KlikMojok – Hamparan hijau yang dulu perkasa, kini mulai memudar, berganti rona kekuningan yang kering kerontang. Di balik keindahan alam Lumajang yang memesona, tersimpan ancaman nyata: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang setiap tahun menjadi bayang-bayang menakutkan, terutama saat musim kemarau tiba. Vegetasi yang mengering akibat sengatan matahari tak henti, mengubah lanskap pegunungan dan perbukitan menjadi tumpukan material mudah terbakar, menunggu percikan api kecil untuk memantik bencana besar.
Menyadari potensi bahaya ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang telah mengambil langkah proaktif dengan memetakan secara cermat kawasan-kawasan yang paling rentan. Pemetaan ini bukan sekadar data geografis, melainkan sebuah upaya edukasi dan mitigasi dini yang krusial bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memahami risiko dan bertindak preventif. Kawasan rawan karhutla ini tersebar luas, membentang dari ujung utara hingga selatan Kabupaten Lumajang, mencakup area pegunungan, perbukitan, hingga lahan perkebunan tebu yang luas.

Isnugroho, Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, menjelaskan bahwa pemetaan ini mencakup berbagai titik strategis yang memiliki karakteristik vegetasi kering dan potensi pemicu api. “Ini kita mitigasi mulai dari utara, ada Gunung Lemongan, bergeser ke Sawaran, lalu kawasan tebu Jatiroto. Terus bukit Pucang Rangga, Gunung Tambuh, sepanjang pegunungan Gajah Mungkur sampai tebing Dampar,” ucap Isnugroho di Lumajang, Rabu (26/8/2026), menggambarkan cakupan wilayah yang harus diwaspadai secara serius.
Di bagian utara Lumajang, misalnya, ancaman mengintai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Kecamatan Senduro, sebuah kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati tinggi yang rentan terhadap api. Tak ketinggalan, hutan Gunung Lemongan yang ikonik serta Bukit Sawaran di Kecamatan Klakah juga masuk dalam daftar prioritas. Bergeser ke wilayah Pasirian, potensi kebakaran dipetakan di Bukit Pucang Rangga, Bukit Tambuh, hingga deretan pegunungan Gajah Mungkur yang membentang ke kawasan hutan tebing pantai Dampar. Bahkan, lahan tebu di Kecamatan Jatiroto yang luas dan kering pun tak luput dari perhatian, mengingat materialnya yang mudah terbakar.
Kondisi vegetasi di area-area tersebut, seperti dijelaskan Isnugroho, memang telah mengering secara signifikan akibat kemarau panjang. Hal ini menjadikan material tumbuhan, mulai dari ranting, daun, hingga rerumputan kering, sangat mudah terbakar jika terpapar sumber api sekecil apa pun. Oleh karena itu, BPBD Lumajang tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra saat beraktivitas di kawasan terbuka, terutama ketika berinteraksi dengan sumber api.
Edukasi tentang bahaya membuang puntung rokok sembarangan menjadi sangat vital. Percikan api yang tampak sepele dari puntung rokok bisa menjadi pemicu malapetaka yang melahap ribuan hektare hutan. “Jadi, pastikan membuang puntung rokok tidak sembarangan. Karena cuacanya memang betul-betul panas, sedikit saja ada percikan bisa kebakaran. Apabila membakar sampah juga harus ditunggu sampai betul-betul padam,” ungkap Isnugroho, menekankan pentingnya tanggung jawab individu. Kesadaran untuk memastikan api benar-benar padam setelah membakar sampah juga merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mitigasi ini.
Ancaman karhutla bukan hanya tentang hilangnya pohon atau habitat satwa, melainkan juga tentang dampak jangka panjang terhadap kualitas udara, kesehatan manusia, hingga kerugian ekonomi dan ekologis yang tak ternilai. Oleh karena itu, pemetaan dan imbauan dari BPBD Lumajang ini menjadi pengingat kolektif bahwa menjaga kelestarian alam adalah tugas bersama, sebuah pendidikan berkelanjutan untuk membangun budaya siaga dan peduli lingkungan di tengah tantangan iklim yang semakin ekstrem.













