KlikMojok – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, konsep branding masjid di era digital telah menjadi suatu kebutuhan esensial bagi para takmir. Langkah strategis ini berperan vital dalam upaya membangun citra positif dan memperkuat kepercayaan jemaah terhadap institusi masjid.
Oleh karena itu, pengelola masjid didorong untuk mengoptimalkan penggunaan berbagai platform media digital. Pemanfaatan media ini sangat mendukung publikasi beragam kegiatan masjid, penyebaran informasi penting, serta efektivitas siar dakwah kepada khalayak yang lebih luas.

Penekanan terhadap urgensi branding digital ini disampaikan oleh Ustaz Fajar Wahyudi, seorang perwakilan dari Takmir Masjid Al-Ikrom, Wage. Beliau memaparkan materi tersebut dalam acara Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) Batch 4.
Kegiatan pelatihan tersebut diselenggarakan secara langsung di lingkungan Masjid Al-Ikrom, yang berlokasi di Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, pada hari Jumat, 28 Agustus 2026.
Dalam sesi materinya, Ustaz Fajar Wahyudi menguraikan secara mendalam mengenai makna sesungguhnya dari branding bagi sebuah masjid.
Menurut pandangannya, branding tidaklah semata-mata terbatas pada urusan logo atau identitas visual semata. Sebaliknya, branding sebuah masjid terbentuk dan berkembang melalui serangkaian proses serta pengalaman langsung yang dirasakan oleh jemaah saat mereka berinteraksi dengan masjid.
Fajar menegaskan, “Layanan fisik itu adanya di masjid, tetapi brand atau kesan itu melekat di dalam otak dan dirasakan oleh jemaah. Brand adalah pantulan dari sebuah proses dan pengalaman ( experience ) hingga menjadi sebuah nama yang bermakna.”
Berdasarkan pemahaman tersebut, sangat penting bagi para pengelola masjid untuk senantiasa memperhatikan kualitas pelayanan yang diberikan. Selain itu, menjaga jalur komunikasi yang efektif dan berkelanjutan dengan jemaah juga merupakan hal yang krusial.
Ustaz Fajar turut mengingatkan agar pengelola masjid aktif dalam mengelola citra mereka sendiri. Dalam konteks ini, media digital muncul sebagai salah satu sarana paling strategis untuk melaksanakan upaya pengelolaan citra tersebut.
“Jika kita tidak mem-branding diri kita dengan baik, maka orang lain yang akan mem-branding kita dengan persepsi mereka,” tambah Fajar, menekankan pentingnya inisiatif proaktif.
Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa konsep pembangunan identitas diri bukanlah suatu hal yang baru dalam sejarah.
Sejarah peradaban Islam sendiri mencatat banyak tokoh besar yang memiliki gelar atau julukan kuat, yang sangat merefleksikan karakter dan reputasi mereka.
Sebagai contoh, Rasulullah Saw. secara luas dikenal dengan gelar “Al-Amin”, sebuah julukan yang secara sempurna menggambarkan sifat Nabi yang sangat dapat dipercaya.
Selain itu, Umar bin Khattab mendapat julukan “Singa Padang Pasir”, sementara Khalid bin Walid masyhur dengan gelar “Saifullah” atau “Pedang Allah”.
Bagi Fajar, keberadaan gelar-gelar tersebut dengan jelas menunjukkan betapa fundamentalnya karakter dan reputasi seseorang. Kedua elemen ini, menurutnya, terbentuk dan berkembang melalui serangkaian proses serta pengalaman yang konsisten dan berkelanjutan.
Selain fokus pada pembangunan branding yang kuat, Ustaz Fajar juga secara aktif mendorong setiap masjid untuk mengoptimalkan pemanfaatan media digital.
Langkah ini tidak hanya berpotensi memperluas jangkauan informasi yang disebarkan, tetapi juga meningkatkan efektivitas siar dakwah. Media digital memungkinkan masjid untuk menyampaikan beragam kegiatan dan program kepada jemaah secara lebih efisien, sehingga jemaah dapat mengetahui aktivitas masjid dengan jauh lebih mudah.
Lebih jauh lagi, pengelola masjid dapat memanfaatkan media digital sebagai alat untuk meningkatkan transparansi. Contohnya adalah melalui publikasi rutin mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan dan penyajian laporan keuangan yang akuntabel.
Berangkat dari urgensi tersebut, Takmir Masjid Al-Ikrom secara khusus mengajak seluruh jemaah dan masyarakat luas untuk turut serta mendukung program digitalisasi masjid.
Bentuk dukungan tersebut dapat berupa keterlibatan jemaah sebagai relawan media masjid. Peran mereka meliputi bantuan dalam menyebarkan konten-konten dakwah yang relevan dan informatif.
Di sisi lain, masyarakat juga dapat memberikan kontribusi dengan mendukung pengadaan berbagai sarana digital yang dibutuhkan oleh masjid.
Dengan adanya pengelolaan media digital yang optimal dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, masjid memiliki potensi besar untuk memperluas manfaatnya secara signifikan. Masjid tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata.
Lebih dari sekadar itu, masjid dapat bertransformasi dan berkembang menjadi pusat multifungsi yang vital, meliputi peran sebagai pusat dakwah, sumber informasi, sarana edukasi, dan sekaligus menjadi wadah bagi beragam kegiatan kemasyarakatan yang bermanfaat.













