Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Api Abadi di Lawu: Solidaritas Lintas Batas dan Pelajaran Berharga dari Karhutla

badge-check

Api Abadi di Lawu: Solidaritas Lintas Batas dan Pelajaran Berharga dari Karhutla Perbesar

KlikMojok – Dari ketinggian Menara Sakura Hill, kepulan asap putih itu masih terlihat jelas, menari-nari di lereng Gunung Lawu, seolah enggan menyerah pada upaya pemadaman. Di bawahnya, di antara celah-celah pepohonan dan medan terjal, puluhan pasang mata dan tangan berjuang, tak hanya melawan bara api yang membakar hutan, tetapi juga hawa dingin dan kabut tebal yang menyelimuti puncak. Ini bukan sekadar berita tentang kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Gunung Lawu yang kembali membara pada Sabtu, 24 Oktober 2026, melainkan cerminan dari sebuah perjuangan tanpa henti dan pelajaran berharga tentang solidaritas serta tanggung jawab kita terhadap alam.

Titik-titik asap yang mengepul itu terpantau di kawasan lereng Lawu, khususnya di sekitar Pos 1 Cemoro Kandang, Gondosuli, dan Ngargoyoso, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namun, ancaman kebakaran hutan tidak mengenal batas wilayah. Kondisi ini dengan cepat memantik respons lintas provinsi, menunjukkan betapa krusialnya koordinasi dalam menghadapi bencana lingkungan.

Menyikapi situasi genting tersebut, sebanyak 67 relawan Cemorosewu yang berasal dari Kabupaten Magetan, Jawa Timur, segera diterjunkan. Mereka bergabung dengan relawan setempat, membentuk kekuatan gabungan yang bertugas mempercepat penyisiran bara api serta mengantisipasi potensi kebakaran susulan yang bisa kapan saja muncul. Pemantauan intensif, yang melibatkan personel gabungan dari Polres Magetan, TNI, BPBD Magetan, Perhutani KPH Lawu DS, serta jajaran Polsek Plaosan, dipusatkan dari Menara Sakura Hill di kawasan Cemoro Kandang, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.

Kapolsek Plaosan, AKP Agus Budi Witarno, menjelaskan bahwa hasil teropong pengamatan menunjukkan asap putih masih membumbung tinggi di sebelah barat Pos 1 Cemoro Kandang hingga kawasan Gondosuli. “Dari pemantauan lintas instansi, masih terlihat beberapa titik asap di wilayah Karanganyar. Karena itu diperlukan penanganan lanjutan dan koordinasi intensif antarpersonel di lapangan,” ujar AKP Agus Budi Witarno, Sabtu (24/10/2026).

Perjuangan memadamkan api di ketinggian selalu diwarnai tantangan. Kali ini, proses pemadaman udara atau water bombing menggunakan helikopter di kawasan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur sempat terkendala parah. Helikopter penyiram air dilaporkan baru dapat terlaksana satu kali operasi. Alasannya, cuaca di sekitar puncak Gunung Lawu dipenuhi kabut tebal yang membatasi jarak pandang, ditambah angin kencang yang bertiup ke arah barat laut, mempersulit manuver dan akurasi penyiraman.

Akibat hambatan dari udara, pemadaman darat oleh 67 relawan Cemorosewu Magetan bersama tim Cemoro Kandang menjadi tumpuan utama. Mereka harus menembus medan terjal dan berbahaya demi mengisolasi titik api. Dedikasi ini tidak luput dari apresiasi. AKP Agus Budi Witarno menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas sinergi dan keberanian para relawan lintas provinsi yang bahu-membahu menembus medan sulit demi menyelamatkan ekosistem hutan Gunung Lawu yang berharga.

“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh tim, khususnya 67 relawan Cemorosewu dari Magetan yang langsung bergabung membantu penanganan darat. Kami mengingatkan agar seluruh personel tetap mengutamakan keselamatan jiwa di tengah kondisi cuaca yang cepat berubah,” tegasnya, mengingatkan pentingnya keselamatan di tengah risiko yang mengintai.

Selain upaya pemadaman, pihak kepolisian juga tak henti melayangkan imbauan tegas kepada masyarakat, baik para pendaki maupun warga sekitar lereng. Pesan yang disampaikan adalah larangan keras untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar atau membuang puntung rokok sembarangan. Praktik-praktik ceroboh ini seringkali menjadi pemicu utama kebakaran baru, menghancurkan keanekaragaman hayati dan mengancam keseimbangan ekosistem. Edukasi dan kesadaran kolektif menjadi kunci pencegahan agar tragedi Karhutla tidak terus berulang.

Ketika kepulan asap akhirnya sirna dan hutan kembali bernapas, kisah perjuangan di lereng Lawu ini akan menjadi pengingat abadi. Ia bukan hanya tentang api yang padam, tetapi tentang semangat kemanusiaan yang menyala, tentang pentingnya solidaritas lintas batas tanpa memandang sekat administratif, dan tentang pendidikan tak terhingga yang diberikan alam kepada kita: bahwa menjaga titipan ini adalah tugas bersama, demi masa depan yang tak lagi diselimuti kabut asap, melainkan hijaunya harapan yang lestari.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Musibah yang Mengingatkan: Kisah Kebakaran Jombang dan Pentingnya Kewaspadaan

26 Okt 2026 - 06:12 WIB

Musibah yang Mengingatkan: Kisah Kebakaran Jombang dan Pentingnya Kewaspadaan

Mendukung Kedaulatan Energi: FSPPB Usulkan Pertamina Jadi Badan Usaha Khusus Migas Langsung di Bawah Presiden

26 Okt 2026 - 06:11 WIB

Mendukung Kedaulatan Energi: FSPPB Usulkan Pertamina Jadi Badan Usaha Khusus Migas Langsung di Bawah Presiden

Inovasi Bahan Ajar Digital AIK: Dr. Ima Faizah Raih Doktor Berkat ‘Halal Lifestyle’ untuk Mahasiswa

26 Okt 2026 - 06:10 WIB

Inovasi Bahan Ajar Digital AIK: Dr. Ima Faizah Raih Doktor Berkat ‘Halal Lifestyle’ untuk Mahasiswa

Dentuman Pesta, Racun di Balik Gempita: Candu Alkohol dalam Pusaran Sound Horeg Blitar

25 Okt 2026 - 21:07 WIB

Dentuman Pesta, Racun di Balik Gempita: Candu Alkohol dalam Pusaran Sound Horeg Blitar

Dari Ngontel Bareng Hari Santri, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Nganjuk Tak Sangka Bawa Pulang Kerbau

25 Okt 2026 - 21:05 WIB

Dari Ngontel Bareng Hari Santri, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Nganjuk Tak Sangka Bawa Pulang Kerbau
Trending di Pendidikan