KlikMojok – Pagi itu, secangkir kopi hampir saja membuat saya tersedak, bukan karena rasanya yang pahit atau sarapan yang mendadak tak enak. Melainkan karena sebuah foto mengejutkan yang mendarat di telepon genggam saya: Ali Mujahidin dan Tb. Iman Ariyadi, dua nama besar di kancah politik Banten, berdiri berdampingan, tersenyum lebar, dan kompak mengacungkan jempol. Momen ini sontak memicu kehebohan di kalangan pegiat dan pengamat politik daerah.
Bagi mereka yang awam dengan seluk-beluk sejarah politik Cilegon, mungkin foto tersebut hanyalah potret biasa, sekadar pertemuan dua orang yang kemudian berpose. Namun, bagi para pelaku dan pemerhati yang mengikuti perjalanan panjang kedua tokoh ini, foto tersebut bagaikan membuka kembali lemari sejarah yang telah lama terkunci rapat. Ini bukan sekadar jepretan kamera, melainkan sebuah ‘tamparan’ visual yang mengingatkan kita pada dinamika politik masa lalu.

Dua nama yang dulunya dikenal berseberangan, bahkan kerap berhadapan dalam kontestasi politik, kini terlihat akur dalam satu bingkai. Dan justru karena kontrasnya masa lalu dengan pemandangan saat ini, foto sederhana ini menjadi sangat menarik dan memicu berbagai spekulasi serta perbincangan hangat di tengah masyarakat. Ini adalah potret yang berpotensi viral, mengingat betapa sengitnya persaingan mereka di masa lampau.
Ali Mujahidin dan Tb. Iman Ariyadi bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul di panggung sosial-politik Cilegon. Keduanya memiliki rekam jejak dan perjalanan yang panjang serta berpengaruh. Ali Mujahidin, misalnya, tumbuh dan besar di lingkungan Al-Khairiyah, sebuah institusi pendidikan dan sosial yang memiliki akar kuat di Banten. Kini, ia dipercaya memimpin PB Al-Khairiyah, menunjukkan kapasitas kepemimpinannya dan pengaruhnya yang tak bisa diremehkan dalam lanskap politik lokal. Pertemuan mereka ini menjadi penanda baru dalam narasi politik Banten yang selalu dinamis.













