Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Transformasi Peran Wali Kelas di Sekolah Muhammadiyah GKB: Lebih dari Sekadar Pengajar

badge-check

Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

KlikMojok – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB baru-baru ini menyelenggarakan kegiatan Upgrading Wali Kelas bertajuk “From Service to Trust”. Acara ini bertujuan untuk memperkuat peran strategis para guru sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan optimal bagi lembaga pendidikan dan juga orang tua siswa.

Suasana di Aula SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik, yang juga dikenal sebagai Berlian Primary School, menjadi semarak pada Sabtu, 12 September 2026. Ratusan pendidik berkumpul di sana untuk mengikuti acara Upgrading Wali Kelas dengan tema ‘From Service to Trust’.

Program yang diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB ini mengungkap sebuah realitas baru dalam dunia pendidikan. Peran seorang wali kelas ternyata telah berkembang jauh melampaui tugas-tugas tradisional seperti mengajar di depan kelas atau memeriksa lembar soal. Kaswandi, selaku Sekretaris Majelis Dikdasmen PNF PCM GKB, menyampaikan penekanan mengenai transformasi lingkup kerja ini saat membuka acara, mewakili Ketua Majelis.

Dalam sambutannya, Kaswandi menjelaskan, “Ternyata wali kelas bukan sekadar guru atau pendidik, tetapi ada tambahan pekerjaan. Ada pengelolaan administrasi kelas, pembinaan karakter siswa, hingga menjalin hubungan dengan wali siswa,”.

Kompleksitas tugas dan tanggung jawab ini secara otomatis menuntut para wali kelas untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan belajar secara berkelanjutan. Berada di posisi garda terdepan, kemampuan dalam mengelola dinamika kelas menjadi suatu keharusan yang mutlak. Dengan demikian, wali kelas berperan sebagai jembatan penting yang menghubungkan berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, hingga seluruh jajaran manajemen sekolah.

Lebih lanjut, Kaswandi menegaskan bahwa orientasi utama bagi setiap pendidik adalah memberikan pelayanan dengan sepenuh hati. Pelayanan yang tulus ini, menurutnya, tidak hanya ditujukan kepada siswa di jenjang kelas VII, VIII, atau IX, melainkan juga harus mampu merangkul semua pemangku kepentingan yang terkait dengan sekolah. Oleh karena itu, pelatihan ini diselenggarakan sebagai landasan kuat agar para guru dapat melaksanakan amanah ini dengan fleksibilitas dan tanpa kekakuan.

Dalam kesempatan tersebut, Kaswandi juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh jajaran panitia yang telah sukses merancang dan menyelenggarakan acara ini. Dengan semangat, ia menyatakan, “Terima kasih kepada panitia untuk kesiapan kegiatan. Tujuan kita meningkatkan kemampuan karena dengan pelayanan yang baik akan meningkatkan pelayanan dari hati. Mari kita berikan pelayanan dengan sepenuh hati agar konsumen merasakan pelayanan yang paripurna,”.

Pesan tersebut secara jelas mengingatkan seluruh peserta pelatihan bahwa kepuasan para orang tua siswa dan kenyamanan belajar para siswa berakar dari sikap hangat serta dedikasi guru di lingkungan sekolah. Dengan memberikan dedikasi yang utuh, seorang wali kelas tidak hanya sekadar menjalankan rutinitas profesi, melainkan turut serta secara aktif dalam membangun reputasi dan citra positif bagi lembaga pendidikan.

Menjelang penutupan arahannya, Kaswandi juga berpesan kepada para wali kelas agar senantiasa memacu kapasitas diri dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang ada. Ia menambahkan bahwa tantangan dalam menghadapi beragam karakter siswa dan orang tua justru harus dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan kedewasaan profesionalitas seorang guru.

Terakhir, Kaswandi secara langsung menyampaikan harapannya kepada narasumber yang hadir. Ia berujar, “Kami juga menitipkan pesan kepada pemateri mohon bisa membagi pengetahuan kepada lebih dari 100 guru, selain menerima komplain dan curhat dari siswa dan wali siswa. Untuk kemudian mengelolanya sehingga menjadi kekuatan untuk kekuatan organisasi,”.

Melalui pelatihan dan penggemblengan ini, diharapkan keluhan serta dinamika yang terjadi sehari-hari tidak lagi dianggap sebagai beban yang menguras energi. Majelis Dikdasmen PNF PCM GKB sangat optimistis bahwa berbagai keluhan tersebut dapat dirajut dan dikelola menjadi pijakan yang kokoh, demi memperkuat fondasi organisasi di masa mendatang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Api Mengamuk di Bypass Krian: Pelajaran Berharga dari Korsleting dan Bahaya Material Mudah Terbakar

12 Sep 2026 - 09:46 WIB

Ketika Api Mengamuk di Bypass Krian: Pelajaran Berharga dari Korsleting dan Bahaya Material Mudah Terbakar

Jalur Baru Asa Atlet: Polemik Dana Hibah KONI Blitar dan Kesejahteraan Olahraga

12 Sep 2026 - 09:45 WIB

Jalur Baru Asa Atlet: Polemik Dana Hibah KONI Blitar dan Kesejahteraan Olahraga

Awal Perjalanan Akademik: PKKMB STKIP Muhammadiyah Lumajang 2026 Sambut 70 Mahasiswa dengan Semangat Berprestasi

12 Sep 2026 - 09:44 WIB

Awal Perjalanan Akademik: PKKMB STKIP Muhammadiyah Lumajang 2026 Sambut 70 Mahasiswa dengan Semangat Berprestasi

Luka Lama Gunung Bancak: Jejak Bara di Hutan Rakyat Magetan yang Terbakar Lagi

12 Sep 2026 - 06:12 WIB

Luka Lama Gunung Bancak: Jejak Bara di Hutan Rakyat Magetan yang Terbakar Lagi

Jalur Jombang-Mojokerto dan Harga Sebuah Kelelahan: Refleksi Tragedi Malam

12 Sep 2026 - 06:11 WIB

Jalur Jombang-Mojokerto dan Harga Sebuah Kelelahan: Refleksi Tragedi Malam
Trending di Pendidikan