pelestarian adat istiadat. Warga berharap, tradisi Rombekan akan terus lestari, diwariskan kepada anak cucu tanpa kehilangan makna utamanya: meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat.













