Menu

Mode Gelap
Senam Massal Meriahkan Gebyar UMKM Sidoarjo, Perkuat Komunitas dan Dorong Ekonomi Lokal Tak Hanya Yamaha, Servis Motor Murah di Gebyar UMKM Sidoarjo Layani Semua Merek Sangkar 5.0 GKJW Suwaru: Panggung Keberagaman Nusantara dan Dongkrak UMKM Malang Di Balik Riuh Muktamar NU: Tabir Pemukulan yang Terkuak di Luar Gerbang Tambakberas Lumpur, Tawa, dan Lele: Merawat Pendidikan Karakter di Balik Perayaan Kemerdekaan Sawah Pletes Ponorogo Strategi Branding Masjid di Era Digital: Kunci Membangun Kepercayaan Jemaah

Pendidikan

Lumpur, Tawa, dan Lele: Merawat Pendidikan Karakter di Balik Perayaan Kemerdekaan Sawah Pletes Ponorogo

badge-check


					Lumpur, Tawa, dan Lele: Merawat Pendidikan Karakter di Balik Perayaan Kemerdekaan Sawah Pletes Ponorogo Perbesar

KlikMojok – Di tengah hamparan sawah yang basah oleh lumpur, di lingkungan Pletes, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, tawa riang anak-anak dan sorak-sorai orang dewasa bersahutan. Bukan karena panen raya, melainkan karena sebuah tradisi unik yang telah menjadi penanda perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia: lomba tangkap lele. Dalam balutan lumpur dan kegembiraan, warga Pletes bukan hanya berburu ikan, tetapi juga merawat pendidikan karakter dan semangat kebersamaan yang kian relevan di era modern.

Pada Minggu pagi, 30 Agustus 2026, puluhan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan sengaja menceburkan diri ke petak-petak sawah yang telah disiapkan panitia. Sekitar 1 kuintal lele dilepaskan, menjadi target utama dalam perlombaan yang penuh gelak tawa ini. Daya tarik kompetisi semakin meningkat dengan adanya hadiah tambahan—berupa kaus, tempat sampah, dan uang tunai—bagi mereka yang berhasil menangkap lele bertanda pita.

Begitu aba-aba dimulai, para peserta segera berhamburan menyusuri sawah yang dipenuhi lumpur. Tangan-tangan cekatan mereka sibuk meraba-raba dan mengejar lele yang lincah berusaha meloloskan diri. Pemandangan ini tak hanya menjadi ajang adu kecepatan dan ketangkasan, melainkan juga sebuah potret hidup dari semangat gotong royong dan kegembiraan sederhana yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Keseruan lomba tangkap lele ini tak hanya dirasakan oleh para peserta. Di tepian sawah, penonton berdiri berjejer, memberikan semangat dan arahan. Sesekali, teriakan “kanan!” atau “kiri!” terdengar lantang, menunjukkan posisi lele yang bersembunyi. Suasana ini menciptakan ikatan tak terlihat antara mereka yang berlaga di lumpur dan mereka yang menyaksikan dari pinggir, memperkuat rasa persaudaraan dalam sebuah perayaan.

Erna Aminin, salah seorang warga setempat, mengaku turut menikmati hiruk-pikuk perlombaan tersebut. Meski tidak ikut turun langsung ke sawah, Erna bersama warga lainnya tak henti memberikan arahan kepada para peserta. Baginya, melihat perjuangan dan kegembiraan peserta sudah cukup membahagiakan. “Lihat orang-orang rebutan dan dapat lele, rasanya sudah senang,” kata Erna, menggambarkan bagaimana kebahagiaan kolektif mampu menular dan menjadi bagian dari sebuah pendidikan sosial.

Bagi Ibrahim Ramsey, bocah berusia 11 tahun yang menjadi salah satu peserta anak-anak, lomba ini adalah lebih dari sekadar perburuan lele. Ini adalah kesempatan emas untuk bermain lumpur bersama teman-teman, sebuah pengalaman yang kian langka di tengah gempuran gawai. Ibrahim mengaku sangat senang bisa menjadi bagian dari kegiatan ini, yang baginya adalah perpaduan sempurna antara petualangan dan kebersamaan. Jika berhasil mendapatkan lele, ia sudah punya rencana. “Kalau dapat lele ya nanti digoreng dan dimakan sekeluarga,” ungkap Ibrahim, menunjukkan nilai kebersamaan keluarga yang terajut dari sebuah hasil lomba sederhana.

Ibrahim menambahkan bahwa kegiatan semacam ini bukanlah agenda rutin yang bisa dinikmati setiap saat. Lomba tangkap lele hanya muncul sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan RI, dan tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua di lingkungannya. Sehari sebelumnya, berbagai lomba anak-anak juga telah digelar, memperkaya semarak Agustusan dan memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi dan berkompetisi secara sehat.

Supri, peserta dewasa lainnya, juga berhasil memperoleh lele dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, sistem beregu yang diterapkan panitia membuat proses menangkap lele terasa lebih mudah. “Alhamdulillah tadi cepat dapat lele,” kata Supri, menyoroti bagaimana kerja sama tim menjadi kunci keberhasilan, sebuah pelajaran penting dalam pendidikan karakter.

Sarono, salah satu panitia lomba, menjelaskan bahwa konsep unik ini sengaja dibuat untuk menghadirkan suasana berbeda. Warga ingin perayaan HUT ke-81 RI tidak hanya diisi perlombaan yang biasa digelar. Sawah dipilih sebagai arena untuk menciptakan keseruan yang melibatkan peserta dan penonton secara emosional. “Kita sediakan kurang lebih 1 kuintal yang kita masukkan ke dalam sawah ini,” tandasnya, menegaskan komitmen panitia untuk menyemarakkan acara.

Menurut Sarono, peserta diberi kebebasan penuh untuk menangkap lele yang sudah ditebar. Kondisi sawah yang berlumpur justru menjadi bagian tak terpisahkan dari keseruan lomba, menuntut peserta untuk bergerak cepat sambil menjaga keseimbangan. Bagi penonton, pemandangan ini menjadi hiburan tersendiri yang sarat tawa dan sorakan.

Sarono juga menambahkan bahwa lomba tangkap lele bukanlah kegiatan baru bagi warga setempat. Perlombaan ini sudah rutin digelar setiap perayaan Agustusan. Selain lele, peserta juga berkesempatan mendapatkan hadiah tambahan berupa uang atau kaus, yang bisa ditukar dengan lele bertanda pita. “Tangkap lele ini sudah rutin setiap Agustusan,” katanya, menggarisbawahi statusnya sebagai tradisi yang dipertahankan dan menjadi bagian dari pendidikan budaya lokal.

Lomba tangkap lele ini adalah salah satu cara warga lingkungan Pletes merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Lebih dari sekadar ajang berburu ikan, kegiatan ini menjadi sebuah wadah di mana anak-anak dan orang dewasa bisa berbaur, belajar bekerja sama, dan merasakan kebahagiaan kolektif. Lumpur sawah justru menghilangkan sekat, mendekatkan jarak antara peserta dan penonton. Semua larut dalam suasana perayaan kemerdekaan yang otentik. Dari sebuah lomba sederhana, warga Pletes menghadirkan hiburan sekaligus memperkuat kebersamaan, mengajarkan nilai-nilai luhur kemerdekaan melalui partisipasi aktif dan pelestarian tradisi, sebuah bentuk pendidikan informal yang tak ternilai harganya bagi generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Balik Riuh Muktamar NU: Tabir Pemukulan yang Terkuak di Luar Gerbang Tambakberas

30 Agustus 2026 - 10:02 WIB

Strategi Branding Masjid di Era Digital: Kunci Membangun Kepercayaan Jemaah

30 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Relevansi Empat Pilar Kepemimpinan Rasulullah dalam Membentuk Kader Muhammadiyah Berintegritas

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Malam Panjang Muktamar NU: Perubahan Dramatis Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU

30 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Muktamar NU Mengukir Sejarah: Pergeseran Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU Melalui AHWA

30 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Trending di Pendidikan