Menu

Mode Gelap
Muktamar NU ke-35 Siap Gemparkan Dunia: Usung Gagasan Fikih Ekologi dan Misi Kemanusiaan Global! OMI 2026 Guncang Madrasah: Ajang Bergengsi, Gratis, dan Mudah Cetak Talenta Sains-Riset Islami! Merajut Khittah di Tanah Santri: Ikhtiar IKAPETE Jatim Menjaga Marwah NU Jelang Muktamar ke-35 Oase di Tengah Kemarau Panjang: Sumur Bor Harapan Baru Warga Pamekasan Mahasiswa KKN UMM Berdayakan Warga Desa Pait: Ubah Susu Sapi Lokal Jadi Yogurt Rumahan Berprospek Ekonomi Bukan di Sekolah, Siswa SMA IT Insan Cemerlang Pilih Ngaji Bareng Kiai di Masjid Cheng Ho

Berita Terkini

Indef Bongkar: Ekonomi RI Gemilang, Tapi Dompet Pekerja Melompong!

badge-check

Pertumbuhan ekonomi kita pasca-pandemi Covid-19, yang katanya nangkring di angka 5 persen, ternyata cuma ‘tipuan’ belaka? Setidaknya begitu kata Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Maghfiruha Rachbini. Menurutnya, angka mentereng itu tak sejalan dengan kenaikan upah riil yang diterima para pekerja.

Eisha mengungkapkan kekhawatirannya ini dalam seminar daring yang judulnya aja udah bikin mikir, “Reshuffle Menyembuhkan Ekonomi?”, yang dihelat Universitas Paramadina pada 10 September 2025 lalu. Kontradiksi itu memang nyata: pertumbuhan ekonomi meroket 5 persen, tapi upah riil—duit yang masuk kantong pekerja—justru stagnan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indef bahkan nunjukkin, kenaikan upah riil pascapandemi cuma mentok di sekitar 2 persen. Jauh banget, kan?

Lantas, apa biang kerok di balik mandeknya upah riil ini? Eisha Maghfiruha menunjuk satu nama: deindustrialisasi. Ia mengkritik pemerintah yang disebutnya belum punya strategi jitu buat ‘ngegas’ lagi sektor manufaktur, padahal sektor ini tulang punggung utama industri kita. Efeknya, sumbangan manufaktur ke perekonomian terus melorot. Bayangin aja, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal-II 2025 cuma nyentuh 18,67 persen. Padahal, dulu, angkanya bisa di atas 20 persen, lho. Nyesek, kan?

Imbas dari deindustrialisasi ini ternyata makin parah. Eisha melihat ada pergeseran tenaga kerja yang masif ke sektor informal. Nah, ini dia masalahnya. Pekerjaan di sektor informal seringkali jauh dari kata stabil, alias bikin hidup para pekerja jadi nggak tenang dan susah dapat penghidupan yang layak. Ibaratnya, mereka hidup dari hari ke hari tanpa jaminan jelas.

Melihat kondisi ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB itu menitipkan harapan besar kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Eisha mendesak Menkeu untuk segera mengevaluasi kebijakan fiskal yang ada, dengan tujuan utama memberikan stimulus konkret bagi penciptaan lapangan pekerjaan. Menurutnya, prioritas utama kebijakan fiskal kita seharusnya berfokus pada program-program yang benar-benar bisa memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Bukan cuma angka doang, tapi dampaknya nyata terasa di kantong dan hidup rakyat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Bangunsari Madiun Tolak TPST, Sosialisasi DLH Berujung Mediasi Tanpa Keputusan Final

24 Agustus 2026 - 10:54 WIB

7 Hektare Lahan Jati di Gunung Bungkuk Magetan Hangus Terbakar, BPBD Ingatkan Warga Waspada

24 Agustus 2026 - 06:13 WIB

Kecelakaan Maut Bojonegoro: Nenek 85 Tahun Tewas Terlindas Truk Saat Motor Salip dari Kiri

23 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Jombang Siapkan 99 Masjid Ramah Muktamirin, Fasilitasi Ribuan Peserta Muktamar NU

23 Agustus 2026 - 16:57 WIB

Sekdes di Probolinggo Digerebek di Hotel Bersama Istri Warga, Pemkab Tunggu Laporan Resmi

23 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trending di Berita Terkini