Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran

badge-check

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran Perbesar

KlikMojok – Pada Ahad, 18 Oktober 2026, Sekolah Mubaligat Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo menyelenggarakan sebuah simulasi dakwah secara berkelompok yang berlangsung seru. Kegiatan ini bertujuan membekali para peserta, yang merupakan calon mubaligat, dengan pemahaman mendalam tentang psikologi dakwah. Melalui materi ini, mereka diajak untuk memahami mad’u atau sasaran dakwah, serta merancang strategi penyampaian dakwah yang tepat dan efektif.

Simulasi dakwah bagi para mubaligat ini menjadi bagian penting dari pertemuan keenam Sekolah Mubaligat PDA Sidoarjo yang diselenggarakan pada hari Ahad, 18 Oktober 2026.

Acara tersebut dihadiri oleh 35 perwakilan dari berbagai Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) di seluruh wilayah Sidoarjo, bertempat di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo.

Kegiatan simulasi ini menandai bahwa para peserta telah menempuh separuh dari keseluruhan rangkaian program sekolah mubaligat. Dalam kesempatan tersebut, Akhmad Fauzi, S.Pd.I., M.Pd., bertindak sebagai narasumber yang menyampaikan materi mengenai psikologi dakwah.

Materi yang disampaikan oleh Akhmad Fauzi ini mengintegrasikan prinsip-prinsip psikologi terapan dengan ilmu dakwah. Tujuan utamanya adalah untuk membekali calon mubaligat agar mampu memahami secara komprehensif perilaku, kondisi kejiwaan, serta proses mental dari mad’u atau sasaran dakwah mereka.

Berbekal pemahaman tersebut, para mubaligat diharapkan dapat menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang tepat dan efektif. Selain itu, penting bagi mereka untuk memastikan bahwa pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh mad’u secara sadar dan sukarela, tanpa adanya unsur paksaan.

Akhmad Fauzi, yang menjabat sebagai Wakil Ketua PCM Sepanjang periode 2022–2027 dan juga Sekretaris Majelis Tabligh PDM Sidoarjo periode 2022–2027, menjelaskan betapa krusialnya memahami karakteristik sasaran dakwah.

Menurut Akhmad Fauzi, “dakwah merupakan ajakan kepada manusia untuk menempuh jalan Allah Swt.” Ia menambahkan bahwa dengan mengikuti jalan tersebut, manusia diharapkan akan memperoleh petunjuk yang benar serta meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi calon mubaligat untuk memahami secara mendalam karakteristik mad’u sebelum mereka menyampaikan materi dakwah. Ia mengingatkan para pendakwah agar senantiasa menghindari penggunaan pendekatan yang justru dapat menyebabkan orang lain menjauh dari ajaran agama.

Mengutip pesan dari Nabi Muhammad Saw, Akhmad Fauzi kembali menekankan betapa pentingnya untuk “menghindari tindakan yang membuat orang lain menjauh dari ajaran Islam.”

Selanjutnya, ia menguraikan tujuh aspek fundamental yang harus dipahami oleh setiap calon mubaligat sebelum mereka menentukan tema dan metode dakwah yang akan digunakan.

Aspek pertama adalah usia sasaran dakwah, yang mencakup berbagai kelompok generasi, mulai dari baby boomer, Generasi Z, hingga Generasi Alpha. Setiap kelompok usia ini memiliki karakteristik serta kebutuhan komunikasi yang unik dan berbeda satu sama lain.

Kedua, latar belakang pendidikan mad’u, yang bisa bervariasi dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tingkat pendidikan ini secara signifikan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memahami materi dakwah yang disampaikan.

Ketiga, kondisi keluarga, yang dapat berupa keluarga harmonis, keluarga yang menghadapi konflik, atau keluarga dengan orang tua tunggal. Faktor ini berperan penting dalam membantu pendakwah memahami kondisi sosial dan emosional dari sasaran dakwah.

Keempat, pekerjaan dan kondisi ekonomi sasaran dakwah. Mad’u dapat berasal dari berbagai profesi dan status ekonomi, seperti Aparatur Sipil Negara (ASN), pekerja kantoran, pekerja lapangan, wiraswasta, pengusaha, pekerja lepas, hingga ibu rumah tangga.

Kelima, pengalaman beragama, yang mencakup mualaf, individu yang tumbuh di lingkungan pesantren atau keluarga ulama, maupun masyarakat yang memiliki pengetahuan agama yang terbatas.

Keenam, masalah dan kebutuhan spesifik dari sasaran dakwah, termasuk di dalamnya persoalan pendidikan, isu ekonomi, serta berbagai kebutuhan sosial lainnya.

Ketujuh, kondisi psikologis mad’u, yang meliputi tingkat kesiapan mereka dalam menerima materi, antusiasme, serta keterbukaan terhadap pesan dakwah yang akan disampaikan.

Dengan pemahaman yang komprehensif terhadap ketujuh aspek ini, para mubaligat akan lebih mampu menentukan tema kajian yang relevan untuk dakwah bil-lisan atau merancang program dakwah bil-hal yang tepat. Hal ini memastikan bahwa pendekatan dakwah yang digunakan tidak hanya berdasarkan kebiasaan pendakwah, melainkan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Selain memberikan pemaparan teori, Akhmad Fauzi juga mengajak seluruh peserta untuk mempraktikkan materi yang telah disampaikan melalui sesi simulasi dakwah secara berkelompok. Dalam simulasi ini, peserta dibagi menjadi lima kelompok, dengan tiga kelompok fokus pada dakwah bil-lisan dan dua kelompok lainnya pada dakwah bil-hal.

Sesi diskusi berlangsung sangat meriah dan interaktif. Setiap peserta aktif menyampaikan gagasan mereka, yang kemudian dirumuskan bersama oleh masing-masing kelompok untuk mengembangkan ide dakwah berdasarkan karakteristik sasaran yang telah mereka tentukan.

Salah satu contoh menarik datang dari Kelompok 2, yang dipimpin oleh Fifin Widyaprasti. Setelah berdiskusi selama kurang lebih 10 menit, kelompok ini berhasil menyusun rancangan program dakwah bil-hal yang secara khusus ditujukan untuk kalangan lanjut usia (lansia).

Sasaran yang dipilih oleh Kelompok 2 adalah para lansia, di mana banyak di antara mereka berstatus janda dan berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Mayoritas dari sasaran ini juga memiliki latar belakang pendidikan setingkat SMP dan menunjukkan kebutuhan akan pendampingan dalam hal pengetahuan agama.

Berangkat dari kondisi sasaran tersebut, Kelompok 2 merancang sebuah program pembelajaran membaca Al-Qur’an yang dimulai dari tingkat dasar. Program ini juga mencakup praktik ibadah dasar, seperti tata cara berwudu dan salat, yang sangat relevan bagi kebutuhan para lansia.

Kelompok ini berencana untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara rutin, yaitu sekali setiap pekan. Dengan pendekatan yang terencana ini, para peserta berharap agar para lansia dapat memperoleh pendampingan agama yang benar-benar sesuai dan relevan dengan kebutuhan spesifik mereka.

Akhmad Fauzi turut mengingatkan tentang urgensi untuk terus mengevaluasi cara pendakwah dalam memperlakukan sasaran dakwah. Ia menekankan bahwa menjaga hubungan baik dengan mad’u yang sudah ada adalah hal yang sama pentingnya, bahkan tidak kalah krusial, dibandingkan upaya menjangkau sasaran dakwah yang baru.

Oleh karena itu, para pendakwah harus menghindari “sikap munaffirin, yaitu perilaku yang membuat orang lain menjauh, merasa tidak nyaman, atau bahkan membenci ajaran Islam.”

Dengan demikian, melalui simulasi dakwah mubaligat ini, PDA Sidoarjo tidak hanya membekali para peserta dengan landasan teori semata. Lebih dari itu, kegiatan ini secara efektif melatih calon mubaligat untuk mampu menyusun program dakwah yang lebih terarah, manusiawi, dan benar-benar responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Setelah Api Bromo Padam: Perjuangan Suraji Melawan Luka Bakar, Menanti Cangkok Kulit, dan Memaknai Sebuah Kehilangan

20 Okt 2026 - 12:38 WIB

Setelah Api Bromo Padam: Perjuangan Suraji Melawan Luka Bakar, Menanti Cangkok Kulit, dan Memaknai Sebuah Kehilangan

Di Balik Seragam Bhayangkara: Setetes Darah, Sejuta Asa dari Polres Ponorogo

20 Okt 2026 - 12:37 WIB

Di Balik Seragam Bhayangkara: Setetes Darah, Sejuta Asa dari Polres Ponorogo

Guru MAM Trenggalek Sabet Juara Esai, Paparkan Sukses Ralina Literasi

20 Okt 2026 - 12:37 WIB

Guru MAM Trenggalek Sabet Juara Esai, Paparkan Sukses Ralina Literasi

Smamdela Gelar Kokurikuler Inovatif: Gerak, Racikan, dan Bahasa Inggris untuk Pembelajaran Nyata

20 Okt 2026 - 12:36 WIB

Smamdela Gelar Kokurikuler Inovatif: Gerak, Racikan, dan Bahasa Inggris untuk Pembelajaran Nyata

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu

20 Okt 2026 - 09:45 WIB

Ketika Air Terjun Ribuan Mengalir, Kebutuhan Modern Terganjal: Dilema ATM di Wisata Tumpak Sewu
Trending di Pendidikan