KlikMojok – Jombang, sebuah kota yang selalu berdenyut dengan napas keilmuan pesantren, kini tengah bersiap menyambut hajatan akbar Nahdlatul Ulama: Muktamar NU ke-35. Di tengah riuhnya persiapan tersebut, sebuah suara penting dari kalangan alumni santri Tebuireng akan mengemuka. Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pesantren Tebuireng (PW IKAPETE) Jawa Timur dijadwalkan menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) pada Jumat, 28 Agustus 2026, bertempat di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, Jogoroto, Jombang. Forum ini menjadi sebuah ikhtiar strategis untuk menyuarakan gagasan-gagasan fundamental demi masa depan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.
Ketua PW IKAPETE Jawa Timur, KH Roisudin Bakri, menegaskan bahwa Muswil ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah ruang refleksi dan perumusan rekomendasi krusial terkait arah Nahdlatul Ulama. Momentum Muktamar NU ke-35 di tanah kelahiran pendiri NU ini dianggap sebagai kesempatan emas untuk mengembalikan jam’iyah pada nilai-nilai dasar perjuangan atau khittah yang telah dirintis oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Khittah NU, yang menekankan kemandirian, moralitas, dan fokus pada umat, adalah fondasi yang tak boleh lekang oleh zaman.

Muswil IKAPETE Jatim akan membahas empat agenda utama yang dirancang untuk memperkuat marwah NU. Pertama, secara tegas, IKAPETE Jatim menyatakan penolakan terhadap politik uang atau praktik politik transaksional dalam proses pemilihan kepemimpinan NU. Sikap ini adalah bentuk menjaga kehormatan ulama dan memastikan legitimasi moral para pemimpin PBNU yang akan terpilih, agar terbebas dari intervensi yang merusak integritas.
Kedua, IKAPETE mendorong Nahdlatul Ulama untuk kembali memperkuat khittah dengan mengakhiri polarisasi internal yang kerap menguras energi. Fokus utama harus kembali dipusatkan pada khidmah keumatan, yakni pengabdian tulus kepada masyarakat, kemandirian ekonomi pesantren dan warga Nahdliyin, serta penguatan pendidikan pesantren sebagai pilar utama dakwah dan kaderisasi.
Ketiga, forum ini akan membahas dukungan penuh kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin untuk masuk dalam jajaran puncak kepemimpinan PBNU. Gus Kikin, yang saat ini dikenal sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur, dinilai memiliki kapasitas yang mumpuni. Roisudin Bakri menyampaikan, “Kyai Romo Kikin telah membuktikan kapasitasnya dalam merajut soliditas selama memimpin PWNU Jatim. Beliau adalah figur visioner yang matang secara moral dan intelektual.”
Keempat, IKAPETE Jatim berharap Muktamar NU ke-35 menjadi momentum rekonsiliasi nasional yang sesungguhnya. Muktamar ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi ruang islah atau perdamaian untuk memperkuat kembali kekompakan di kalangan kiai dan seluruh warga Nahdliyin, menyatukan kembali potensi yang mungkin sempat tercerai-berai.
Menutup pernyataannya, Roisudin Bakri berharap seluruh alumni Tebuireng dapat ikut mengawal rangkaian Muktamar NU ke-35 yang akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Keterlibatan aktif para alumni dianggap penting agar seluruh rangkaian muktamar dapat berjalan dalam suasana yang damai dan senantiasa mengedepankan persatuan. “Sebagaimana pesan Kyai kita, NU itu teduh, bukan gaduh,” pungkasnya, mengingatkan kembali esensi sejati dari perjuangan Nahdlatul Ulama yang selalu mengutamakan kedamaian dan kebersamaan.













