KlikMojok – Pola pikir pengelolaan masjid yang cenderung tradisional dan enggan meminta donasi kepada jemaah menjadi sorotan dalam Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) Batch 4 di Sidoarjo. Direktur AM3 LPCRPM PP Muhammadiyah, Ir. Kusnadi Ikhwani, M.M., mengungkapkan bahwa mentalitas ‘pelit’ atau takut kehabisan dana pada pengurus takmir perlu diubah.
Dalam sesi materi ‘Mindset Kemasjidan: Reorientasi Paradigma Pengelolaan Masjid dari Tradisional menuju Modern-Profesional’, seorang peserta bernama Satsari dari PDM Lumajang mengajukan pertanyaan yang menggambarkan realitas di banyak masjid. Ia menanyakan cara menghadapi ketua takmir yang digambarkan seperti ‘petinju’, yaitu sangat erat menggenggam uang masjid dan enggan meminta dana dari jemaah.

“Bagaimana solusinya menghadapi takmir yang seperti petinju ini? Mau bikin program bagus tapi selalu bingung pendanaan karena takmirnya pelit dan enggan minta dana,” tanya Satsari di hadapan puluhan marbot dan pengurus masjid se-Jawa Timur.
Menanggapi hal tersebut, Kusnadi Ikhwani menekankan bahwa keikutsertaan ketua takmir dalam AM3 sangatlah penting untuk mengubah paradigma pengelolaan masjid. Ia menegaskan, “Inilah alasannya kenapa ketua takmir itu wajib hukumnya ikut Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) agar mindset-nya berubah total, dari pengelolaan tradisional yang serba takut menjadi pengelolaan modern-profesional.”
Kusnadi menjelaskan bahwa kunci utama kemakmuran masjid terletak pada keberanian dan keterbukaan komunikasi. Ia berpendapat, masjid tidak seharusnya memelihara mentalitas miskin atau takut akan kekurangan dana. “Ingat, uang masjid itu sebenarnya tidak berada di dalam kotak infak yang terkunci rapat di sudut ruang salat. Uang masjid itu ada di dalam kantong jemaah. Oleh karena itu, tugas takmir adalah menyampaikan saja semua kebutuhan program dan visi kemakmuran masjid secara jujur dan transparan kepada jamaah,” paparnya.
Untuk membuktikan teorinya, Kusnadi membagikan contoh nyata melalui percakapan WhatsApp di ponselnya. Ia menunjukkan bagaimana seorang jemaah, yang disebut sebagai ‘Hamba Allah’, tanpa ragu menyumbangkan dana sebesar Rp500 juta untuk mendukung program kemakmuran masjid yang dikelolanya.
Kusnadi kemudian membeberkan resep spiritual dan sosial yang diyakininya ampuh dalam meluluhkan hati para donatur. Menurutnya, pendekatan finansial tidak akan efektif tanpa didasari oleh ikatan batin dan silaturahmi yang tulus. “Makanya kita sebagai pengurus masjid harus sering mendoakan para donatur dan jemaah kita. Jangan cuma datang kalau butuh uang. Sering-seringlah bersilaturahmi, bawa oleh-oleh ke rumah mereka. Terapkan prinsip tahaddu tahabbu —saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai,” ungkapnya.
Dengan pendekatan humanis dan beradab, terjalin hubungan emosional yang kuat antara takmir dan jemaah. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan (trust) yang pada akhirnya membuat jemaah tidak ragu untuk menyerahkan harta terbaiknya demi kemakmuran masjid.
Pelaksanaan AM3 Batch 4 yang berlangsung dari 28 hingga 30 Agustus 2026 di Masjid Al-Ikrom Wage, Sidoarjo, merupakan inisiatif dari Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dengan moto ‘Memakmurkan Masjid, Mencerahkan Umat’, pelatihan ini bertujuan mencetak kader marbot dan takmir yang profesional, terbuka, serta mampu menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan pelayanan umat.













