KlikMojok – Di balik perbukitan hijau yang memeluk Dusun Wonosari, Desa Tugurejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, tersimpan sebuah narasi tentang ketangguhan dan asa. Bukan sekadar cerita tentang pembangunan fisik, melainkan jalinan semangat kolektif yang tak lekang dimakan zaman. Di sanalah, gemuruh swadaya masyarakat mengalun, menorehkan jejak sepanjang 1.200 meter, sebuah jalan yang bukan hanya menghubungkan dua titik geografis, tetapi juga merajut simpul-simpul harapan menuju Jalur Lintas Selatan (JLS) dan masa depan yang lebih cerah bagi warga Wonosari Blitar.
Selama bertahun-tahun, keterbatasan infrastruktur menjadi bayangan panjang yang membayangi kehidupan Dusun Wonosari. Akses jalan yang belum memadai bukan hanya sekadar hambatan mobilitas, tetapi juga tembok penghalang bagi geliat ekonomi, distribusi hasil pertanian, bahkan kesempatan anak-anak untuk menjangkau pendidikan yang lebih layak. Realitas inilah yang kemudian memantik kesadaran kolektif, menumbuhkan inisiatif yang luar biasa dari warga bersama pemerintah desa untuk mengubah takdir mereka sendiri.
Supangat, Kepala Desa Tugurejo, yang menjadi saksi sekaligus motor penggerak inisiatif ini, menuturkan bahwa pembangunan jalan berstatus Surat Keputusan (SK) Kabupaten Blitar itu lahir dari kebutuhan mendesak masyarakat. “Kami selaku Kepala Desa Tugurejo mewakili warga masyarakat Dusun Wonosari, bersama-sama melakukan pembangunan jalan SK Kabupaten Blitar yang tembus menuju JLS dengan cara swadaya masyarakat. Jalan yang kami bangun secara swadaya tersebut memiliki panjang sekitar 1.200 meter,” ujar Supangat pada Senin, 2 November 2026. Pernyataan ini bukan sekadar pengumuman, melainkan manifestasi dari sebuah komitmen yang dipegang teguh.
Jalan baru ini diharapkan menjadi urat nadi yang memompa kehidupan Dusun Wonosari. Dengan terbukanya akses langsung ke JLS, distribusi hasil bumi dari ladang-ladang warga, aktivitas perdagangan, dan mobilitas sehari-hari akan jauh lebih lancar. Lebih dari itu, jalur ini juga menyimpan potensi besar untuk menyulap Desa Tugurejo menjadi destinasi wisata baru. Deretan pantai eksotis di kawasan ini, yang selama ini sulit dijangkau, kini akan lebih mudah dikunjungi oleh wisatawan.
“Harapan kami, dengan terbangunnya jalan tembus menuju JLS ini, perekonomian masyarakat Dusun Wonosari bisa semakin meningkat. Apalagi jalan tersebut merupakan akses penting bagi warga dan juga bisa menjadi jalur menuju tempat wisata pantai yang ada di Desa Tugurejo,” jelas Supangat, menggambarkan optimisme yang membuncah di tengah warganya. Peningkatan ekonomi ini, pada gilirannya, akan membuka peluang lebih luas bagi peningkatan kualitas hidup, termasuk akses terhadap informasi dan pendidikan yang lebih baik.
Namun, semangat swadaya memiliki batasnya. Supangat tidak menampik bahwa upaya mandiri warga memiliki keterbatasan untuk menuntaskan proyek berskala besar ini secara maksimal. Oleh karena itu, uluran tangan dan dukungan anggaran dari pemerintah daerah menjadi krusial untuk mempercepat dan menyempurnakan pembangunan infrastruktur jalan di Dusun Wonosari. Ini adalah pelajaran tentang kolaborasi, di mana inisiatif akar rumput bertemu dengan dukungan kebijakan.
Mewakili seluruh masyarakat Desa Tugurejo, Supangat secara terbuka menyampaikan harapan kepada pucuk pimpinan daerah. Ia memohon kepada Bupati Blitar Rijanto dan Wakil Bupati Blitar Beky Herdiansah agar memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan vital ini. “Kami bersama seluruh warga Desa Tugurejo sangat berharap kepada Bapak Bupati Blitar dan Wakil Bupati Blitar agar bisa merealisasikan anggaran pada tahun 2027 untuk mempercepat proses pembangunan jalan di Dusun Wonosari ini,” pungkasnya. Sebuah permohonan yang bukan hanya tentang aspal dan beton, tetapi tentang investasi pada masa depan sebuah komunitas.
Kisah Dusun Wonosari adalah potret nyata kekuatan gotong royong dan kemandirian yang tumbuh dari rahim masyarakat. Ini adalah bukti bahwa pendidikan tidak selalu terjadi di ruang kelas, melainkan juga melalui aksi nyata, di mana setiap cangkul dan ayunan linggis mengajarkan arti kebersamaan dan perjuangan. Jalan yang mereka bangun bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan jembatan menuju peluang, pengetahuan, dan kesejahteraan. Kini, bola harapan ada di tangan pemerintah daerah, untuk menyambut semangat ini dan bersama-sama merajut mimpi besar Wonosari agar tak hanya menjadi cerita, melainkan sebuah kenyataan yang berkelanjutan.












