KlikMojok – Malam itu, Sabtu (12/9/2026), bukan hanya gelap yang menyelimuti Petak 18D di kawasan Batalion 514/SY, Desa Curapoh, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso. Aroma pinus terbakar dan kepulan asap tebal menjadi saksi bisu perjuangan tim gabungan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Bondowoso yang melahap sebagian area tersebut. Api, yang pertama kali terdeteksi sekitar pukul 14.25 WIB, baru bisa ditaklukkan setelah lebih dari sembilan jam, meninggalkan jejak hangus di lahan seluas 0,35 hektare.
Peristiwa ini menggarisbawahi kompleksitas penanganan karhutla, terutama di wilayah dengan vegetasi yang mudah terbakar. Kristianto Putro Prasojo, Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, menjelaskan bahwa laporan awal mengenai kebakaran diterima sekitar pukul 15.10 WIB melalui grup WhatsApp. Tanpa menunda, tim reaksi cepat segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal. “Setelah menerima laporan, tim BPBD Kabupaten Bondowoso bergerak menuju lokasi,” kata Kris, Minggu (13/9/2026) pagi, menggambarkan respons sigap yang diberikan.
Area yang terbakar, meskipun hanya sekitar 0,35 hektare dari total luas baku 17,45 hektare di Petak 18D, memiliki dampak ekologis yang signifikan. Proses pemadaman berlangsung dramatis dan melelahkan, melibatkan sinergi dari berbagai pihak. BPBD Bondowoso, Damkar Bondowoso, TNI Batalion 514/SY, Perhutani BKPH Bondowoso, Pemerintah Kecamatan Curahdami, Agen Provinsi Jawa Timur, serta masyarakat setempat bahu-membahu menggunakan sprayer dan satu unit truk tangki air untuk memadamkan api yang terus berkobar.
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi tim gabungan adalah kondisi vegetasi di lokasi. Kawasan tersebut didominasi oleh pohon pinus yang, ironisnya, juga menjadi faktor pemicu meluasnya kobaran api. “Banyaknya pohon pinus dan getahnya membuat api semakin membesar dan sulit dipadamkan,” ujar Kristianto. Getah pinus yang sangat mudah terbakar dan panas tinggi yang dihasilkan membuat api sulit dikendalikan, memperpanjang durasi pemadaman hingga pukul 23.55 WIB.
Beruntung, dalam insiden ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, penyebab kebakaran yang diduga kuat akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab ini menyisakan pekerjaan rumah besar. Selain upaya pemadaman, Pusdalops BPBD bersama Agen Jatim juga melakukan asesmen komprehensif untuk memahami kondisi pasca-kebakaran dan potensi risiko di masa depan.
Peristiwa karhutla Bondowoso ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan ekosistem kita di hadapan kelalaian manusia. Lebih dari sekadar upaya pemadaman yang heroik, insiden ini adalah panggilan untuk edukasi berkelanjutan, kesadaran kolektif, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga paru-paru bumi. Api mungkin telah padam, namun pelajaran tentang pentingnya pencegahan dan pelestarian alam harus terus menyala dalam benak setiap individu, demi masa depan yang tidak lagi diwarnai oleh kepulan asap kebakaran.












