KlikMojok – Tim dosen dari Program Studi S1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat pesisir. Mereka melaksanakan pemeriksaan kesehatan komprehensif secara gratis, termasuk deteksi dini diabetes melitus, yang ditujukan khusus bagi para nelayan di Desa Waru Lor, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Pada Selasa malam, 18 Agustus 2026, sekitar pukul 18.00 WIB, suasana Balai Desa Waru Lor, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, tampak berbeda dari biasanya. Para nelayan yang sehari-hari berjibaku dengan ombak dan angin laut, melangkahkan kaki dengan semangat menuju lokasi tersebut. Malam itu, aktivitas rutin mereka melaut dihentikan sejenak untuk mengikuti sebuah program penting yang berfokus pada salah satu aspek paling vital dalam kehidupan mereka: kesehatan.

Inisiatif mulia ini berhasil menarik perhatian 60 nelayan dari 120 warga yang diundang untuk berpartisipasi. Acara pengabdian masyarakat ini juga memperoleh dukungan penuh dari berbagai tokoh lokal. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Kepala Desa Waru Lor, Kepala Dusun (Kasun) Waru Lor Maftuhin, serta Ketua Rukun Nelayan Desa Waru Lor. Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat ini menjadi simbol pengakuan atas pentingnya menjaga kondisi fisik dan kesejahteraan para nelayan sebagai pahlawan laut.
Aksi sosial ini diinisiasi oleh tim dosen dari Program Studi S1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla). Nadiya Istighfara, S.KM., M.Kes., yang merupakan perwakilan dari tim peneliti S1 K3 Umla, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons terhadap data tingginya prevalensi penderita Diabetes Melitus (DM) yang ditemukan di wilayah pesisir Paciran.
Nadiya lebih lanjut memaparkan bahwa profesi nelayan, yang melibatkan beban fisik berat, jam kerja yang tidak teratur, serta durasi melaut yang panjang, secara inheren menyimpan berbagai risiko kesehatan yang berpotensi mengancam kapan saja. Mengingat kondisi ini, ia menekankan bahwa deteksi dini penyakit menjadi sebuah langkah preventif yang krusial dan sangat dibutuhkan.
Nadiya Istighfaara, S.KM., M.Kes., membuka acara dengan penjelasan mengenai maksud dan tujuan kegiatan, menciptakan suasana hangat di Balai Desa. Dalam kesempatan tersebut, Nadiya menegaskan, “Rangkaian pemeriksaan ini bukan sekadar mengukur kondisi tubuh saat ini, melainkan membuka mata para nelayan akan krusialnya pencegahan penyakit tidak menular sejak awal.”
Sambutan penuh rasa syukur dan haru disampaikan oleh Ketua Rukun Nelayan Desa Waru Lor. Beliau sangat mengapresiasi kehadiran tim medis dari kalangan akademisi yang bersedia menjangkau dan memberikan perhatian kepada masyarakat pesisir. Menurutnya, selama ini, akses terhadap pemeriksaan kesehatan rutin bagi para nelayan sering kali terabaikan.
Dengan nada tulus, Ketua Rukun Nelayan tersebut mengungkapkan, “Terima kasih sudah mau peduli terhadap kesehatan para nelayan. Selama ini belum ada orang atau lembaga yang melakukan kegiatan seperti ini. Kami merasa bersyukur. Semoga dengan adanya kegiatan pemeriksaan kesehatan ini bisa menjadi awal deteksi dini penyakit para bapak-bapak yang hadir di sini.”
Seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan ini berjalan dengan tertib dan terorganisasi dengan baik, berlangsung hingga pukul 21.30 WIB. Tim medis melakukan serangkaian pemeriksaan komprehensif, mencakup pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar perut, pengecekan kadar gula darah, pengukuran tekanan darah, serta menyediakan sesi konseling kesehatan. Dalam sesi konseling ini, para nelayan memiliki kesempatan untuk berkonsultasi mengenai berbagai keluhan fisik yang mereka alami.
Salah satu tahapan pemeriksaan yang paling menarik perhatian dan memicu rasa penasaran di antara para nelayan adalah penggunaan alat khusus. Tim K3 Umla memperkenalkan sebuah perangkat modern bernama reaction timer, yang berfungsi untuk mengukur tingkat kelelahan kerja seseorang melalui respons waktu reaksinya. Alat ini dikenal cukup langka di banyak institusi umum karena biaya pengadaannya yang relatif mahal.
Penerapan reaction timer ini sangatlah vital, terutama mengingat sifat pekerjaan nelayan Pantura yang menuntut fisik dan mental secara ekstrem. Profesi ini memerlukan konsentrasi tinggi saat menghadapi gelombang laut, paparan cuaca ekstrem, dan jam kerja yang tidak menentu, yang secara akumulatif menguras energi fisik dan mental nelayan tanpa disadari. Kondisi kelelahan kronis inilah yang sering kali menjadi faktor pemicu utama timbulnya berbagai penyakit metabolik.
Aksi pengabdian masyarakat ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan berlandaskan pada riset ilmiah yang tengah dikembangkan oleh tim dosen S1 K3 Umla. Penelitian tersebut berfokus pada hubungan antara durasi melaut dan tingkat kelelahan kerja dengan risiko Diabetes Melitus pada nelayan di wilayah Pantura Lamongan. Dengan pendekatan humanis ini, para nelayan tidak hanya berperan sebagai subjek penelitian, tetapi juga mendapatkan manfaat konkret berupa layanan medis dan pemeriksaan kesehatan gratis.
Diharapkan, melalui langkah nyata dan kolaborasi yang terjalin antara perguruan tinggi, pemerintah desa, serta komunitas nelayan ini, hubungan baik dapat terus berlanjut secara konsisten. Hal ini penting karena kesehatan para nelayan bukan hanya sekadar kemampuan fisik untuk mengayuh dayung atau menebar jaring di lautan. Lebih dari itu, kesehatan merupakan jaminan fundamental agar mereka dapat terus produktif bekerja dan kembali ke keluarga dalam keadaan sehat, aman, dan sejahtera.













