KlikMojok – Jombang—Di tengah hiruk pikuk bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kerap diwarnai isu dan tarik-menarik kepentingan, muncul satu nama yang melangkah dengan tenang namun penuh bobot: KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin. Sosoknya semakin menguat menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Tambakberas, Jombang.
Gus Kikin bukan nama baru dalam lingkaran Nahdlatul Ulama. Beliau adalah cicit dari Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus muassis Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Warisan intelektual dan spiritual tersebut kini diemban oleh Gus Kikin sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng, institusi bersejarah tempat KH Hasyim Asy’ari pertama kali menyalakan obor peradaban Islam Nusantara. Amanah kepemimpinan pesantren ini diterimanya setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Proses suksesi di Tebuireng berjalan dengan penuh kehati-hatian, mencerminkan tradisi musyawarah yang mendalam. Sejak tahun 2016, Gus Sholah sendiri telah meminta Gus Kikin untuk mempersiapkan diri melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari. Tebuireng, dalam konteks ini, bukan sekadar tempat mengabdi; ia adalah penjaga sanad keilmuan dan tradisi yang menjadi ruh bagi organisasi Nahdlatul Ulama. Dari sinilah, nilai-nilai luhur NU terus dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kiprah Gus Kikin tidak berhenti di lingkungan pesantren semata. Pengalamannya meluas hingga ke ranah organisasi, di mana ia dipercaya memimpin basis NU terbesar di Jawa Timur. Setelah menjabat sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuqi Mustamar, Gus Kikin kemudian terpilih secara definitif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur untuk periode 2024-2029. Pengalaman memimpin organisasi dan mengelola pesantren, ditambah dengan rekam jejak di dunia usaha, membentuknya menjadi figur yang memahami dua dunia sekaligus: dunia keumatan dan kebangsaan, spiritualitas dan ekonomi, yang sangat dibutuhkan oleh NU di masa kini.
Penilaian akan kapasitas utuh Gus Kikin ini juga datang dari berbagai kalangan kiai. Salah satunya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat. Menurutnya, Gus Kikin memiliki kapasitas yang menyeluruh untuk memimpin organisasi sebesar NU. “Seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya,” tegas KH Junaidi. Ia menambahkan, “Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, punya kekuatan di bidang jaringan untuk bagaimana membangun. Di media juga beliau pernah punya media televisi.”
Mandat untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU ini bukanlah keinginan pribadi. Pada Juli 2026, PWNU Jawa Timur beserta seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur secara bulat sepakat menugaskan Gus Kikin untuk maju. Wakil Rais PWNU Jatim, KH Abdul Matin Djawahir, menegaskan bahwa penugasan ini murni merupakan keputusan kolektif. “Ini bukan keinginan pribadi beliau. Kita tanya beliau siap atau tidak, katanya siap. Murni pendapat PCNU. Alhamdulillah seluruh PCNU bersama PWNU satu garis mengusung kiai,” ujar KH Matin. Ia juga menambahkan, “Selain dzurriyah KH M Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga memiliki pengalaman organisasi yang matang, bahkan hingga PBNU. Sosoknya juga teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah.”
Menanggapi mandat besar ini, sikap Gus Kikin tetap sederhana dan menyejukkan. “Ini amanah, bukan niat pribadi,” tuturnya. Ia menyatakan kesiapannya untuk menjalankan amanah jika memang dipercaya oleh muktamirin, para peserta muktamar. Gus Kikin memilih pendekatan yang senyap namun kokoh, terus menjalin silaturahmi ke berbagai wilayah, dari pesantren-pesantren di Jawa Timur hingga bertemu tokoh dan kiai di Makassar, tanpa gemerlap kampanye yang berlebihan. Ini mencerminkan prinsip kepemimpinan yang mengutamakan adab dan substansi.
Gagasan yang ia usung berpijak pada fondasi organisasi yang kuat, yakni penguatan kembali Qanun Asasi sebagai dokumen dasar NU, serta mewujudkan NU yang berpijak pada adab dan politik kebangsaan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sanad keilmuan dan persatuan di tengah berbagai tantangan zaman. Pesan ini dinilai publik sebagai jawaban atas hiruk-pikuk dan potensi perpecahan yang kerap membayangi muktamar besar seperti tahun ini.
Dari rahim Pesantren Tebuireng, dengan membawa darah pendiri NU, Gus Kikin mewakili harapan baru bagi kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Ia berdiri bersih dari kontroversi, menjaga muruah organisasi di tengah potensi konflik internal pengurus. Sosoknya diharapkan dapat membawa NU memasuki abad kedua dengan semangat persatuan, keilmuan, dan kemandirian yang telah menjadi ciri khasnya. Inilah amanah yang diemban dari Tebuireng, untuk Nahdlatul Ulama di abad kedua perjalanannya.













