KlikMojok – Aroma itu menguar perlahan, menyelinap di antara hembusan angin sore Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Bukan harum masakan atau bunga melati, melainkan bau busuk yang kian pekat, menusuk indra penciuman Arif Rohman, seorang tetangga yang tinggal persis di depan rumah Novel Cholidi. Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, bau tak sedap itu menjadi pertanda awal dari sebuah kisah pilu yang baru akan terungkap keesokan harinya, menggugah pertanyaan tentang makna sebuah komunitas dan kepedulian terhadap sesama.
Kecurigaan Arif Rohman memuncak saat aroma misterius itu tak kunjung sirna. Ia kemudian melaporkan temuannya kepada Mochamad Abdul Rouf, kepala dusun setempat. Kekhawatiran yang membayangi akhirnya mendorong keduanya untuk mendatangi kediaman Novel Cholidi pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekitar pukul 13.00 WIB. Di dalam rumah yang senyap itu, mereka menemukan Novel Cholidi, seorang pria berusia 57 tahun, tergeletak tak bernyawa di ruang tamu. Kondisi tubuhnya telah membengkak dan mengeluarkan aroma tak sedap yang sebelumnya tercium, sebuah pemandangan yang menyayat hati, terlebih saat diketahui korban ditemukan tanpa mengenakan celana.
Penemuan tragis ini segera dilaporkan kepada Polsek Perak untuk penanganan lebih lanjut. Iptu M Supriyo, Kapolsek Perak, menjelaskan konteks kehidupan Novel Cholidi yang mungkin berkorelasi dengan penemuan terlambat ini. “Dari keterangan tetangga sekitar dan perangkat desa, korban diketahui tinggal seorang diri di rumah tersebut. Korban juga disebut jarang bersosialisasi dengan tetangga maupun masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya,” terang Iptu Supriyo, menggarisbawahi isolasi sosial yang dialami korban. Novel Cholidi, yang lahir di Jombang pada 9 Maret 1969 dan berprofesi sebagai karyawan swasta, ternyata menjalani hari-harinya dalam kesendirian yang mungkin tak banyak disadari lingkungannya.
Laporan awal kepolisian menduga Novel Cholidi memiliki riwayat penyakit diabetes, meskipun kepastian penyebab kematiannya masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau hal mencurigakan lainnya yang ditemukan di lokasi kejadian. Setelah penemuan jenazah diketahui, Farid Hasan, saudara korban, secara resmi melaporkan peristiwa duka ini kepada pihak kepolisian.
Menanggapi laporan tersebut, tim gabungan segera bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP). Kapolsek Perak bersama piket Reskrim, petugas SPKT, dan Unit Identifikasi Polres Jombang, serta anggota SPKT Polsek Perak, melakukan pemeriksaan mendalam. Tak hanya itu, personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Perak turut hadir untuk membantu proses evakuasi dan penanganan. Sejumlah langkah telah diambil, termasuk membuat laporan kepolisian, memeriksa saksi-saksi, dan melaporkan perkembangan kepada pimpinan. “Sejumlah barang milik korban juga kami amankan sebagai barang bukti, yakni kartu tanda penduduk (KTP), dompet, dan kaus berwarna biru,” tambah Iptu Supriyo.
Kisah Novel Cholidi bukan sekadar berita duka tentang seorang pria yang meninggal di Jombang. Ini adalah cerminan getir dari realitas kesendirian yang kerap luput dari perhatian di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Kematian yang baru terdeteksi dari aroma tak sedap ini menjadi pengingat pedih akan pentingnya kepedulian sosial, jaring pengaman komunitas, dan mata hati yang peka terhadap mereka yang memilih atau terpaksa hidup dalam isolasi. Sebuah pelajaran berharga tentang kemanusiaan, bahwa di balik setiap pintu tertutup, mungkin ada kisah yang menunggu untuk ditemukan, sebuah kehidupan yang membutuhkan sentuhan empati, sebelum semuanya terlambat dan hanya menyisakan aroma sepi yang menusuk.












