KlikMojok – Pada Kamis, 20 Agustus 2026, ketika mentari pagi musim kemarau mulai menyapa dari balik Selat Madura, suasana tenang dan damai menyelimuti sudut utara Kota Pahlawan. Di tengah hiruk pikuk Surabaya, sebuah praktik pembiasaan salat Dhuha berjemaah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bulak Rukem I Surabaya menjadi fondasi penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter luhur bagi para siswa.
Halaman SDN Bulak Rukem I Surabaya seolah menjadi saksi bisu di mana waktu bergerak lebih perlahan. Lingkungan sekolah ini sengaja menciptakan ruang bagi jiwa-jiwa muda untuk merasakan ketenangan spiritual sebelum mereka menyelami dunia angka dan logika dalam pembelajaran di kelas.

Pagi itu, para siswa tidak langsung memulai kegiatan belajar-mengajar dengan suara derit kapur tulis atau ketukan jari di meja. Setelah lantunan doa-doa klasikal terdengar serentak dari setiap ruang kelas, suara bariton yang menenangkan dari Ustaz Masbuchin memecah keheningan melalui pengeras suara. Dengan nada yang akrab namun berwibawa, Ustaz Masbuchin memanggil nama-nama siswa yang telah dijadwalkan untuk mengikuti kegiatan pagi tersebut.
Langkah-langkah kaki kecil para siswa berseragam putih-merah berduyun-duyun menuju lapangan sekolah. Satu per satu, tangan-tangan mungil mereka membentangkan sajadah dengan aneka warna, menutupi permukaan lapangan semen yang mulai terasa hangat oleh sengatan sinar fajar.
Bagi anak-anak di SDN Bulak Rukem I Surabaya, pelaksanaan salat Dhuha berjemaah lebih dari sekadar membentuk barisan saf yang rapi atau melakukan gerakan rukuk dan sujud secara sinkron. Di balik hamparan kain sajadah tempat dahi mereka bersentuhan dengan bumi, sekolah secara mendalam menanamkan nilai-nilai kehidupan esensial: kedisiplinan yang terus diasah, kemandirian yang menguatkan, serta ketundukan hati kepada Sang Pencipta sejak usia dini.
Setelah salam terakhir salat Dhuha bergema, suasana hangat dan khidmat langsung tercipta. Masbuchin, seorang Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Bulak Rukem I Surabaya, kemudian memberikan tausiah singkat di hadapan barisan jemaah anak-anak. Beliau menjelaskan makna mendalam yang terkandung di balik lantunan Surah Ad-Duha yang baru saja mereka baca secara bersama-sama.
Dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak, Masbuchin menuturkan, “Surah Ad-Duha ini adalah pesan cinta Allah yang mengingatkan kita bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berjuang di jalan kebaikan.”
Beliau lalu melanjutkan penjelasannya dengan mengutip ayat dari Surah Asy-Syarh, yaitu Inna ma’al ‘usri yusra, s esungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Melalui untaian ayat suci tersebut, Masbuchin secara cerdas menyelipkan motivasi penting bagi para siswa untuk menjalani kehidupan dan proses belajar mereka.
Masbuchin menekankan bahwa setiap kesulitan yang dihadapi dalam menuntut ilmu, mulai dari bangun pagi, belajar disiplin, hingga menghadapi ujian sekolah di kemudian hari, pasti akan membuahkan kemudahan dan kesuksesan. Hal ini dapat terwujud, tentu saja, jika para siswa menghadapinya dengan kesabaran, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta doa.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya dilatih beribadah, tetapi juga memahat tanggung jawab bersama. Mereka belajar hadir tepat waktu, menahan diri untuk menjaga kekhusyukan, dan menanamkan mental pantang menyerah dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Masbuchin.
Di bawah langit Surabaya yang perlahan membiru, pembiasaan salat Dhuha yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis ini telah menjelma menjadi sebuah oase spiritual yang menenangkan. Sekolah secara aktif menjalankan upaya batiniah ini dengan tujuan utama membentuk karakter murid yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter mulia, tangguh, dan kokoh secara spiritual.
Ketika doa bersama telah selesai dipanjatkan, anak-anak kembali menuju kelas mereka dengan binar mata yang berbeda, memancarkan semangat baru. Setiap langkah kecil itu membawa bekal terbaik untuk mengarungi hari-hari mereka: secercah kedisiplinan, keteguhan hati dalam menghadapi berbagai kesulitan, serta sekantong ketenangan batin yang mereka peroleh langsung dari momen sakral di atas sajadah pagi.













