KlikMojok – Pada Jumat (30/10/2026), ratusan murid dari kelas I hingga VI SD Al Islam Cerme, Gresik, menunjukkan fokus dan antusiasme tinggi saat berpartisipasi dalam International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2026. Ajang kompetisi sains ini diselenggarakan untuk menguji kemampuan logika dan mengasah nalar kritis para peserta.
Dengan serius dan penuh semangat, mereka memusatkan perhatian pada setiap lembar soal yang ada di hadapan mereka, menandakan keseriusan dalam mengikuti ajang bergengsi ini.
Kompetisi sains tingkat internasional ini, International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2026, merupakan inisiatif dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang rutin menyelenggarakan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan.
IKSC 2026 bukan sekadar platform untuk menunjukkan keunggulan akademis semata. Lebih jauh lagi, kompetisi ini secara khusus didesain untuk mempertajam daya nalar kritis dan kemampuan berpikir logis, sekaligus menumbuhkan minat serta rasa ingin tahu ilmiah pada anak-anak sejak usia dini.
Salah satu aspek menarik dari IKSC 2026 adalah penerapan kebijakan biaya pendaftaran dengan sistem ‘seikhlasnya’. Kebijakan ini secara signifikan memperluas akses, memungkinkan semua murid dari berbagai latar belakang untuk berkesempatan merasakan pengalaman berkompetisi di kancah global.
Berbeda dengan format ujian sekolah konvensional, IKSC 2026 menghadirkan soal-soal dalam format dwibahasa atau bilingual, yaitu menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya memberikan nuansa baru, tetapi juga menjadi tantangan mental tersendiri bagi setiap peserta.
Beberapa murid, khususnya yang baru pertama kali menghadapi soal dengan format demikian, sempat mengalami kebingungan akibat teks dwibahasa tersebut.
Najwan Abidzar, seorang murid dari kelas VI-B, adalah salah satu di antaranya. Didorong oleh rasa penasaran dan kesulitan dalam memahami teks, ia bahkan tidak ragu untuk menghampiri meja guru di tengah berlangsungnya sesi ujian.
“Bu, ini apa? Aku nggak tahu artinya,” tanya Idzar dengan raut wajah yang menunjukkan kebingungan.
Meskipun terjemahan dalam bahasa Indonesia telah disediakan persis di bawah teks bahasa Inggris, sebagian murid tetap memerlukan waktu penyesuaian ekstra untuk dapat sepenuhnya memahami logika yang terkandung dalam setiap soal.
Kiani Talita Rumi, juga dari kelas VI-B, mengungkapkan hal serupa. Ia mengakui merasa sangat tertantang dengan tingkat kesulitan soal yang disajikan dalam kompetisi ini.
“Saya merasa soalnya sangat sulit karena memang soal yang ada jarang saya temui,” ujar Kiani, seraya memperkirakan bahwa tingkat kesulitan soal tersebut mencapai angka 90 persen.
Meskipun dihadapkan pada soal-soal analitis yang kompleks dan format dwibahasa yang menantang, para murid SD Al Islam Cerme tetap menunjukkan ketekunan serta semangat yang tinggi.
Mereka mengerahkan seluruh kemampuan terbaik yang dimiliki dan tetap fokus penuh dalam mengerjakan setiap soal hingga bel tanda istirahat akhirnya berbunyi.
Koordinator Kesiswaan SD Al Islam Cerme, Shofiyatul Rohmah, S.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat juang dan ketangguhan yang ditunjukkan oleh para murid dalam menghadapi tantangan kompetisi internasional semacam ini.
Shofiyatul Rohmah berharap bahwa keikutsertaan dalam IKSC 2026 akan membawa dampak positif jangka panjang bagi perkembangan mental belajar anak-anak di sekolah tersebut.
“Melalui ajang ini, kami berharap dapat menumbuhkan generasi bermental juara yang mandiri, pantang menyerah, dan siap bersaing di tingkat global,” ungkap Shofiyatul Rohmah, menegaskan visi sekolah.
Dengan memberikan pengalaman berkompetisi yang menantang sekaligus menyenangkan ini, SD Al Islam Cerme secara konsisten menunjukkan komitmennya yang kuat dalam mencetak generasi penerus yang cerdas dan berwawasan luas.
Sekolah ini tidak hanya berfokus pada penguasaan teori semata, melainkan juga secara aktif mendorong pengembangan nalar kritis para murid agar mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan kompleks di masa depan.












