KlikMojok – Malam itu, Jumat, 11 September 2026, jarum jam menunjuk pukul 23.30 WIB, ketika ketenangan ruas Tol Jombang-Mojokerto (Jomo) KM 687+200 jalur B tiba-tiba terkoyak oleh sebuah tragedi. Sebuah Toyota Hiace, yang melaju dari Surabaya menuju Surakarta, terlibat dalam kecelakaan maut yang merenggut empat nyawa dan melukai tujuh penumpang lainnya. Insiden ini bukan sekadar deretan angka statistik; ia adalah pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan harga yang harus dibayar mahal atas kelalaian di balik kemudi.
Kendaraan Toyota Hiace dengan nomor polisi L-7178-AH, dikemudikan oleh Eko Budianto Setiawan (38), warga Ranca Tales, Taktakan, Kota Serang, Banten, diduga menjadi pemicu malapetaka ini. Eko sendiri mengalami luka ringan dalam peristiwa tersebut, namun empat nyawa tak terselamatkan. Mereka adalah Kukuh Bimbing (22) dari Karanganyar, Dwi Raharjanto (49) dari Klaten, Tendi Anggoro (28) dari Wonogiri, dan Prawoto (55) dari Grogol, Sukoharjo. Keempatnya berasal dari Jawa Tengah, mungkin dalam perjalanan pulang atau menuju suatu tujuan yang tak pernah tercapai.
Selain empat korban meninggal dunia, tujuh penumpang Hiace lainnya juga mengalami luka ringan. Mereka adalah Yudha (26) dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur; Lidia Yustika (28) dari Surabaya; Edi Mursito (55) dari Sukoharjo; Ismaya Salindri (35) dari Surakarta; Ghofur Y Saputra (37) dari Malang; dan Sunarto (46) dari Palu, Sulawesi Tengah. Daftar nama dan asal daerah ini menggambarkan keragaman latar belakang para korban, yang semuanya terhubung dalam satu perjalanan yang nahas.
Kecelakaan ini melibatkan Hiace yang menabrak truk bermuatan gipsun bernomor polisi R-8187-OT. Truk tersebut dikemudikan oleh Muhar (55), warga Desa Arnan, Purbalingga, yang dilaporkan dalam kondisi sehat. Muhar juga ditemani seorang penumpang, Arif Purwanto (16), yang tidak mengalami luka sedikit pun. Kontras antara kondisi pengemudi Hiace dan truk menjadi sorotan utama dalam insiden ini.
Kanit PJR (Patroli Jalan Raya) Ditlantas Polda Jatim, AKP Sudirman, menjelaskan kronologi kejadian yang memilukan ini. “Semula kendaraan Toyota Hiace Nopol: H-7497-OQ berjalan dari Surabaya menuju Surakarta. Sesampai di Km 687+200 jalur B Ruas Tol Jomo, diduga pengemudi mengantuk sehingga oleng ke kiri menabrak bak kendaraan Truck bermuatan gipsun Nopol R-8187-OT yang berada di depannya,” terang Sudirman. Sebuah pengakuan pahit tentang bahaya kantuk yang merenggut nyawa di jalan raya.
Setelah tabrakan, posisi akhir Toyota Hiace ditemukan di lajur cepat menghadap ke barat, sementara truk berada di lajur lambat dengan arah yang sama. Polisi juga mencatat bahwa arus lalu lintas saat itu lancar dan cuaca cerah, menunjukkan bahwa faktor eksternal bukan penyebab utama. Kerugian material akibat kecelakaan ini diperkirakan mencapai sekitar Rp300 juta untuk kerusakan kendaraan, belum termasuk perhitungan fasilitas tol.
Tragedi di Tol Jombang-Mojokerto ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap pengguna jalan, khususnya para pengemudi. AKP Sudirman tak henti-hentinya mengimbau agar para pengendara senantiasa menjaga kondisi fisik sebelum memulai perjalanan, terutama untuk jarak jauh. Pesan ini bukan sekadar formalitas, melainkan seruan untuk kesadaran kolektif: beristirahatlah jika lelah atau mengantuk. Sebab, di balik kemudi, bukan hanya nyawa sendiri yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa orang lain yang berbagi jalan. Sebuah jeda singkat untuk istirahat bisa menjadi perbedaan antara tiba di tujuan dengan selamat atau berakhir dalam duka yang tak terhingga.












