KlikMojok – Minggu petang yang seharusnya tenang di Dusun Bandaran, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tiba-tiba dirobek oleh kepulan asap hitam pekat. Dari dua bangunan yang berhimpitan, api mulai menari-nari, melahap segala yang dilewatinya. Musibah kebakaran di Jombang ini bukan hanya tentang kerugian materi, tetapi juga sebuah pengingat keras akan pentingnya mitigasi risiko dan kewaspadaan terhadap ancaman yang seringkali terabaikan, seperti korsleting listrik.
Kedua bangunan yang dilalap si jago merah itu merupakan rumah sekaligus tempat usaha milik Fatkhur (56), yang sehari-hari menjalankan bisnis kasur spons, dan Sampan (58), pemilik usaha mebel. Ironisnya, keduanya adalah saudara kandung, yang kini harus menyaksikan usaha dan tempat tinggal mereka luluh lantak dalam sekejap. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik sebagai pemicu. Percikan api yang tak terlihat itu, dalam sekejap, menemukan bahan bakar sempurna: tumpukan busa spons yang sangat mudah terbakar.
Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari atap rumah menjadi saksi bisu betapa cepatnya api membesar. Warga setempat, yang menyadari bahaya, bergegas memberikan pertolongan. Dengan alat seadanya, mereka berupaya memadamkan api dan menyelamatkan barang-barang berharga yang masih bisa dijangkau. Namun, seperti dijelaskan oleh Risdianto, anggota Damkar Pos Mojoagung, upaya itu tak mudah. “Awalnya warga melakukan pemadaman menggunakan alat seadanya. Namun kuatnya hembusan angin dan banyaknya bahan yang mudah terbakar membuat api sulit dijinakkan. Warga kemudian melaporkan ke Damkar Pos Mojoagung,” kata Risdianto, Senin (26/20/2026).
Tak lama setelah laporan diterima, petugas pemadam kebakaran segera tiba di lokasi. Dua unit kendaraan pemadam (pumper) dan satu unit kendaraan suplai air dikerahkan untuk menaklukkan amukan api. Namun, perjuangan mereka tak ringan. Material yang sangat mudah terbakar, seperti spons kasur, lem, tiner, dan kayu, membuat api sulit dikendalikan. Selama hampir empat jam, para petugas berjibaku melawan kobaran api yang tak kenal ampun, hingga akhirnya berhasil menjinakkan.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden tragis ini, dampaknya terasa mendalam. Istri Fatkhur, yang menyaksikan rumah dan usahanya dilalap api, mengalami syok berat dan harus dilarikan ke RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis. Kerugian material yang ditimbulkan pun tak main-main. Seluruh bangunan, yang masing-masing berukuran sekitar 6 x 20 meter dan 5 x 15 meter, hangus tak bersisa. Perabotan rumah tangga, satu unit sepeda motor, serta seluruh perlengkapan usaha—dari spons, lem, tiner, hingga kayu—berubah menjadi abu. Total kerugian diperkirakan mencapai angka fantastis: Rp800 juta.
Dugaan awal penyebab kebakaran adalah korsleting arus pendek listrik, sebuah ancaman senyap yang seringkali luput dari perhatian. Peristiwa ini menjadi pengingat krusial bagi kita semua akan pentingnya pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penggunaan peralatan listrik yang standar, dan kesiapan menghadapi potensi bencana. Sebab, di balik setiap musibah, selalu ada pelajaran berharga yang dapat dipetik, agar tragedi serupa tak terulang dan kewaspadaan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.












