KlikMojok – Festival Menjadi Gresik, sebuah inisiatif yang digagas oleh Yayasan Gang Sebelah, secara unik mengajak publik untuk menelusuri kembali sejarah dan identitas Kota Gresik melalui lensa pengalaman dan ingatan warga. Acara ini diselenggarakan di kawasan kota lama Kampung Kemasan, Gresik, dari tanggal 15 hingga 30 Agustus 2026.
Di sepanjang Jalan Kampung Kemasan, Gresik, lembar-lembar kain berwarna-warni menggantung, menampilkan potongan-potongan ingatan berharga dari para warga. Kain-kain ini menyajikan narasi personal tentang kehidupan kampung, cita rasa makanan khas, kisah keluarga, kebiasaan sehari-hari, dan berbagai detail kecil yang membentuk esensi kehidupan di Gresik.

Di tengah deretan bangunan-bangunan kuno yang telah berdiri selama berabad-abad, lembaran-lembaran kain tersebut bertransformasi menjadi semacam arsip hidup yang terbuka untuk umum. Para pengunjung dapat berjalan menyusuri lorong-lorong kampung, meresapi setiap cerita yang terpajang, menjelajahi bangunan-bangunan tua yang kini berfungsi sebagai ruang pamer aktif, serta berinteraksi langsung dengan warga lokal dan geliat ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut.
Seluruh pengalaman interaktif ini merupakan salah satu metode utama yang digunakan oleh Festival Menjadi Gresik untuk mengajak khalayak luas memahami dan membaca kembali narasi sebuah kota dengan cara yang lebih mendalam dan personal.
Selama ini, pemahaman tentang sejarah kota seringkali terbatas pada arsip resmi, bangunan bersejarah monumental, catatan perdagangan kuno, kisah-kisah kerajaan, biografi tokoh-tokoh penting, atau peristiwa politik besar. Meskipun semua elemen tersebut krusial untuk memahami perjalanan suatu daerah, terdapat dimensi sejarah lain yang tak selalu tercatat dalam dokumen formal; ia bersemayam dalam ingatan kolektif warga.
Sejarah tak tertulis ini terwujud dalam resep makanan yang diwariskan secara turun-temurun, dalam gaya pakaian yang dikenakan sehari-hari, dalam tradisi unik kampung, kisah-kisah keluarga, dialek bahasa lokal, kebiasaan-kebiasaan khas, serta pengetahuan yang secara lisan terus diestafetkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Digagas oleh Yayasan Gang Sebelah, Festival Menjadi Gresik akan berlangsung di Kampung Kemasan, Gresik, sepanjang periode 15 hingga 30 Agustus 2026.
Hidayatun Nikmah, selaku Direktur Festival Menjadi Gresik, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari sebuah kegelisahan. Ia menyatakan, “Menjadi Gresik berangkat dari kegelisihan bahwa sejarah kota sering kali diceritakan melalui narasi besar, sementara pengetahuan yang hidup dalam keseharian warga justru luput dicatat.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa melalui elemen-elemen seperti dapur rumah tangga, pakaian tradisional, hidangan khas, struktur kampung, hingga kisah-kisah yang diwariskan lintas generasi, kita dapat secara jernih memahami bagaimana suatu masyarakat secara aktif membentuk dan memelihara identitas kotanya.
Dengan demikian, Festival Menjadi Gresik berupaya membuka berbagai jalur pemahaman tentang kota ini, dengan fokus pada aspek-aspek yang sangat melekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbagai medium seperti dapur, pasar tradisional, struktur kampung, aneka makanan, ragam pakaian, ruang-ruang bersejarah, bahkan ingatan personal, diangkat sebagai alat untuk menelisik keterkaitan erat antara sejarah, identitas, dan dinamika kehidupan sosial.
Hidayatun Nikmah lebih lanjut menjelaskan bahwa salah satu pendekatan utama yang diterapkan dalam festival ini adalah gastronomi. Dalam konteks ini, makanan tidak hanya dipandang sebagai sekadar hidangan lezat atau produk kuliner semata, melainkan sebagai sebuah bentuk pengetahuan yang memiliki koneksi mendalam dengan lingkungan sekitar, aspek ekonomi, tradisi keluarga, jejak sejarah, serta struktur kehidupan sosial masyarakat.
Ia menambahkan, “Melalui Seri Gastronomi, Yayasan Gang Sebelah melakukan riset dan dokumentasi terhadap sejumlah makanan khas Gresik, antara lain bandeng keropok, jubung, dan bubur roomo.”
Proses riset ini tidak berhenti hanya pada pendokumentasian resep semata. Penelusuran mendalam juga dilakukan untuk mengidentifikasi bahan baku, memahami teknik pengolahan tradisional, menelusuri cara penyajian yang khas, mengenali para pelaku yang gigih mempertahankan tradisi kuliner tersebut, hingga menggali cerita dan ingatan personal yang menyertai setiap perjalanan makanan tersebut.
Dari hasil riset yang komprehensif ini, berbagai bentuk karya kemudian dikembangkan, salah satunya adalah film dokumenter. Film ini bertujuan untuk mempertemukan pengetahuan otentik dari para pelaku tradisi dengan masyarakat luas, yang mungkin selama ini hanya mengenal makanan tersebut sebagai bagian rutin dari kehidupan sehari-hari mereka tanpa memahami kedalaman ceritanya.
Pendekatan metodologis yang serupa, lanjut Hidayatun Nikmah, juga diterapkan dalam menafsirkan makna pakaian. Berbagai bentuk busana yang dikenakan oleh masyarakat Gresik, seperti sarung, kebaya, dan songkok, tidak semata-mata diperlakukan sebagai objek fisik atau atribut identitas belaka.
Ia menegaskan, “Pakaian dibaca melalui hubungan antara tubuh, kebiasaan, ruang sosial, serta perubahan cara masyarakat membangun dan menampilkan identitasnya.”
Irfan Akbar, selaku Direktur Program, menjelaskan bahwa tujuan utama festival ini adalah untuk memperkaya narasi tentang “kegresikan” atau identitas khas Gresik. Ia menyatakan, “Kami tidak sedang mencari satu definisi tentang Gresik. Justru kami ingin membuka ruang agar warga dapat menceritakan Gresik dari pengalaman mereka sendiri. Festival ini adalah salah satu cara untuk mempertemukan kembali ingatan yang tersebar itu, mendokumentasikannya, lalu membawanya kembali kepada publik.”
Kampung Kemasan di Kelurahan Pekelingan memegang peranan krusial sebagai salah satu ruang utama dalam implementasi festival ini. Kawasan bersejarah tersebut tidak hanya difungsikan sebagai latar belakang estetik untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan.
Namun, lebih dari itu, jalan-jalan setapak di kampung, bangunan-bangunan lama yang otentik, rumah-rumah warga, bahkan ruang-ruang yang sebelumnya tidak terpakai, semuanya diintegrasikan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman festival yang menyeluruh.
Sejumlah bangunan tua yang tersebar di sepanjang Kampung Kemasan diaktivasi dan difungsikan sebagai ruang pamer serta lokasi presentasi. Jalan-jalan kampung diubah menjadi jalur interaktif bagi pengunjung untuk berjalan dan membaca kisah-kisah yang ditampilkan. Warga setempat juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk membuka usaha mikro dan stand kuliner yang turut memeriahkan suasana festival.
Melalui pendekatan ini, ruang-ruang bersejarah di Kampung Kemasan tidak lagi diperlakukan sebagai objek statis yang hanya bisa diamati dari kejauhan. Sebaliknya, kawasan ini kembali dihidupkan dan difungsikan secara aktif, sekaligus menjadi titik temu yang dinamis antara jejak masa lalu dan denyut kehidupan masa kini.
Berbagai komunitas dan institusi turut berperan aktif dalam memeriahkan dan mendukung penyelenggaraan festival ini. Di antaranya adalah DKV Universitas Internasional Semen Indonesia, CYG Team, Kronika SMAN 1 Gresik, Power Art SMAN 1 Gresik, Gresik Book Party, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, serta Niti Narasi.
Para partisipan dari komunitas dan institusi tersebut mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari kelas pembekalan, pendampingan intensif, hingga kesempatan berharga untuk mempresentasikan hasil riset dan eksplorasi mereka kepada khalayak luas.
Proses penelitian dalam festival ini menggunakan beragam objek sebagai pintu masuk eksplorasi, meliputi pakaian adat, fenomena percampuran budaya antara masyarakat Tionghoa dan Arab, karakteristik arsitektur Kampung Kemasan, dinamika Pasar Pahing, pembuatan songkok dan tas besali, tradisi gulat okol, keberadaan aksara Gresik, hingga keunikan laban di kawasan Pangkah.
Pilihan objek penelitian yang sangat beragam ini secara jelas menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya terbatas pada bentuk-bentuk kesenian yang sudah dikenal secara luas. Lebih dari itu, kebudayaan juga dapat ditemukan dan dimaknai dalam benda-benda sehari-hari, struktur ruang, bahasa tutur, ekspresi tubuh, bentuk-bentuk permainan, jenis-jenis pekerjaan, dan seluruh pengetahuan yang tumbuh serta berkembang dari pengalaman hidup masyarakat itu sendiri.
Berbagai luaran seperti pameran, film, E-Magazine, dokumentasi gastronomi, dan presentasi hasil riset yang dihasilkan dalam Festival Menjadi Gresik tidak diposisikan sebagai tujuan akhir dari kegiatan ini. Sebaliknya, seluruhnya merupakan bagian integral dari upaya jangka panjang untuk membangun sebuah arsip pengetahuan yang dinamis, yang dapat terus dikembangkan, ditinjau ulang, didiskusikan secara kritis, bahkan dilengkapi dan diperkaya oleh generasi-generasi berikutnya.
Hidayatun Nikmah menegaskan visi tersebut dengan menyatakan, “Bagi kami, merawat kebudayaan bukan hanya menyelamatkan sesuatu dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan agar tetap bisa digunakan, dibicarakan, dan dimaknai oleh generasi hari ini. Karena itu, Menjadi Gresik bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan tentang memahami apa yang membuat kita menjadi Gresik hari ini.”













